Editor
KOMPAS.com – Tradisi kuliner khas Minangkabau kembali menggeliat saat Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah. Penjualan lamang bambu atau lemang hitam di Nagari Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, melonjak tajam hingga menembus lebih dari 3.000 batang.
Pengelola Rumah Produksi Kelompok Tani Muaro Danau Diatas, Sisri Parida, mengungkapkan lonjakan pesanan terjadi sejak menjelang hingga setelah Lebaran.
"Penjualan lemang bambu mencapai 3.000 lebih selama Lebaran Idul Fitri," ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Baca juga: Saat Dedi Mulyadi Jaga Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran yang Kian Langka
Pada hari biasa, produksi lemang hanya berkisar 40 hingga 60 batang per hari. Namun saat Lebaran, jumlah itu meningkat drastis menjadi 200 hingga 400 batang per hari, mengikuti tingginya kebutuhan masyarakat akan makanan tradisional saat momen hari besar keluarga.
Lemang hitam atau yang dikenal sebagai *lemang siarang* merupakan makanan khas dari daerah Alahan Panjang yang kini mulai sulit ditemukan.
"Lemang hitam atau disebut lemang siarang ini merupakan makanan tradisional khas dari daerah Alahan Panjang yang mulai jarang ditemukan," kata Sisri.
Ia menyebut, minimnya generasi muda yang mewarisi cara pembuatan menjadi salah satu penyebab kuliner ini kian langka. Selain itu, proses pembuatan yang cukup rumit dan bahan baku yang semakin sulit didapat turut menjadi tantangan.
Melihat kondisi tersebut, Kelompok Tani Muaro Danau Diatas berinisiatif membuka usaha produksi lemang hitam sebagai upaya pelestarian kuliner tradisional.
"Sehingga muncullah ide kami dari kelompok tani Muaro Danau Diatas untuk membuka peluang usaha ini. Di samping itu untuk melestarikan kembali makanan tradisional khas daerah yang mulai jarang ditemukan," jelasnya.
Proses pembuatan lemang hitam tidak sederhana. Dibutuhkan waktu hingga dua hari untuk menghasilkan satu adonan siap bakar.
Hari pertama digunakan untuk menepungkan beras hitam, mengembangkan, dan merendamnya. Sementara hari kedua, bahan tersebut diolah bersama kelapa yang dioseng dan gula merah menjadi adonan khas.
Menariknya, meski permintaan melonjak tajam, harga lemang tetap stabil, yakni berkisar antara Rp 40.000 hingga Rp 70.000 per bambu.
Penjualan bahkan melampaui target awal. Sejak mulai berjualan H-5 Lebaran, mereka menargetkan 1.000 hingga 1.500 batang. Namun hingga H+3 Lebaran, angka penjualan sudah mencapai lebih dari 3.000 batang.
Tingginya permintaan lemang hitam saat Lebaran tak lepas dari peran para perantau Minangkabau yang pulang kampung.
Selain untuk konsumsi keluarga, lemang juga kerap dijadikan oleh-oleh khas yang dibawa kembali ke perantauan.
Baca juga: Tradisi Ngapungkeun Balon Garut saat Lebaran, Warisan Budaya yang Sarat Nilai Kebersamaan
Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga menyimpan nilai nostalgia yang kuat, terutama saat momen Lebaran.
Dengan meningkatnya minat masyarakat, lemang hitam diharapkan tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang