Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

17 Tahun Lebaran di Tokyo Tak Semeriah Indonesia, Tapi Hangat oleh Kebersamaan

Kompas.com, 24 Maret 2026, 22:20 WIB
Suci Rahayu,
Khairina

Tim Redaksi

TOKYO, KOMPAS.com - Di tengah dinginnya pagi di Tokyo, Jepang, sejumlah umat muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri, Sabtu (21/3/2026) lalu. Mereka berkumpul dalam satu tempat menyatukan rindu para perantau yang tidak mudik dan merayakan Lebaran jauh dari kampung halaman.

Bagi sebagian orang, Lebaran di negeri orang mungkin terasa sunyi. Namun bagi Swasta Putra Dianto, justru di situlah makna kebersamaan menemukan bentuk yang berbeda.

Ia sudah 17 tahun menetap dan hampir setiap Lebaran dijalani di Kamata, jauh dari keluarga di Indonesia. Meski begitu, ia tetap menjaga tradisi dengan caranya sendiri.

Hari itu dimulai lebih awal dari biasanya, pukul 05.00 pagi ia bersama sembilan temannya berangkat menuju lokasi salat Idul Fitri yaitu di komplek Sekolah Indonesia Tokyo, yang berada satu kawasan KBRI Tokyo.

Perjalanan ditempuh dengan menggunakan kereta yang harus berganti jalur dari Stasiun Shinagawa ke Meguro, dilanjutkan bus untuk menghindari dinginnya angin pagi. Semua dilakukan demi satu tujuan sederhana yaitu bisa mengikuti salat di kloter pertama.

“Lebaran di sini ya kebetulan hari Sabtu jadi lebih banyak jamaah yang sholat juga. Kalau tidak salah saat pengumuman disebutkan 6500 jamaah. Sholat di sini dibagi menjadi 4 kloter, kebetulan saya kloter pertama jadi masih tidak terlalu ramai karena pagi sekali,” ujar pria yang biasa disapa Swasta itu kepada Kompas.com.

Tidak lama berselang, area sekitar sudah dipadati jamaah dan kloter berikutnya bahkan meluber hingga ke jalan.

Swasta Putra Dianto bersama temannya saat mengikuti sholat Idul Fitri di bersama warga Indonesia yang mimilih tidak mudik dilaksanakan di kompleks Sekolah Indonesia Tokyo (MIT), Sabtu (21/3/2026) pagi.Dokumentasi Pribadi Swasta Putra Dianto bersama temannya saat mengikuti sholat Idul Fitri di bersama warga Indonesia yang mimilih tidak mudik dilaksanakan di kompleks Sekolah Indonesia Tokyo (MIT), Sabtu (21/3/2026) pagi.

Rindu yang Dipertemukan di Perantauan

Lebaran di Tokyo bukan hanya soal ibadah, tetapi juga tentang bagaimana orang-orang Indonesia saling menemukan satu sama lain.

Sehari sebelumnya, beberapa temannya sudah berkumpul di Garuda Cafe miliknya. Mereka datang dari berbagai wilayah, bahkan ada yang dari Ibaraki, menempuh perjalanan hingga dua jam demi bisa merayakan bersama.

“Mereka sudah stanby juga disini dan ternyata baru dapat kabar jam 9 malam dari KBRI bahwa sholatnya tgl. 21,” kata Swasta Putra Dianto.

Sebab kebersamaan itu menjadi pengganti suasana kampung halaman yang tidak bisa dijangkau untuk merayakan hari kemenangan tahun ini.

Meski jauh dari Indonesia, tradisi Lebaran tetap dihidupkan. Usai sholat Idul Fitri, ia dan teman-temannya kembali ke Garuda Cafe yang disulap menjadi ruang berkumpul.

Ia sudah menyiapkan secara khusus hidangan khas Lebaran yang akrab di lidah sekaligus menghangatkan momen spesial, lontong sayur dan kolak.

“Ya acara khususnya kita makan-makan bersama sudah ada nyiapin menu khas lebaran untuk perjamuan teman-teman sendiri biar bisa ngumpul,” imbuhnya.

Meskipun suasana mungkin tidak semeriah di Indonesia, karena tidak ada keramaian dan rutinitas silaturahmi ke rumah-rumah selepas sholat ied. Namun, justru dalam kesederhanaan itu, kebersamaan terasa lebih dekat.

Sejumlah warga Indonesia yang berada tidak mudik dan tetap berada di Jepang, kumpul bersama merayakan Lebaran di Garuda Cafe Kamata, Tokyo, Sabtu (21/3/2026) malam.Dokumentasi Pribadi Sejumlah warga Indonesia yang berada tidak mudik dan tetap berada di Jepang, kumpul bersama merayakan Lebaran di Garuda Cafe Kamata, Tokyo, Sabtu (21/3/2026) malam.

Toleransi yang Terasa Nyata

Di tengah perbedaan budaya, Lebaran di Tokyo juga menghadirkan pengalaman tentang toleransi. Pelaksanaan ibadah berjalan tertib, bahkan mendapat dukungan dari aparat setempat. Warga Jepang pun menunjukkan rasa hormat, bahkan ketertarikan.

“Kalau untuk warga lokal tidak ada masalah sih semua sama tertib karena selama penyelenggaraan sholat ied dibantu juga dengan beberapa polisi jepang,” ujar Swasta Putra Dianto.

Apalagi beberapa warga lokal terlihat menyaksikan dari sekitar lokasi, ada yang sekadar penasaran, ada pula yang ikut merayakan.

“Teman-teman saya banyak yang ngucapin dan antusias, ada beberapa orang jepang yang saat sholat ied ikut mungkin sudah masuk islam," kata pria asal Kota Malang, Jawa Timur itu

"Banyak juga saya lihat orang jepang yang ada disekitar masjid mungkin mereka sekedar ingin tahu, antusias juga mereka dan tidak merasa terganggu,” pungkasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Baca tentang


Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar