Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sebelum Adam Diciptakan, Mengapa Malaikat Tahu Manusia Akan Merusak?

Kompas.com, 9 Juni 2026, 16:02 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Salah satu dialog paling menarik dalam Al-Qur'an terjadi jauh sebelum manusia pertama diciptakan.

Dialog itu berlangsung antara Allah SWT dan para malaikat ketika Allah mengabarkan rencana-Nya untuk menjadikan seorang khalifah di bumi.

Saat itu belum ada Nabi Adam AS. Belum ada manusia, peradaban, peperangan, atau sejarah panjang yang kini memenuhi lembaran kehidupan bumi.

Namun ketika mendengar kabar tentang penciptaan makhluk baru bernama manusia, para malaikat justru mengajukan sebuah pertanyaan yang mengundang rasa penasaran.

Mereka bertanya mengapa Allah hendak menciptakan makhluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi.

Pertanyaan ini kemudian menjadi salah satu pembahasan penting dalam kitab-kitab tafsir klasik maupun kontemporer. Para ulama berusaha menjelaskan dari mana para malaikat mengetahui sesuatu yang bahkan belum terjadi.

Apakah mereka melihat masa depan? Apakah Allah memberitahu mereka? Ataukah ada pengalaman sebelumnya yang membuat mereka sampai pada kesimpulan tersebut?

Dialog Agung Sebelum Penciptaan Manusia

Kisah itu diabadikan Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.' Mereka berkata, 'Apakah Engkau hendak menjadikan di sana makhluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?' Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'"

Ayat ini menjadi titik awal pembicaraan tentang hakikat manusia, tugas kekhalifahan, serta hikmah besar di balik penciptaan Adam AS.

Dalam tafsirnya, Imam Abu Ja'far Ath-Thabari menjelaskan bahwa kata khalifah mengandung makna generasi yang saling menggantikan satu sama lain di muka bumi.

Manusia diberi amanah untuk mengelola kehidupan, memakmurkan bumi, dan menjalankan perintah Allah.

Namun sebelum amanah besar itu diberikan, muncul pertanyaan dari para malaikat yang hingga kini masih sering dibahas oleh para ulama.

Baca juga: 6 Peristiwa Besar Bulan Muharram, dari Nabi Adam hingga Tragedi Karbala

Apakah Malaikat Sedang Membantah Allah?

Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa malaikat sampai mempertanyakan keputusan Allah?

Padahal Al-Qur'an menjelaskan bahwa malaikat adalah makhluk yang selalu taat dan tidak pernah membangkang.

Para mufasir menegaskan bahwa pertanyaan malaikat bukanlah bentuk penolakan, apalagi pembangkangan terhadap kehendak Allah.

Dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa para malaikat bertanya untuk mengetahui hikmah di balik penciptaan manusia.

Mereka ingin memahami tujuan penciptaan makhluk yang memiliki potensi melakukan kerusakan, bukan sedang memprotes keputusan Allah.

Karena itu, para malaikat tetap menunjukkan adab yang tinggi kepada Allah SWT. Mereka tidak berkata bahwa penciptaan manusia adalah kesalahan, melainkan meminta penjelasan atas hikmah yang belum mereka ketahui.

Dari Mana Malaikat Mengetahui Manusia Akan Berbuat Kerusakan?

Inilah pertanyaan yang paling sering diajukan.

Para ulama tafsir menyampaikan beberapa pendapat yang berbeda.

1. Berdasarkan Pengalaman terhadap Bangsa Jin

Pendapat yang paling banyak disebut dalam kitab-kitab tafsir berasal dari riwayat para sahabat dan tabi'in. Sebelum manusia diciptakan, bumi telah dihuni oleh bangsa jin.

Menurut riwayat yang dinukil Ibnu Katsir dari Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar, para jin telah mendiami bumi jauh sebelum penciptaan Adam. Mereka saling berperang, membuat kerusakan, dan menumpahkan darah.

Dalam kitab Qashash Al-Anbiya' karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah kemudian mengutus pasukan malaikat untuk mengalahkan kelompok jin yang berbuat kerusakan dan mengusir mereka ke berbagai wilayah terpencil.

Karena pernah menyaksikan kejadian tersebut, para malaikat menduga bahwa makhluk baru yang akan menghuni bumi kemungkinan memiliki perilaku serupa.

2. Allah Memberikan Pengetahuan kepada Malaikat

Sebagian ulama berpendapat bahwa para malaikat mengetahui hal tersebut karena Allah sendiri mengajarkan atau mengisyaratkannya kepada mereka.

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menjelaskan bahwa tidak mustahil Allah memberikan sebagian informasi kepada malaikat mengenai sifat dasar manusia yang memiliki kehendak bebas.

Berbeda dengan malaikat yang selalu taat, manusia memiliki kemampuan memilih antara kebaikan dan keburukan. Dari sinilah muncul kemungkinan terjadinya dosa, konflik, dan pertumpahan darah.

3. Melihat Catatan di Lauhul Mahfuzh

Pendapat lain menyebutkan bahwa para malaikat mengetahui hal tersebut melalui informasi yang tertulis dalam Lauhul Mahfuzh.

Dalam sejumlah riwayat tafsir klasik disebutkan bahwa segala ketentuan Allah telah tercatat sejak awal penciptaan.

Sebagian ulama berpendapat bahwa malaikat mengetahui sebagian informasi itu sehingga memahami apa yang akan terjadi pada keturunan Adam.

Meski demikian, pendapat ini tidak menjadi kesepakatan seluruh ulama dan lebih banyak disebut sebagai salah satu kemungkinan penjelasan.

4. Menilai dari Unsur Penciptaan Manusia

Ada pula ulama yang menjelaskan bahwa para malaikat menyimpulkan hal tersebut dari karakter makhluk yang diciptakan dari unsur bumi.

Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an menyebutkan bahwa sebagian mufasir memahami pertanyaan malaikat sebagai hasil pengamatan terhadap karakter makhluk yang memiliki dorongan syahwat dan kehendak bebas.

Manusia diciptakan dari tanah, memiliki kebutuhan biologis, keinginan, emosi, dan ambisi. Potensi-potensi itulah yang dapat mendorong manusia kepada kebaikan maupun keburukan.

Baca juga: Benarkah Malaikat Sudah Berhaji 2.000 Tahun Sebelum Nabi Adam Diciptakan?

Mengapa Allah Tetap Menciptakan Manusia?

Jika manusia memiliki potensi berbuat kerusakan, mengapa Allah tetap menciptakannya?

Jawabannya terdapat dalam firman Allah:

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Kalimat singkat ini menyimpan makna yang sangat dalam.

Menurut Ibnu Katsir, Allah mengetahui bahwa dari keturunan Adam akan lahir para nabi, rasul, orang-orang saleh, syuhada, ulama, dan hamba-hamba pilihan yang mengabdikan hidupnya untuk kebaikan.

Meskipun ada manusia yang melakukan kerusakan, ada pula manusia yang membangun peradaban, menyebarkan ilmu, menegakkan keadilan, dan mengajak kepada kebenaran.

Dalam kitab Tafsir As-Sa'di, Syekh Abdurrahman As-Sa'di menjelaskan bahwa hikmah besar penciptaan manusia jauh lebih luas daripada kerusakan yang mungkin mereka lakukan.

Allah menciptakan manusia untuk diuji, diberi kesempatan memilih, lalu mempertanggungjawabkan pilihannya di hadapan-Nya.

Kemuliaan Adam yang Tidak Dimiliki Malaikat

Setelah dialog tersebut, Allah menunjukkan salah satu kelebihan Adam yang belum diketahui para malaikat.

Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama berbagai benda dan pengetahuan yang tidak dimiliki malaikat.

Ketika para malaikat tidak mampu menjawab pertanyaan Allah tentang nama-nama tersebut, Adam mampu menjelaskannya.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan salah satu bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia.

Dalam buku Manusia dalam Perspektif Al-Qur'an karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa kelebihan utama manusia bukan terletak pada kekuatan fisik, melainkan kemampuan berpikir, belajar, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Karena itulah manusia layak memikul amanah sebagai khalifah di bumi.

Baca juga: Takut Suaranya Menyakiti Nabi, Tsabit bin Qais Menangis Memohon Ampun

Para Malaikat Tetap Menjadi Teladan dalam Ibadah

Meski Allah menciptakan manusia sebagai khalifah, Al-Qur'an tetap menggambarkan malaikat sebagai makhluk yang sangat mulia.

Mereka tidak pernah lelah beribadah, tidak pernah membangkang, dan selalu melaksanakan perintah Allah.

Dalam Surah Al-Anbiya ayat 20 disebutkan bahwa para malaikat bertasbih kepada Allah siang dan malam tanpa henti.

Karena itu, ketika para malaikat berkata:

"Sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu,"

Mereka sedang menjelaskan kondisi mereka sebagai makhluk yang selalu taat, bukan sedang menyombongkan diri.

Mereka ingin memahami hikmah penciptaan makhluk baru yang berbeda dari mereka.

Pelajaran Besar dari Kisah Ini

Dialog antara Allah dan para malaikat mengandung banyak pelajaran bagi manusia.

Pertama, manusia memiliki potensi melakukan kerusakan, tetapi juga memiliki kemampuan melakukan kebaikan yang luar biasa.

Kedua, ilmu merupakan salah satu kemuliaan terbesar yang diberikan Allah kepada manusia.

Ketiga, tidak semua hikmah Allah dapat langsung dipahami makhluk-Nya.

Keempat, amanah sebagai khalifah bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab besar untuk menjaga bumi dan menebarkan kemaslahatan.

Kisah ini juga mengingatkan bahwa sejak awal penciptaannya, manusia telah diberi kepercayaan besar oleh Allah SWT.

Meski memiliki kelemahan dan kecenderungan melakukan kesalahan, manusia juga dibekali akal, ilmu, dan petunjuk agar mampu memilih jalan kebaikan.

Karena itulah, jawaban Allah kepada para malaikat tetap relevan hingga hari ini:

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Sebuah pengingat bahwa di balik setiap ketetapan Allah selalu ada hikmah yang mungkin belum sepenuhnya mampu dipahami oleh manusia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Guru Besar UGM Desak MUI Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik di Pengadilan
Guru Besar UGM Desak MUI Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik di Pengadilan
Aktual
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Aktual
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Aktual
Sejumlah Perkara yang Membuat Shalat Tidak Sah, Muslim Wajib Tahu
Sejumlah Perkara yang Membuat Shalat Tidak Sah, Muslim Wajib Tahu
Aktual
Bacaan Lafadz Adzan, Lengkap dengan Hukum, Dalil, dan Pahala Mengumandangkannya
Bacaan Lafadz Adzan, Lengkap dengan Hukum, Dalil, dan Pahala Mengumandangkannya
Aktual
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
Aktual
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Aktual
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
Aktual
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
Aktual
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
Aktual
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
Aktual
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
Aktual
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Aktual
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Aktual
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar