Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wapres Gibran: 42 Ribu Pesantren Kekuatan Sosial Ekonomi Masa Depan Indonesia

Kompas.com, 21 Februari 2026, 14:03 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa pesantren merupakan kekuatan besar yang berakar di tengah masyarakat dan menjadi fondasi sosial ekonomi masa depan Indonesia.

Menurut Gibran, saat ini terdapat lebih dari 42 ribu pondok pesantren dengan lebih dari 11 juta santri di seluruh Indonesia.

“Ini bukan sekadar angka. Ini adalah kekuatan sosial ekonomi masa depan yang tumbuh dari tradisi dan semangat perjuangan,” ujarnya dalam Instagram Gibran, @gibran_rakabuming.

Ia menekankan bahwa pesantren adalah warisan peradaban tempat ilmu dan akhlak bersatu. Dari pesantren lahir tokoh bangsa, pejuang kemerdekaan, ulama, pemimpin umat, hingga entrepreneur penggerak ekonomi masyarakat.

Contoh konkret, kata Gibran, terlihat dari unit usaha digital printing milik Pondok Pesantren Edy Mancoro di Semarang yang produknya digunakan perusahaan di Belanda. Hal itu membuktikan pesantren mampu menembus pasar internasional.

Baca juga: Menjaga Ruang Kritis di Pondok Pesantren Cipasung lewat Bahtsul Masail

Di era kemajuan teknologi, Gibran berharap pesantren juga melahirkan santri yang menguasai pertanian modern, peternakan modern, robotik, blockchain, dan kecerdasan buatan (AI).

“Santri harus menjadi pencipta peluang dan pelopor inovasi tanpa kehilangan jati diri dan nilai akhlak,” tegasnya.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, lanjut Gibran, berkomitmen menjadikan pesantren bagian dari Agenda Pembangunan Nasional. Salah satu langkah strategis adalah pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren untuk memperkuat tata kelola dan mendorong transformasi pesantren sebagai motor inovasi dan ekonomi lokal.

KH Deni Sagara Ponpes Cipasung: Tidak Ada yang Besar Selain Allah

Menanggapi pernyataan Wapres, Khodimul Majelis Dzikir Ponpes Cipasung, KH Deni Sagara, menyampaikan apresiasi mendalam. Ia melihat pernyataan Gibran sarat dengan pandangan teologis dan spiritual.

“Di pesantren, manusia diajarkan mengenal dirinya. Manusia itu ibarat satu titik. Kalau hanya satu titik, ia sendiri. Tapi ketika ada dua titik, lahirlah garis. Tiga titik menjadi segitiga. Semakin banyak titik, lahirlah ruang dan waktu,” ujar KH Deni kepada Kompas.com, Sabtu (21/2/2026).

Menurutnya, kesadaran akan posisi diri adalah inti ajaran pesantren. Manusia, katanya, tidak boleh merasa paling besar.

“Indonesia boleh punya pemimpin besar. Dunia punya negara-negara besar. Tapi siapakah mereka? Dalam ajaran pesantren, tidak ada yang besar. Yang Maha Besar hanyalah Allah, Sang Pencipta semesta alam,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa kekuasaan bersifat sementara. Presiden berganti, pejabat bergilir, zaman berubah.

“Setiap hari tidak akan pernah terulang hari kemarin. Maka yang penting bagaimana kita menata masa depan,” katanya.

Mengenal Diri, Menemukan Peran

KH Deni menilai, jika seseorang mengenal dirinya sebagai manusia yang hidup sementara, maka ia akan memahami perannya.

“Kalau dia pedagang, jadilah pedagang yang baik. Kalau wartawan, jadilah wartawan yang amanah. Kalau teknokrat, jalankan tugasnya dengan benar. Orang yang mengenal dirinya tidak akan memaksakan diri merasa paling pintar, paling besar,” ujarnya.

Ia menambahkan, pesantren sejak dulu mengajarkan ketawadhuan, kesabaran, dan proses bertahap. Di tengah arus digital dan teknologi yang serba instan, nilai-nilai ini justru menjadi penyeimbang.

“Teknologi penting, tapi jangan sampai kita didikte lingkungan. Biarkan Tuhan yang menuntun. Kalau manusia memaksakan diri mengikuti hawa nafsu dan tekanan lingkungan, hidup jadi lelah,” katanya.

Filosofi Ketahanan: Tidak Ada Derita yang Abadi

Dalam tausiyahnya, KH Deni juga mengutip pepatah Tiongkok untuk menegaskan bahwa tidak ada kesulitan yang abadi:

Rén de yīshēng, méiyǒu yīwèi de kǔ, méiyǒu yǒngyuǎn de tòng, méiyǒu màibùguò de kǎn, méiyǒu chuǎngbùguò de guān.

Artinya, dalam hidup tidak ada kesusahan yang terus-menerus, tidak ada penderitaan yang abadi, tidak ada rintangan yang tak bisa diatasi.

“Pesantren mengajarkan kesabaran, dzikir, sholawat, dan kajian kitab kuning. Dari situlah bangsa ini dulu melawan penjajah dengan senjata iman dan keyakinan,” ujarnya.

Baca juga: Ketika Wapres Gibran Bawa Payung Sendiri Lindungi Kiai dari Hujan, Kesantunan yang Membekas di Cipasung

Ia pun menilai pernyataan Wapres Gibran sebagai pengingat penting bagi bangsa.

“Mas Gibran sudah mengingatkan seluruh bangsa Indonesia untuk kembali melihat pesantren sebagai masa depan. Kami sangat mengapresiasi,” kata KH Deni.

Di tengah dinamika global yang menekankan kekuatan teknologi dan rasionalitas, KH Deni menegaskan bahwa harmoni antara ilmu, iman, dan inovasi adalah kunci.

“Kalau kita bisa membangun irama yang indah antara kemajuan teknologi dan nilai spiritual pesantren, maka pesantren benar-benar menjadi masa depan Republik Indonesia,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Aktual
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Aktual
Fenomena Sosial 'Marriage is Scary': Bagaimana Pandangan Islam?
Fenomena Sosial "Marriage is Scary": Bagaimana Pandangan Islam?
Aktual
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
Aktual
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Aktual
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Aktual
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Aktual
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Doa dan Niat
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
Aktual
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar