Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenag Bentuk Satgas untuk Kembangkan Pesantren Ramah Anak

Kompas.com, 26 Oktober 2025, 11:46 WIB
Khairina

Penulis

KOMPAS.com-Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan komitmennya dalam mengembangkan pesantren ramah anak di Indonesia.

Menurutnya, setiap lembaga pendidikan, termasuk sekolah, madrasah, dan pesantren, harus menjadi ruang yang aman, ramah, dan bebas dari kekerasan terhadap anak.

“Kita serius dengan pengembangan pesantren ramah anak. Karena itu, kita bentuk Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan,” ujar Menag di Jakarta, Minggu (26/10/2025), dalam rilis yang diterima KOMPAS.com.

Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Apresiasi Presiden Prabowo atas Dukungan terhadap Dunia Pesantren

Perkuat Regulasi Pencegahan Kekerasan

Kementerian Agama telah memperkuat payung hukum untuk pencegahan kekerasan melalui sejumlah regulasi.

Regulasi terbaru, KMA Nomor 91 Tahun 2025, menjadi dasar pelaksanaan perlindungan anak di lingkungan pendidikan keagamaan.

Sebelumnya, telah terbit Peraturan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Satuan Pendidikan Kemenag, serta Keputusan Menteri Agama Nomor 83 Tahun 2023 tentang Pedoman Penanganan Kekerasan Seksual di lingkungan pendidikan.

Selain itu, Dirjen Pendidikan Islam juga mengeluarkan Keputusan Nomor 4836 Tahun 2022 tentang Panduan Pendidikan Pesantren Ramah Anak dan Keputusan Nomor 1262 Tahun 2024 tentang Pengasuhan Ramah Anak di Pesantren.

“Regulasi ini menjadi panduan bersama bagi seluruh ASN Kemenag dan para pemangku kepentingan untuk mempercepat langkah nyata dalam pencegahan kekerasan seksual,” tegas Menag.

Baca juga: Hari Santri 2025, Menag Dinobatkan sebagai “Bapak Eko-Teologi Indonesia”

Hasil Riset PPIM: 1 Persen Pesantren Masih Rentan Kekerasan

Riset terbaru Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan bahwa 1,06 persen dari 43.000 pesantren masih memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kekerasan seksual.

Penelitian tersebut dilakukan selama 2023–2024 terhadap 514 pesantren di berbagai wilayah Indonesia dan dipublikasikan dalam buku Menuju Pesantren Ramah Anak dan Menjaga Marwah Pesantren.

Menag menegaskan, temuan ini menjadi perhatian serius pemerintah dalam merumuskan kebijakan pencegahan kekerasan di pesantren.

“Kami juga mengajak 98,9 persen pesantren lainnya yang memiliki daya tahan tinggi untuk berbagi praktik baik dalam upaya pencegahan kekerasan di lembaga pendidikan,” ujarnya.

Baca juga: Menag Gagas Lembaga Pemberdayaan Dana Umat, Potensi Dana Capai Rp 1.000 Triliun per Tahun

Sinergi Kemenag dan KemenPPPA

Kementerian Agama juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).

Sinergi ini bertujuan memperkuat perlindungan anak di satuan pendidikan keagamaan, terutama yang terintegrasi dengan asrama.

Menag menjelaskan, kerja sama dilakukan pada tiga aspek utama, yaitu mempromosikan hak-hak anak, mencegah kekerasan melalui pola pengasuhan yang positif, dan merespons kasus kekerasan baik fisik, psikis, maupun seksual.

“Langkah-langkah strategis sudah kami susun dalam peta jalan pengembangan pesantren ramah anak. Insya Allah langkah ini akan semakin efektif dan berkelanjutan,” kata Menag.

Ia juga menegaskan bahwa upaya ini melibatkan berbagai pihak, termasuk ulama perempuan, gus dan ning pesantren, aktivis perempuan dan anak, serta lembaga sosial masyarakat.

Langkah Konkret Kemenag

Dirjen Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menjelaskan bahwa Kemenag telah melakukan sejumlah langkah praktis untuk mencegah kekerasan di pesantren.

Pertama, Kemenag telah menetapkan 512 pesantren sebagai pilot project Pesantren Ramah Anak melalui SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 1541 Tahun 2025.

Kedua, pelaporan kasus kekerasan kini bisa dilakukan secara digital melalui Telepontren, layanan pengaduan berbasis WhatsApp di nomor resmi 0822-2666-1854.

“Pesantren juga kami dorong untuk membuat sistem pelaporan online yang aman dan anonim, terhubung langsung dengan Kemenag, KPAI, dan Komnas Perempuan,” jelas Suyitno.

Baca juga: Menag Tegaskan Pentingnya Standar Bangunan Pesantren Usai Insiden Al Khoziny

Dorong Partisipasi dan Kesadaran Pesantren

Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Ismail Cawidu, menambahkan bahwa Kemenag juga menggelar Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Pesantren Ramah Anak untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian di kalangan santri.

Selain itu, Kemenag mengadakan pembinaan melalui Sosialisasi Masa Ta’aruf Santri (Mata Santri) dan bekerja sama dengan Lakpesdam PBNU dalam Pelatihan Penanganan Kekerasan Seksual di 17 pesantren di berbagai provinsi.

“Kami melihat pihak pesantren sangat terbuka dan serius dalam pencegahan kekerasan. Mereka aktif berdiskusi dengan aktivis perempuan, ormas, dan kampus yang peduli terhadap isu ini,” kata Ismail.

Peta Jalan Pesantren Ramah Anak

Kemenag telah menetapkan tiga fase pengarusutamaan Pesantren Ramah Anak (PRA):

Fase Penguatan Dasar (2025–2026): sosialisasi kebijakan, peningkatan kapasitas SDM, pembentukan Satgas dan gugus tugas PRA.

Fase Akselerasi (2027–2028): perluasan implementasi PRA di lebih banyak pesantren serta dukungan lintas sektor dan anggaran.

Fase Kemandirian (2029): integrasi sistem PRA dalam manajemen kelembagaan pesantren secara berkelanjutan.

Menag menegaskan, langkah-langkah ini merupakan bagian dari komitmen Kemenag untuk memastikan setiap pesantren di Indonesia menjadi tempat yang aman, ramah, dan bebas kekerasan bagi anak.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar