Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kuliner Langka Lemang Hitam Laris Manis Saat Lebaran, Diburu untuk Pengobat Rindu

Kompas.com, 28 Maret 2026, 09:02 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Tradisi kuliner khas Minangkabau kembali menggeliat saat Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah. Penjualan lamang bambu atau lemang hitam di Nagari Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, melonjak tajam hingga menembus lebih dari 3.000 batang.

Pengelola Rumah Produksi Kelompok Tani Muaro Danau Diatas, Sisri Parida, mengungkapkan lonjakan pesanan terjadi sejak menjelang hingga setelah Lebaran.

"Penjualan lemang bambu mencapai 3.000 lebih selama Lebaran Idul Fitri," ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Baca juga: Saat Dedi Mulyadi Jaga Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran yang Kian Langka

Pada hari biasa, produksi lemang hanya berkisar 40 hingga 60 batang per hari. Namun saat Lebaran, jumlah itu meningkat drastis menjadi 200 hingga 400 batang per hari, mengikuti tingginya kebutuhan masyarakat akan makanan tradisional saat momen hari besar keluarga.

Kuliner Langka yang Mulai Ditinggalkan

Lemang hitam atau yang dikenal sebagai *lemang siarang* merupakan makanan khas dari daerah Alahan Panjang yang kini mulai sulit ditemukan.

"Lemang hitam atau disebut lemang siarang ini merupakan makanan tradisional khas dari daerah Alahan Panjang yang mulai jarang ditemukan," kata Sisri.

Ia menyebut, minimnya generasi muda yang mewarisi cara pembuatan menjadi salah satu penyebab kuliner ini kian langka. Selain itu, proses pembuatan yang cukup rumit dan bahan baku yang semakin sulit didapat turut menjadi tantangan.

Upaya Pelestarian Lewat Usaha Tani

Melihat kondisi tersebut, Kelompok Tani Muaro Danau Diatas berinisiatif membuka usaha produksi lemang hitam sebagai upaya pelestarian kuliner tradisional.

"Sehingga muncullah ide kami dari kelompok tani Muaro Danau Diatas untuk membuka peluang usaha ini. Di samping itu untuk melestarikan kembali makanan tradisional khas daerah yang mulai jarang ditemukan," jelasnya.

Proses pembuatan lemang hitam tidak sederhana. Dibutuhkan waktu hingga dua hari untuk menghasilkan satu adonan siap bakar.

Hari pertama digunakan untuk menepungkan beras hitam, mengembangkan, dan merendamnya. Sementara hari kedua, bahan tersebut diolah bersama kelapa yang dioseng dan gula merah menjadi adonan khas.

Harga Stabil, Permintaan Meledak

Menariknya, meski permintaan melonjak tajam, harga lemang tetap stabil, yakni berkisar antara Rp 40.000 hingga Rp 70.000 per bambu.

Penjualan bahkan melampaui target awal. Sejak mulai berjualan H-5 Lebaran, mereka menargetkan 1.000 hingga 1.500 batang. Namun hingga H+3 Lebaran, angka penjualan sudah mencapai lebih dari 3.000 batang.

Diburu Perantau untuk Obat Rindu

Tingginya permintaan lemang hitam saat Lebaran tak lepas dari peran para perantau Minangkabau yang pulang kampung.

Selain untuk konsumsi keluarga, lemang juga kerap dijadikan oleh-oleh khas yang dibawa kembali ke perantauan.

Baca juga: Tradisi Ngapungkeun Balon Garut saat Lebaran, Warisan Budaya yang Sarat Nilai Kebersamaan

Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga menyimpan nilai nostalgia yang kuat, terutama saat momen Lebaran.

Dengan meningkatnya minat masyarakat, lemang hitam diharapkan tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar