Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wasekjen PBNU Soroti Akar Banjir Bandang Tapanuli, Pemerintah Diminta Bekerja Paralel

Kompas.com, 10 Januari 2026, 14:45 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan bahwa penanganan banjir bandang di Sumatera, khususnya di wilayah Tapanuli, harus difokuskan pada penyelesaian akar persoalan, bukan semata penanganan darurat di hilir.

Kawasan Tapanuli diketahui memiliki hutan yang kaya sumber daya alam, termasuk tambang emas dan mineral lainnya, namun juga rentan terhadap kerusakan lingkungan.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Rahmat Hidayat Pulungan mengatakan, berdasarkan hasil survei lapangan ke kawasan hulu sungai pada Senin (5/1/2026), ditemukan sejumlah persoalan serius yang berkontribusi langsung terhadap terjadinya banjir bandang.

Baca juga: Usai Wirid, Korban Banjir Bandang Ikrarkan Sumpah Tapanuli

“Masalah utamanya ada di hulu sungai. Kami menemukan praktik illegal logging, aktivitas pertambangan, serta banyak kayu gelondongan hasil tebangan yang masih berserakan dan menyangkut di aliran sungai. Ini sangat berbahaya jika tidak segera dibersihkan,” ujar Rahmat kepada Kompas.com, Sabtu (10/1/2026).

Menurutnya, pemerintah perlu mengubah paradigma penanganan bencana yang selama ini cenderung reaktif.

Penanganan banjir bandang harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, dengan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama.

“Penyelesaian masalah banjir bandang tidak bisa parsial. Harus ada integrasi dari hulu ke hilir. Masyarakat harus diselamatkan, tetapi sumber masalahnya juga wajib dibereskan,” tegasnya.

Rahmat juga mengingatkan agar bencana tidak dijadikan proyek semata. Ia menekankan bahwa pembangunan hunian sementara (huntara) maupun rencana relokasi warga harus berbasis pada penelitian yang mendalam agar tepat lokasi dan tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

“Huntara dan relokasi harus melalui kajian ilmiah yang serius. Jangan sampai bencana ini justru dijadikan proyek, sementara risiko ekologis di wilayah baru tidak diperhitungkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rahmat mendorong pemerintah untuk bekerja secara paralel dengan membentuk dua tim yang bergerak bersamaan. Tim pertama fokus pada penyelesaian persoalan taktis di lapangan, seperti penanganan pengungsi, huntara, dan relokasi. Sementara tim kedua harus bekerja khusus di kawasan hulu sungai.

“Tim kedua ini penting untuk menyelesaikan masalah di hulu: illegal logging, penambangan, serta membersihkan kayu-kayu tumbang dan gelondongan yang berpotensi terbawa arus ke bawah. Jangan sampai itu turun lagi dan memicu banjir susulan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kawasan hulu sungai di Tapanuli bukan hanya penting secara ekologis, tetapi juga merupakan habitat satwa liar yang dilindungi. Dalam survei yang dilakukan, ditemukan jejak harimau Sumatera, yang menandakan kawasan tersebut memiliki nilai konservasi tinggi.

“Ini harus benar-benar diselesaikan dengan serius, karena di sana juga ada jejak harimau. Artinya, kerusakan lingkungan di kawasan itu tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga mengancam ekosistem dan satwa dilindungi,” pungkas Rahmat.

PBNU berharap pemerintah pusat dan daerah dapat bersinergi lintas sektor untuk menyelesaikan persoalan banjir bandang secara menyeluruh dan berkelanjutan, demi mencegah bencana serupa terulang di masa depan.

Baca juga: Wasekjen PBNU Gagas Taman Monumen Bencana Antropogenik di Tapanuli

Sebelumnya, Kepala Desa Tolang Julu, Fuad Arrazy Daulay, menjelaskan, banjir bandang yang menerjang wilayahnya mengakibatkan sekitar 55 rumah warga hilang.

Kini, warga yang rumahnya hancur masih berada di posko pengungsian yang dibuatnya bersama TNI dan Polri.

“Saat ini sedang pengerukan dan pembersihan dari hulu sampai hilir. Relokasi hampir oke dan rumahnya 87 rumah,” ujar Fuad.

Sementara itu, banjir di kawasan tersebut kembali terulang pada Jumat (9/1/2026) dini hari. Sejumlah rumah ikut tergenang. Warga trauma banjir bandang terulang di daerah itu.

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar