Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mamdani Wali Kota Muslim Pertama New York, Muhammadiyah: Barat Lihat Kapasitas, Bukan Agamanya

Kompas.com, 6 November 2025, 12:35 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Dalam momen bersejarah bagi politik Amerika Serikat, Zohran Kwame Mamdani, politisi muda berusia 34 tahun asal Queens, resmi terpilih sebagai Wali Kota New York City ke-111 pada Selasa malam (4/11/2025) waktu setempat.

Kemenangan ini menandai tonggak penting: Mamdani menjadi Muslim pertama yang memimpin kota terbesar di Amerika Serikat, sekaligus wali kota termuda dalam lebih dari satu abad yang menduduki jabatan eksekutif tersebut.

Sebagai calon dari Partai Demokrat dan seorang demokrat sosialis, Mamdani berhasil menumbangkan dua pesaing kuat: mantan Gubernur New York Andrew Cuomo yang maju sebagai calon independen, serta Curtis Sliwa dari Partai Republik.

Baca juga: PBNU dan Muhammadiyah Dukung Soeharto Jadi Pahlawan Nasional

Menurut laporan The New York Times, CNN, dan NBC News, Mamdani meraih 50,3 persen suara dari total 88 persen yang telah dihitung hingga tengah malam waktu New York.

Cuomo berada di posisi kedua dengan 41,6 persen, sedangkan Sliwa tertinggal jauh di angka 7,2 persen.

Kampanye Akar Rumput dan Dukungan Pemilih Muda

Lahir di Uganda dari keluarga imigran, Mamdani tumbuh besar di New York dan memulai karir politiknya sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York pada 2020. Kampanyenya berfokus pada isu-isu kelas pekerja, seperti pembekuan sewa, transportasi umum gratis, dan perawatan anak universal dengan pajak progresif bagi kalangan kaya.

Strategi kampanye digital yang inovatif dan gaya komunikasinya yang karismatik membuat Mamdani populer di kalangan pemilih muda.

Menurut jajak keluar NBC News, ia unggul hingga 43 poin di kelompok usia di bawah 45 tahun.

Partisipasi pemilih juga mencapai rekor tertinggi sejak 1969, dengan lebih dari dua juta suara masuk — melonjak 65 persen dibandingkan pemilihan 2021.

Kritik Konservatif dan Respons Mamdani

Meski meraih dukungan luas, Mamdani juga menjadi sasaran serangan dari media konservatif seperti New York Post yang menudingnya “terlalu radikal” dan “tidak berpengalaman”.

Bahkan mantan Presiden Donald Trump ikut menyerang melalui platform Truth Social, menyebut Mamdani “tidak mampu” dan mendesak pendukungnya memilih Cuomo.

Namun, dalam pidato kemenangannya di Brooklyn Paramount Theater, Mamdani tampil penuh semangat:

“Kalian telah berani meraih sesuatu yang lebih besar. Kita telah menumbangkan dinasti politik lama!” ujarnya di hadapan ribuan pendukung.

“Kita akan membangun kota yang bekerja untuk semua orang — bukan hanya untuk segelintir elite.”

Sambutan Dunia Islam: Inspirasi dari New York

Kemenangan Mamdani mendapat sambutan luas, termasuk dari Indonesia. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad menyebut kemenangan ini sebagai momentum positif bagi citra umat Islam di Barat.

“Sungguh menggembirakan. Saya ucapkan selamat bertugas, semoga sukses karena jika sukses membawa kemajuan akan mengubah citra Muslim, dan kepercayaan rakyat di seluruh AS untuk tidak ragu memilih Muslim sebagai pimpinan di berbagai level,” ujar Dadang dilansir dari Muhammadiyah.or.id, Rabu (5/11/2025).

Ia menilai kemenangan Mamdani menunjukkan masyarakat Barat bersifat fungsional, menilai individu dari kapasitas, bukan agamanya.

“Kelihatannya Barat bersifat fungsional, individu tersebut bisa meyakinkan pemilih untuk memilih dirinya tanpa melihat latar belakang agamanya, sekaligus memanfaatkan sentimen negatif masyarakat terhadap Presiden Trump dalam hal ini juga Partai Republik,” tambahnya.

Tantangan di Depan: Kota yang Inklusif

Zohran Mamdani akan resmi dilantik pada Januari 2026. Tantangan besar menantinya: krisis perumahan, keamanan publik, hingga kesenjangan ekonomi.

Baca juga: MUI Akan Bahas 6 Fatwa di Munas XI, Mulai dari Asuransi Syariah hingga Zakat Penghasilan

Namun, bagi banyak pihak, terutama umat Islam global, keberhasilan ini menjadi simbol harapan baru — bahwa visi inklusif, kerja keras, dan integritas bisa menembus sekat prasangka.

Seperti dikatakan Mamdani dalam kampanyenya:

“Ini bukan tentang siapa kita, tapi tentang apa yang bisa kita capai bersama."

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar