Penulis
KOMPAS.com - Dewan Pimpinan Majelis Ulama (MUI) Indonesia menindaklanjuti surat dari Pengurus Besar Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (PB PORDI) pada 20 Juni 2025 lalu, terkait permohonan rekomendasi.
Hasil tindak lanjut tersebut, Dewan Pimpinan MUI memberikan keterangan bernomor Nomor: Ket-3753/DP-MUI/X/2025.
"(Pertama) Pada dasarnya domino adalah permainan yang menggunakan kartu sebagai sarana hiburan," kata Dewan Pimpinan MUI, KH Cholil Nafis, saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (23/10/2025).
Baca juga: Ketua MUI KH Cholil Nafis: Santri Harus Jadi Penggerak Persatuan dan Peradaban Dunia
Selain itu, sebenarnya permainan ini dapat menjadi sarana mempererat ikatan silaturahmi di masyarakat.
Oleh karena itu, pada dasarnya diperbolehkan bermain domino untuk hiburan dan mengisi kesenggangan, bahkan untuk mempererat pertemanan dengan ketentuan tidak menyia-nyiakan waktu, tidak mengandung unsur perjudian (Maysir), tidak meminum miras (Iskar), penyalahgunaan NAPZA, dan tidak melalaikan kewajiban syariat.
"Jika terdapat praktik yang bertentangan dengan syariat sebagaimana pedoman tadi, maka tidak diperbolehkan dilakukannya permainan domino," jelas KH Cholil Nafis.
Baca juga: Fatwa MUI: Dana Zakat, Infak, dan Sedekah Kini Bisa untuk Iuran BPJS Ketenagakerjaan
Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa jika dapat memenuhi pedoman-pedoman tersebut, maka PB PORDI dapat didukung bersama untuk tujuan kebaikan dan kemasyarakatan yang baik.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.