Editor
KOMPAS.com - Pola asuh anak dalam Islam tidak hanya berfokus pada pendidikan pengetahuan, tetapi juga pembentukan spiritual sejak dini.
Pendidikan spiritual menjadi salah satu landasan penting untuk membentuk generasi beriman di tengah tantangan materialisme dan krisis moral.
Baca juga: Doa Nabi Ibrahim dalam Alquran: Memohon Keturunan Saleh hingga Keamanan Negeri
Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, menjelaskan pentingnya pendidikan spiritual dalam pola asuh anak.
Menurut Dr. Aang, orang tua dapat meneladani pola pendidikan keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang berorientasi pada ketaatan kepada Allah dan kehidupan akhirat.
Allah berfirman:
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keteladanan Nabi Ibrahim berangkat dari ketaatan spiritual. Pendidikan keluarga yang dibangunnya juga diarahkan untuk membentuk keturunan yang memiliki landasan iman.
Dalam kisah Nabi Ibrahim, pendidikan anak tidak berhenti pada pengajaran agama, tetapi juga diterapkan melalui sikap dan kebiasaan dalam kehidupan keluarga. Berikut lima pola asuh anak dalam Islam yang dapat diteladani orang tua dari keluarga Nabi Ibrahim.
Langkah pertama dalam pola asuh anak dalam Islam adalah menanamkan tauhid sejak dini. Nabi Ibrahim memberikan perhatian besar terhadap akidah keluarganya dan berusaha menjaga anak-anaknya agar tetap berada dalam ajaran agama.
Allah berfirman:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan Ibrahim mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: ‘Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Al-Baqarah: 132)
Rasulullah bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوَدَانِهِ أَوْ يُنصَرَانِهِ أَوْ يُمَحِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi..” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Hadis tersebut mempertegas besarnya peran orang tua dalam membentuk spiritualitas anak Muslim. Karena itu, pendidikan tauhid menjadi bagian penting dalam membangun dasar keimanan anak sejak dini.
Selain menanamkan tauhid, pola asuh anak dalam Islam juga menekankan pendidikan melalui keteladanan. Anak dapat menyerap nilai agama melalui perilaku nyata yang mereka lihat dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Allah berfirman:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
“Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya.” (QS. Ash-Shaffat: 103)
Keteladanan menjadi bagian penting dalam menanamkan nilai agama kepada anak. Rasulullah juga menegaskan hal ini melalui firman-Nya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Orang tua perlu terlebih dahulu menerapkan ibadah dan nilai agama secara konsisten sebelum meminta anak melakukan hal yang sama. Kebiasaan tersebut dapat membangun kepercayaan sekaligus menumbuhkan kecerdasan spiritual anak secara alami.
Pola asuh anak dalam Islam juga mengajarkan pentingnya komunikasi yang lembut antara orang tua dan anak. Nabi Ibrahim memberikan contoh dengan mengajak Nabi Ismail berdialog ketika menghadapi perintah yang sangat berat.
Allah berfirman:
نِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَ
“Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Nabi Ismail kemudian merespons perkataan ayahnya dengan penuh penghormatan:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
“Wahai ayahku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Terkait kelembutan hati ini, Rasulullah bersabda:
فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلا زَانَهُ وَلا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya” (HR. Abu Dawud, sanad: shahih).
Pendekatan komunikasi yang hangat dapat menjadi bagian dari pendidikan spiritual sekaligus membangun hubungan emosional yang sehat antara orang tua dan anak.
Selain mendidik dan memberikan teladan, orang tua perlu membiasakan diri mendoakan anak. Kesalehan anak tidak hanya bergantung pada usaha orang tua, tetapi juga membutuhkan pertolongan Allah.
Nabi Ibrahim selalu berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim: 40)
Dalam ayat lain, beliau juga memohon taufik-Nya:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk kepada-Mu dan jadikanlah dari keturunan kami umat yang tunduk kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah: 128)
Kekuatan doa orang tua ini dijamin langsung oleh sabda Rasulullah:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكٍّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga doa mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa kedua orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi” (HR. Abu Daud, hasan).
Pola asuh anak dalam Islam juga perlu mengajarkan nilai pengorbanan dan kesabaran. Nabi Ibrahim memberikan contoh melalui ujian berat yang dihadapinya dengan ketaatan kepada Allah.
Allah berfirman:
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaffat: 106)
Melalui berbagai ujian tersebut, Nabi Ibrahim menunjukkan ketaatan kepada Sang Pencipta.
وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى
“Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji.” (QS. An-Najm: 37)
Pendidikan spiritual tersebut mengajarkan pentingnya membentuk pribadi yang tangguh dan mampu menghadapi ujian. Rasulullah memuji ketangguhan mental seorang mukmin sejati:
عَجَبًا لِّأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)
Kisah Nabi Ibrahim memberikan contoh pola asuh anak dalam Islam melalui penanaman tauhid, keteladanan, komunikasi yang santun, doa, serta kesabaran.
Nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan pendidikan spiritual anak Muslim dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.