Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Membaca Gerak NU di Tanah Seribu Masjid: Dari Pesantren ke Ruang Digital

Kompas.com, 15 September 2025, 10:07 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Suasana khidmat berbalut optimisme menyelimuti Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram pada sore akhir pekan lalu, saat ratusan warga Nahdliyyin memenuhi ruangan untuk menyaksikan pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat (NTB) masa khidmat 2025–2030.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, hadir memberikan sambutan yang membekas.

Dengan suara tegas, ia menyebut NTB sebagai salah satu basis NU paling dinamis di luar Jawa.

Pernyataan ini mencerminkan realitas bahwa NU di NTB tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh menjadi salah satu pusat energi baru bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Sejarah NU di NTB tidak bisa dilepaskan dari peran pesantren dan ulama karismatik yang menanamkan nilai-nilai Islam ahlussunnah wal jemaah sejak awal abad ke-20.

Baca juga: Gus Yahya Sebut NTB Jadi Basis NU Dinamis, Gubernur Iqbal Titipkan Diri ke NU

Lombok dan Sumbawa memiliki jaringan pesantren yang berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, serta simpul sosial dan ekonomi masyarakat.

Nama-nama seperti TGH Lalu Turmudzi Badaruddin (Datok Bagu) sering disebut sebagai figur perekat.

Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menjaga tradisi lokal seperti tahlilan, maulidan, dan berbagai ritual keagamaan yang berpadu dengan budaya masyarakat.

Tradisi ini menjadikan NU di NTB terasa membumi dan dekat dengan masyarakat akar rumput.

Pesantren juga memainkan peran penting dalam menjawab kebutuhan zaman.

Banyak pondok pesantren kini membuka sekolah formal, perguruan tinggi, hingga rumah sakit.

Contoh nyata adalah Yayasan Qomarul Huda di Lombok Tengah yang mendapat hibah tanah dari Pemprov NTB untuk mendirikan rumah sakit.

Langkah ini menunjukkan bagaimana NU melalui pesantren bertransformasi menjadi motor pembangunan sosial.

Dinamika Baru

Jika akar tradisi menjadi fondasi, maka generasi muda NU adalah motor penggerak.

Di NTB, organisasi kaderisasi seperti IPNU, IPPNU, GP Ansor, Fatayat, hingga PMII terus melahirkan energi segar.

Mereka tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengangkat isu kontemporer seperti literasi digital, lingkungan hidup, dan pemberdayaan ekonomi.

Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas kader muda NU di NTB menonjol dalam bidang literasi dan perlawanan terhadap hoaks.

Di tengah banjir informasi, mereka hadir dengan kampanye literasi digital untuk menangkal radikalisme dan ujaran kebencian.

Haul Gus Dur yang digelar Milenial Bintang Sembilan di Mataram, misalnya, menjadi wadah aktualisasi kreatif kader muda.

Dari lomba literatif hingga diskusi pemikiran Gus Dur, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa NU NTB tidak kehilangan sentuhan intelektual dan sosial di kalangan muda.

Peran generasi ini sangat penting.

Tantangan Digitalisasi

Dengan mayoritas populasi NTB yang berusia produktif, NU memiliki modal demografis untuk melanjutkan tradisi sambil merespons perubahan zaman.

Tantangan digitalisasi, globalisasi, dan ancaman intoleransi menjadi bukti bahwa NU NTB berfungsi sebagai laboratorium yang dinamis.

NU di NTB tidak berdiri di ruang hampa.

Sejak lama, ia berperan dalam kehidupan sosial dan politik daerah.

Pesan “titip NU” yang disampaikan TGH Datok Bagu kepada Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menggambarkan eratnya relasi antara ulama, organisasi, dan pemerintahan.

Iqbal bahkan membalikkan pesan tersebut, menyatakan bahwa dirinya yang dititipkan kepada NU.

Pernyataan ini menyiratkan posisi NU sebagai penjaga moral sekaligus mitra pembangunan daerah.

Sejarah mencatat NU selalu menjadi benteng moderasi.

NU berada di garda depan menjaga ideologi Pancasila.

Bagi NTB yang plural, peran NU sangat vital dalam merawat harmoni antarumat, baik dalam internal Islam maupun dengan komunitas agama lain.

Keterlibatan NU dalam politik praktis tidak bisa dipungkiri, tetapi lebih dari itu, kiprahnya dalam mendukung kebijakan pembangunan, pendidikan, dan kesehatan menjadikannya mitra strategis pemerintah daerah.

Sinergi ini menegaskan bahwa NU bukan hanya organisasi keagamaan, melainkan juga rumah kebangsaan.

Namun, meski dinamis, NU NTB juga menghadapi tantangan serius.

Pertama, derasnya arus digitalisasi yang membawa banjir informasi dan potensi penyebaran hoaks.

NU perlu terus menguatkan literasi digital, terutama di kalangan santri dan kader muda.

Kedua, tantangan radikalisme yang masih menyisakan jejak di NTB.

NU harus tetap menjadi benteng moderasi beragama dengan pendekatan persuasif dan kultural.

Ketiga, kemandirian ekonomi.

Warga Nahdliyyin yang mayoritas berada di sektor menengah ke bawah membutuhkan strategi penguatan ekonomi.

Di sinilah pentingnya gerakan koperasi, UMKM, dan program pemberdayaan berbasis pesantren.

Beberapa pesantren di NTB sudah memulai usaha pertanian, peternakan, dan pendidikan vokasi.

NU juga perlu menyesuaikan diri dengan era disrupsi.

Dakwah yang selama ini berbasis mimbar dan majelis taklim kini dituntut hadir di ruang digital.

Inisiasi Konten Dakwah di Media Sosial

Generasi muda NU NTB telah menginisiasi konten dakwah di media sosial, meskipun tantangannya tetap besar: bagaimana menyajikan dakwah yang moderat, mencerahkan, dan menarik bagi generasi digital.

Ketika Gus Yahya menyebut NTB sebagai basis NU paling dinamis, pernyataan itu sejatinya adalah pengakuan sekaligus tantangan.

Dinamika NU NTB mencerminkan bagaimana organisasi ini dapat berkembang di luar Jawa.

Tradisi pesantren, kiprah generasi muda, sinergi sosial-politik, dan jawaban atas tantangan zaman semuanya berpadu dalam satu laboratorium sosial keagamaan.

Di masa depan, NU NTB dapat menjadi model tentang bagaimana tradisi tidak ditinggalkan, melainkan dirawat dan dikontekstualisasi;

model tentang bagaimana generasi muda menjadi agen perubahan, bukan sekadar pewaris;

serta model tentang bagaimana organisasi keagamaan dapat bersinergi dengan pemerintah tanpa kehilangan independensinya.

Baca juga: Profil Mochamad Irfan Yusuf, Cucu Pendiri NU yang Dilantik Jadi Menteri Haji dan Umrah Pertama

Harapan itu sudah dititipkan oleh banyak pihak, mulai dari ulama karismatik hingga pejabat pemerintah, dari pesantren hingga organisasi mahasiswa, semua melihat NU NTB sebagai ruang harapan baru.

Dengan niat memelihara umat, bangsa, agama, dan kampung halaman, NU NTB meneguhkan diri sebagai rumah kebangsaan yang terus hidup dan berdenyut.

NU di NTB adalah representasi kekuatan Islam Nusantara yang adaptif, mendidik melalui pesantren, memberdayakan melalui ekonomi umat, mencerahkan melalui literasi dan moderasi, serta menumbuhkan nasionalisme dengan menjaga Pancasila dan NKRI.

Dengan dinamika tersebut, NU NTB bukan hanya basis, melainkan cermin masa depan NU di Indonesia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar