Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menghidupkan Kembali Sejarah: Haji dan Umrah Melalui Jalur Laut

Kompas.com, 5 Oktober 2025, 08:49 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Berabad-abad lamanya, umat Muslim di Nusantara telah menunaikan ibadah haji dengan menempuh perjalanan panjang melalui laut.

Kapal layar, kapal uap, hingga kapal penumpang besar menjadi saksi bisu bagi ribuan orang yang berangkat dari pelabuhan-pelabuhan di Batavia, Surabaya, Palembang, dan Aceh menuju tanah suci.

Perjalanan ini tidak sekadar mobilitas fisik, tetapi juga pengalaman spiritual dan sosial yang mendalam.

Baca juga: Gus Irfan: Satu Persen Kebocoran Dana Haji Bisa Rugi Rp 200 Miliar

Di atas kapal, mereka berbagi doa, belajar kitab, menjalin persaudaraan lintas daerah, dan bahkan melahirkan jaringan ulama serta pedagang yang memperkuat ikatan dunia Islam di kawasan ini.

Perubahan Jalur Perjalanan: Dari Laut ke Udara

Seiring dengan perkembangan teknologi transportasi, perjalanan haji mulai beralih dari laut ke udara.

Pesawat terbang menawarkan kecepatan dan efisiensi yang lebih tinggi, sehingga perjalanan yang sebelumnya memakan waktu berbulan-bulan kini dapat ditempuh dalam hitungan jam.

Tentu saja, perubahan ini membawa manfaat besar bagi umat yang ingin menunaikan ibadah dengan lebih praktis.

Namun, di balik kecepatan tersebut, terdapat kerinduan akan dimensi kebersamaan dan kontemplasi yang hilang, yang dulunya menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan haji.

Kini, sejarah itu kembali menemukan gaungnya ketika Public Fund Saudi membuka peluang bagi umat Islam Indonesia untuk menapaktilasi jejak leluhur dengan berhaji dan umrah melalui jalur laut yang lebih aman dan nyaman.

CEO Islamic Cruise International, Suhaimi Abd Gafer, menjelaskan bahwa funding di bawah pengelolaan Pangeran Mohammed bin Salman ini telah menyiapkan kapal pesiar khusus untuk perjalanan umrah dan haji, dengan jaminan halal pada seluruh layanannya, salah satunya adalah Aroya Cruise.

"Kehadiran kapal jenis ini bukan sekadar berwisata, melainkan menghadirkan ruang ibadah, kebersamaan, dan pengalaman spiritual yang terjaga sepanjang perjalanan," ujar Suhaimi.

Peluang Strategis untuk Memperkuat Identitas

Abd Rahman Mohd Ali, Project Director Islamic Cruise International, menambahkan bahwa perjalanan haji atau umrah melalui jalur laut kini semakin menarik.

Rute yang ditawarkan mengingatkan kita pada jalur niaga dan penyebaran Islam di masa lampau.

Dimulai dari Port Klang, kapal akan singgah di Banda Aceh, Maldives, Oman, sebelum akhirnya tiba di Mekkah dan Jeddah.

Singgahan-singiang ini memberikan dimensi baru;

jemaah tidak hanya menuju tujuan akhir, tetapi juga menyerap nilai sejarah, budaya, dan keindahan ciptaan Tuhan sepanjang perjalanan.

"Banda Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, telah lama menjadi pintu keberangkatan jemaah haji dari Nusantara. Dengan kembali menjadi bagian dari rute ini, Banda Aceh memperoleh ruang simbolis yang penting, menegaskan kesinambungan sejarah peran Indonesia dalam dunia Islam," tambah Ali.

Di Oman, jemaah dapat menyaksikan arsitektur Islam yang menjadi saksi peradaban, sementara keindahan laut di Maldives memberikan kesempatan untuk kontemplasi tentang kebesaran Tuhan.

Dengan demikian, perjalanan ini bukan hanya soal sampai di tanah suci, tetapi juga tentang memperkaya pengalaman spiritual melalui interaksi dengan budaya dan alam.

Pengalaman Reflektif di Jalur Laut

Jalur laut menawarkan pengalaman alternatif bagi mereka yang menginginkan perjalanan lebih reflektif dan penuh makna.

Kehadiran rute ini juga menciptakan peluang ekonomi dan budaya.

Destinasi persinggahan bisa menjadi ruang interaksi, perdagangan, dan bahkan diplomasi budaya yang memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan pariwisata halal global.

Beberapa biro perjalanan yang menyediakan layanan haji dan umrah melalui jalur laut antara lain Cruise Mabi, Panorama JTB, Global Travelindo, TX Travel, Umroh.com, Prima Vijaya, Megatrans Universal, Golden Rama, Anta Vaya, Dwi Daya, dan Wita Tour.

Meskipun biaya perjalanan jalur laut mungkin lebih tinggi dibandingkan jalur udara—berkisar Rp58 juta per orang—dalam konteks spiritualitas, nilai perjalanan ini sering kali tidak dapat diukur hanya dengan angka.

Kepada mereka yang memilih perjalanan laut, kesempatan untuk beribadah, berdiskusi, dan membangun jejaring sosial dengan sesama penumpang menjadi lebih luas.

Dalam perspektif sosiologis, jalur laut berpotensi membangun kembali komunitas spiritual yang lebih solid, di mana ibadah tidak hanya dijalankan secara individual, melainkan juga dirayakan bersama dalam suasana kolektif.

Menyemai Makna Baru dalam Proses Ibadah

Kehadiran jalur laut untuk haji dan umrah menciptakan peluang baru bagi umat Islam Indonesia, mengingat bangsa ini memiliki tradisi panjang dalam perjalanan laut.

Menghidupkan kembali tradisi ini dapat memperkaya identitas spiritual bangsa sekaligus mengingatkan kita bahwa ibadah adalah tentang proses, bukan hanya tujuan.

Dengan pilihan jalur laut, setiap peserta ibadah haji memiliki kesempatan untuk menentukan cara terbaik mendekatkan diri kepada Tuhan, sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Perjalanan laut untuk haji dan umrah bukan sekadar mengulang sejarah, tetapi juga menyematkan makna baru dalam konteks zaman sekarang.

Baca juga: Kemenhaj Minta KPK Lakukan Asesmen SDM dan Awasi Layanan Haji

Ibadah adalah perjalanan lahir dan batin, di mana proses menuju tanah suci sama berharganya dengan saat tiba di sana.

Kehadiran jalur laut pun membuka kesempatan bagi umat Islam Indonesia untuk kembali merasakan denyut sejarah, sembari membuka lembaran baru yang memadukan spiritualitas, kebersamaan, dan modernitas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Tahajud, PBB, hingga Api Unggun: Cara MAN 2 Bandung Bentuk Karakter Murid Baru
Tahajud, PBB, hingga Api Unggun: Cara MAN 2 Bandung Bentuk Karakter Murid Baru
Aktual
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Doa dan Niat
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Aktual
Jadwal Pengajuan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II 2026, Total Rp 4,1 Triliun
Jadwal Pengajuan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II 2026, Total Rp 4,1 Triliun
Aktual
Al-Qanun Al-Asasi Kembali Disosialisasikan, Gus Kikin: Ini Ruh NU
Al-Qanun Al-Asasi Kembali Disosialisasikan, Gus Kikin: Ini Ruh NU
Aktual
Lulusan Fakultas Syariah dan Hukum 111 PTKI Disiapkan Jadi Advokat
Lulusan Fakultas Syariah dan Hukum 111 PTKI Disiapkan Jadi Advokat
Aktual
Madrasah Bisa Ajukan BOS via Digital, Kemenag Siapkan Rp 4,1 Triliun
Madrasah Bisa Ajukan BOS via Digital, Kemenag Siapkan Rp 4,1 Triliun
Aktual
Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan
Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan
Aktual
Anies Kenang Habib Saggaf Aljufri: Ilmu Tinggi, Hati Rendah, Permata Umat
Anies Kenang Habib Saggaf Aljufri: Ilmu Tinggi, Hati Rendah, Permata Umat
Aktual
Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Aktual
Kemenag Siapkan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun, Ini Jadwal Pengajuannya
Kemenag Siapkan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun, Ini Jadwal Pengajuannya
Aktual
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Aktual
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Aktual
Ma'ruf Amin Dorong NU Perkuat Umat dan Kemandirian Ekonomi
Ma'ruf Amin Dorong NU Perkuat Umat dan Kemandirian Ekonomi
Aktual
Buka Muktamar Tapak Suci XIV, Ahmad Luthfi Soroti Peran Pencak Silat dalam Membangun Karakter dan Persatuan
Buka Muktamar Tapak Suci XIV, Ahmad Luthfi Soroti Peran Pencak Silat dalam Membangun Karakter dan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar