Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenag Perkenalkan Ekoteologi di Kairo: Agama Solusi Krisis Lingkungan

Kompas.com, 1 Februari 2026, 16:14 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Kementerian Agama Republik Indonesia memperkenalkan konsep ekoteologi dan peran agama sebagai sumber harmoni sosial dalam forum internasional di Mesir.

Gagasan ini disampaikan Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag, Lubenah Amir, saat menjadi pembicara seminar pada rangkaian Cairo International Islamic Book Fair di Kairo, Sabtu (31/1/2026).

Seminar yang diikuti sekitar 150 peserta dari kalangan akademik dan tokoh agama itu menjadi panggung bagi Indonesia untuk memperkenalkan pendekatan keagamaan yang responsif terhadap krisis global, terutama krisis ekologis dan kemanusiaan.

“Dunia modern tengah menghadapi krisis yang saling berkaitan dan saling memengaruhi, yaitu krisis ekologis, krisis kemanusiaan, krisis makna, dan krisis kepercayaan,” ujar Lubenah dalam keterangan tertulis, Minggu (1/2/2026).

Baca juga: Di Kairo, Menag Tekankan Pentingnya Ekoteologi dalam Menjaga Lingkungan

Menurutnya, agama tidak boleh dipahami sebatas ritual atau identitas formal. Agama, kata dia, harus hadir sebagai kekuatan moral yang memperbaiki relasi manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan.

“Agama harus hadir sebagai sumber nilai moral dan kepedulian, yang memperbaiki hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan.”

Ekoteologi Berbasis Rahmah

Lubenah menjelaskan, inti ajaran Islam adalah rahmah (kasih sayang) yang bersifat universal dan melampaui batas ruang serta waktu. Konsep rahmatan lil ‘alamin inilah yang menjadi landasan teologis pengembangan ekoteologi—yakni pendekatan keberagamaan yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari iman.

“Pesan Islam sejak awal bersifat universal dan kosmik. Rahmat tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi kepada seluruh alam,” ujarnya.

Namun dalam praktik modern, nilai universal itu kerap terfragmentasi dan terlepas dari kepekaan terhadap penderitaan manusia serta kerusakan lingkungan.

“Di sinilah pentingnya menyulam kembali nilai-nilai tersebut, bukan sekadar wacana normatif, tetapi sebagai spirit hidup dalam perilaku sosial, kebijakan publik, dan praktik keberagamaan sehari-hari.”

Pengalaman Indonesia Merawat Harmoni

Dalam paparannya, Lubenah juga menekankan bahwa Kemenag menempatkan cinta dan kemanusiaan sebagai prioritas kebijakan keagamaan. Layanan keagamaan didorong agar tidak berhenti pada aktivitas ritual, tetapi berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.

“Layanan ini dirancang agar beragama tidak berhenti pada aktivitas ritual, tetapi implementatif dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.”

Ia menyebut pengalaman Indonesia sebagai bangsa majemuk dapat menjadi contoh dalam merawat harmoni sosial berbasis nilai agama.

“Cinta kemanusiaan menjadi landasan agar agama hadir sebagai kekuatan pemersatu, yang menumbuhkan empati dan kerja sama lintas iman dan budaya.”

Hadirkan Ulama Al-Azhar dan Perwakilan KBRI

Seminar internasional ini juga menghadirkan Pengajar Universitas Al-Azhar Syekh Fathi Hijazi serta Atase Pendidikan KBRI Mesir Abdul Muta’ali.

Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Tekankan Peran Agama dan Ekoteologi di Era Kecerdasan Buatan

Lubenah berharap forum ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan, tetapi juga memperkuat jejaring kerja sama lintas negara dalam meneguhkan nilai kemanusiaan dan harmoni dengan alam.

“Dunia hari ini tidak kekurangan teknologi, tetapi sering kekurangan empati. Tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan kebijaksanaan.”

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar