Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ramadhan di Madinah Lebih Nyaman, Bus Shuttle Layani Jamaah

Kompas.com, 6 Februari 2026, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, Kota Madinah kembali bersiap menyambut jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia.

Kota yang menjadi tempat hijrah Rasulullah SAW ini selalu mengalami lonjakan aktivitas ibadah yang signifikan, khususnya di Masjid Nabawi dan Masjid Quba.

Untuk memastikan kenyamanan jamaah di tengah kepadatan tersebut, Otoritas Pengembangan Wilayah Madinah mengumumkan pengoperasian layanan bus shuttle khusus selama Ramadhan.

Layanan ini dirancang sebagai solusi transportasi terorganisir yang memudahkan pergerakan jamaah sekaligus menjaga ketertiban dan kekhusyukan ibadah.

Kebijakan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencerminkan komitmen besar Kerajaan Arab Saudi dalam memuliakan para tamu Allah, sejalan dengan semangat Ramadhan sebagai bulan pelayanan dan pengabdian.

Madinah di Bulan Ramadhan: Kota yang Tak Pernah Tidur

Ramadhan selalu menghadirkan suasana berbeda di Madinah. Sejak pagi hingga larut malam, arus jamaah terus mengalir menuju Masjid Nabawi.

Shalat fardhu, tarawih, i’tikaf, hingga ziarah ke Masjid Quba menjadi agenda spiritual yang tak terpisahkan.

Dalam Islam, bepergian untuk ibadah memiliki kedudukan mulia. Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Wa man yu‘aẓẓim sya‘ā’irallāhi fa innahā min taqwāl-qulūb.

Artinya: “Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Ayat ini menjadi landasan bahwa segala upaya mempermudah ibadah, termasuk sarana transportasi, merupakan bagian dari pengagungan syiar Islam.

Baca juga: Awal Puasa 2026 Muhammadiyah: Ini Tanggal 1 Ramadhan 1447 H Versi Hisab

Bus Shuttle Ramadhan: Solusi Mobilitas Jamaah

Dikutip dari Saudi Gazette dan news50.sa, Jumat (6/2/2026), layanan bus shuttle ini akan beroperasi di berbagai stasiun strategis di Madinah.

Tujuannya jelas untuk memudahkan jamaah mencapai Masjid Nabawi dan Masjid Quba tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.

Otoritas Madinah menegaskan bahwa sistem ini dirancang untuk:

  • Mengurangi kemacetan di kawasan pusat kota
  • Menjaga keselamatan jamaah
  • Memberikan pengalaman ibadah yang lebih nyaman
  • Mengatur arus lalu lintas selama Ramadhan

Bus berkapasitas besar dipilih agar mampu mengangkut jamaah dalam jumlah banyak, terutama pada waktu-waktu puncak seperti menjelang berbuka dan selepas salat tarawih.

Rute Strategis yang Menghubungkan Titik-Titik Penting

Layanan bus shuttle ini melayani sejumlah kawasan utama, di antaranya:

1. Rencana Raja Fahd

2. Stasiun Kereta Cepat Haramain

3. Stasiun Shatha

4. Kawasan Al-Khalidiyah

5. Kawasan Sayyid al-Shuhada

6. Sekolah Perdamaian

7. Stadion olahraga

8. Area taman kota

Selain itu, rute khusus dari kawasan Al-Aliya menuju Masjid Quba disiapkan untuk menghubungkan dua pusat spiritual penting di Madinah.

Rute ini memudahkan jamaah menunaikan shalat di Masjid Quba yang keutamaannya disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.

Dalam Shahih Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda bahwa salat di Masjid Quba setara dengan pahala umrah.

Baca juga: Unik! Arab Saudi Terbitkan Paspor untuk Unta, Mengapa?

Mengurai Kemacetan, Menjaga Kekhusyukan

Kemacetan lalu lintas kerap menjadi tantangan besar di Madinah saat Ramadhan. Ribuan kendaraan pribadi yang menuju kawasan Masjid Nabawi sering kali memperlambat mobilitas dan mengganggu kenyamanan jamaah.

Dengan hadirnya bus shuttle, jumlah kendaraan pribadi yang masuk ke pusat kota dapat ditekan. Dampaknya tidak hanya pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga pada kualitas lingkungan.

Langkah ini sejalan dengan prinsip Islam tentang kemaslahatan bersama. Dalam buku Riayat al-biah fi shariat al-Islam karya Yusuf al-Qaradawi, dijelaskan bahwa menjaga lingkungan dan mencegah mudarat adalah bagian dari tanggung jawab kolektif umat Islam.

Sejalan dengan Visi 2030 dan Program Tamu Allah

Pengoperasian bus shuttle Ramadhan ini juga menjadi bagian dari Visi 2030 Kerajaan Arab Saudi, khususnya melalui Program Layanan Tamu Allah (Duyuf Ar-Rahman).

Program ini bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan bagi jamaah haji, umrah, dan peziarah, baik dari sisi fasilitas, keamanan, maupun kenyamanan.

Dengan demikian, pelayanan terbaik kepada jamaah adalah bentuk ibadah sosial yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT.

Transportasi sebagai Bagian dari Ibadah Sosial

Islam memandang pelayanan kepada orang lain sebagai amalan yang bernilai ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Khairun-nāsi anfa‘uhum lin-nās.

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ahmad)

Dalam konteks ini, layanan bus shuttle bukan sekadar fasilitas transportasi, melainkan bentuk nyata dari pelayanan ibadah sosial yang menopang kelancaran ritual Ramadhan.

Baca juga: Rekor 19,5 Juta Jemaah! Arab Saudi Klaim Kepuasan Layanan Haji 90% di 2025

Fokus Beribadah, Bukan Mengurus Parkir

Otoritas Madinah menegaskan bahwa jadwal bus akan disusun secara akurat untuk meminimalkan waktu tunggu.

Standar keamanan dan kenyamanan tertinggi juga diterapkan, agar jamaah dapat beribadah dengan tenang tanpa kelelahan berlebih.

Dengan sistem ini, jamaah diharapkan dapat memusatkan perhatian pada ibadah, dzikir, dan doa, tanpa disibukkan urusan teknis perjalanan.

Ramadhan dan Spirit Pelayanan

Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga bulan pelayanan, kepedulian, dan pengabdian.

Hadirnya layanan bus shuttle di Madinah menjadi cerminan bagaimana nilai-nilai spiritual diterjemahkan dalam kebijakan nyata.

Di kota yang menjadi saksi perjuangan Rasulullah SAW, setiap langkah jamaah menuju masjid adalah perjalanan ibadah.

Dan setiap kemudahan yang diberikan untuk perjalanan itu, adalah bagian dari amal yang terus mengalir pahalanya.

Dengan bus shuttle Ramadhan ini, Madinah kembali menunjukkan bahwa kota suci bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang pelayanan yang memuliakan setiap tamu Allah dengan sepenuh hati.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar