Editor
KOMPAS.com – Proyek ambisius pembangunan King Abdullah Gardens terus menunjukkan progres pesat. Otoritas setempat melaporkan bahwa sejumlah struktur utama dan fasilitas penting kini telah rampung.
Dengan luas mencapai 2 juta meter persegi, taman ini diproyeksikan menjadi salah satu dari tiga taman botani tertutup terbesar di dunia—sebuah pencapaian besar dalam pengembangan ruang hijau perkotaan.
Proyek ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah Riyadh untuk memperluas ruang hijau sekaligus meningkatkan kualitas hidup warganya.
Tak sekadar taman biasa, King Abdullah Gardens akan menghadirkan beragam ekosistem dalam satu kawasan. Mulai dari taman air, taman gurun, hingga taman bunga, serta area khusus untuk burung dan reptil.
Fasilitasnya pun dirancang lengkap dan ramah keluarga. Akan ada area bermain anak, museum botani, hingga bank gen tanaman yang memiliki nilai ilmiah dan edukatif. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati kafe, pasar, dan berbagai sarana rekreasi lainnya.
Proyek ini pertama kali dimulai pada 2014 atas inisiatif Raja Abdullah bin Abdulaziz, dan kini terus dikembangkan sebagai simbol transformasi kota modern yang berkelanjutan.
Salah satu daya tarik utama taman ini adalah bangunan biome paleobotani berbentuk dua lengkungan yang saling terhubung. Struktur ini akan menampung berbagai lingkungan buatan seluas sekitar 90.000 meter persegi.
Menariknya, bagian tertutup taman ini disebut memiliki ukuran lima kali lebih besar dibandingkan Eden Project di Inggris, dan akan menampilkan evolusi kehidupan tumbuhan di Semenanjung Arab dari masa ke masa.
Baca juga: Menhub Arab Saudi Tinjau Bandara Jeddah, Pastikan Layanan Penumpang dan Jemaah Optimal
Secara keseluruhan, proyek ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga pusat edukasi dan konservasi lingkungan.
King Abdullah Gardens diharapkan menjadi ikon baru yang memadukan unsur alam, budaya, dan ilmu pengetahuan dalam satu ruang terpadu.
Dengan konsep yang futuristik dan berkelanjutan, taman ini menjadi bukti bagaimana kota modern dapat tumbuh tanpa meninggalkan harmoni dengan alam.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.