Editor
KOMPAS.com – Menjelang datangnya Ramadhan 1447 H, suasana religius mulai terasa di berbagai daerah.
Selain menyiapkan jadwal imsakiyah dan menu sahur, masyarakat juga ramai membicarakan satu tradisi yang sudah turun-temurun: mandi keramas sebelum puasa.
Di Pulau Jawa, tradisi ini dikenal dengan sebutan Padusan, yakni mandi di sumber mata air atau sungai sebagai simbol penyucian diri.
Di Sumatra Utara, masyarakat mengenal ritual Pangir dengan dedaunan wangi, sementara di Sumatra Barat ada tradisi Balimau menggunakan air bercampur jeruk nipis.
Baca juga: Niat Mandi Wajib Sebelum Ramadhan dan Tata Caranya Lengkap
Tradisi ini menjadi momen refleksi sekaligus tanda kesiapan menyambut bulan suci.
Lalu, apakah mandi sebelum Ramadhan itu wajib?
Secara hukum fikih, mandi menyambut Ramadhan bukan syarat sah puasa. Dalam Buku Panduan Ibadah Ramadhan karya Annisa Nurul Hasanah dijelaskan bahwa rukun puasa yang utama adalah niat di malam hari, bukan mandi terlebih dahulu .
Puasa tetap sah meskipun seseorang tidak mandi keramas sebelum Ramadhan, selama ia memenuhi syarat dan rukun puasa, terutama niat yang dilakukan sejak terbenam matahari hingga sebelum terbit fajar .
Mandi ini hukumnya sunnah, sebagai bentuk tazayyun (bersuci dan memperindah diri) dalam menyambut ibadah besar.
Namun, mandi menjadi wajib apabila seseorang dalam keadaan hadas besar, seperti:
Menariknya, dalam kitab tersebut juga dijelaskan bahwa jika seseorang belum mandi junub hingga waktu Subuh, puasanya tetap sah selama ia telah berniat di malam hari .
Agar bernilai ibadah, mandi sunnah menyambut Ramadhan dapat diawali dengan niat berikut:
Arab:
نَوَيْتُ أَدَاءَ السُّنَّةِ لِاسْتِقْبَالِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu ada’as sunnati li istiqbali syahri ramadhana lillahi ta’ala
Artinya:
“Aku berniat menjalankan mandi sunnah untuk menyambut bulan Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
Arab:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari fardhan lillaahi ta’ala
Artinya:
“Aku berniat mandi untuk menghilangkan hadas besar sebagai kewajiban karena Allah Ta’ala.”
Rasulullah SAW mengajarkan tata cara mandi yang tertib dan sempurna:
1. Membaca Basmalah dan niat ketika air pertama menyentuh kulit.
2. Mencuci kedua telapak tangan tiga kali.
3. Membersihkan kemaluan dan kotoran dengan tangan kiri.
4. Berwudhu seperti hendak shalat.
5. Menyiram kepala tiga kali hingga air merata ke pangkal rambut.
6. Mengguyur seluruh tubuh, dimulai dari sisi kanan lalu kiri.
Urutan ini berlaku untuk mandi wajib maupun mandi sunnah.
Walau mandi menjadi tradisi penting, yang paling krusial tetaplah niat puasa Ramadhan di malam hari. Dalam buku tersebut disebutkan lafaz niat puasa yang paling sempurna:
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi Ramadhāna hadzihis sanati lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Saya berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
Tanpa niat di malam hari, puasa tidak sah meskipun sudah sahur atau mandi sebelumnya .
Untuk mandi sunnah menyambut Ramadhan, waktu yang dianjurkan adalah:
Dengan tubuh yang bersih dan hati yang siap, diharapkan ibadah Ramadhan 1447 H dapat dijalani dengan lebih khusyuk.
Baca juga: Niat Puasa Ramadhan: Bacaan Lengkap dan Hukum Apabila Lupa Melafalkannya
Tradisi seperti Padusan, Pangir, dan Balimau menunjukkan kekayaan budaya Islam Nusantara. Namun di atas semuanya, Ramadhan tetaplah tentang niat, ketakwaan, dan penyucian hati.
Sudah siap menyambut Ramadhan 2026 dengan hati yang bersih?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang