Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak Kekeringan dan Lahirnya Islam: Studi Baru Ungkap Peran Iklim dalam Sejarah Arab

Kompas.com, 24 Februari 2026, 21:08 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Islam awalnya tumbuh di Mekkah, wilayah Arab Saudi modern, pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW pada awal abad ke-6.

Saat itu, kawasan Timur Tengah berada dalam fase Late Antiquity—periode pergolakan politik dan ketegangan antaragama.

Di tengah situasi tersebut, Kerajaan Himyar di Arabia Selatan menjadi salah satu kekuatan penting sebelum akhirnya runtuh, meninggalkan ruang sosial dan politik yang kemudian diisi oleh lahirnya agama baru: Islam.

Kerajaan Himyar awalnya menganut paganisme, lalu beralih pada satu Tuhan dengan elite yang banyak mengadopsi Yudaisme.

Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi: Benarkah Tanda Kiamat atau Hanya Perubahan Iklim Global?

Namun menjelang kemunculan Islam, kerajaan ini dilanda kekeringan panjang, konflik politik, serta perang dengan kerajaan tetangga, termasuk Aksum dari Afrika Timur Laut. Tekanan itu membuat Himyar melemah dan akhirnya runtuh.

Jejak kejayaan Himyar masih bisa ditemukan di dataran kering Yaman, dengan sistem irigasi canggih berupa terasering dan bendungan. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor alam—khususnya kekeringan ekstrem—mungkin menjadi pukulan telak bagi kerajaan yang sangat bergantung pada air tersebut.

Tim peneliti yang dipimpin Dominik Fleitmann menganalisis stalagmit dari Gua Al Hoota di Oman. Struktur mineral yang terbentuk dari tetesan air itu menyimpan catatan kimia dan isotop yang merekam kondisi curah hujan masa lampau. Hasilnya menunjukkan periode kekeringan serius yang berlangsung selama beberapa dekade.

“Bahkan dengan mata telanjang Anda dapat melihat dari stalagmit itu bahwa pasti pernah terjadi periode yang sangat kering yang berlangsung selama beberapa dekade,” kata Fleitmann.

Ia menjelaskan, saat air yang menetes berkurang, pertumbuhan stalagmit menyempit—menjadi indikator kuat periode kering panjang.

Karena penanggalan awal hanya presisi sekitar 30 tahun, tim kemudian menggabungkan data iklim dengan sumber sejarah, catatan geologis, dan kajian arkeologis.

“Ini sedikit seperti kasus pembunuhan: kita memiliki sebuah kerajaan yang telah mati dan sedang mencari pelakunya. Selangkah demi selangkah, bukti-bukti membawa kami semakin dekat pada jawabannya,” ujar Fleitmann.

Bagi kerajaan semi-gurun seperti Himyar yang sangat bergantung pada irigasi, kekeringan panjang bisa menjadi pukulan mematikan.

“Air adalah sumber daya yang paling penting. Jelas bahwa penurunan curah hujan, terlebih lagi beberapa tahun kekeringan ekstrem, dapat mengguncang stabilitas sebuah kerajaan semi-gurun yang rentan,” katanya.

Runtuhnya Himyar bukan sekadar akhir sebuah kerajaan, melainkan titik balik sejarah. Para peneliti menyimpulkan, kekeringan ekstrem tersebut mungkin melemahkan ketahanan sosial dan politik Himyar, membuka ruang perubahan besar di Jazirah Arab.

“Kami berpendapat bahwa kekeringan semacam itu melemahkan ketahanan Himyar dan dengan demikian turut berkontribusi pada perubahan sosial yang darinya Islam kemudian muncul,” tulis tim dalam studi itu.

Saat masyarakat menghadapi kelaparan dan perang, kebutuhan akan harapan baru semakin kuat.

Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi, Otoritas Keluarkan Peringatan Cuaca Ekstrem

“Penduduk mengalami penderitaan besar akibat kelaparan dan perang. Hal ini membuat Islam menemukan lahan yang subur: masyarakat sedang mencari harapan baru, sesuatu yang dapat mempersatukan mereka kembali sebagai sebuah komunitas. Agama baru itu menawarkan hal tersebut,” kata Fleitmann.

Islam kini memiliki lebih dari dua miliar pengikut di seluruh dunia. Meski kekeringan bukan satu-satunya faktor yang menentukan, penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim ekstrem dapat mengguncang tatanan politik dan membuka jalan bagi transformasi besar dalam sejarah peradaban.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Aktual
Fenomena Sosial 'Marriage is Scary': Bagaimana Pandangan Islam?
Fenomena Sosial "Marriage is Scary": Bagaimana Pandangan Islam?
Aktual
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
Aktual
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Aktual
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Aktual
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Aktual
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Doa dan Niat
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
Aktual
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Aktual
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar