Editor
KOMPAS.com - Tradisi Ngapungkeun balon di Garut menjadi salah satu kearifan lokal yang selalu hadir saat perayaan Idul Fitri.
Kegiatan ini rutin digelar masyarakat Kampung Panawuan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Momen tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan warga setelah Ramadhan.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi setiap tahun, termasuk pada perayaan Idul Fitri 1447 Hijriyah pada Jumat (20/3/2026).
Baca juga: Nyepi dan Idul Fitri Berdekatan, Buleleng Tunjukkan Harmoni Toleransi yang Menginspirasi
Tradisi Ngapungkeun atau menerbangkan balon raksasa berbahan kertas menjadi agenda yang dinanti warga.
Setelah pelaksanaan shalat Ied, masyarakat berbondong-bondong menuju lokasi penerbangan balon di sejumlah titik, salah satunya di halaman SDN Sukajaya.
Kondisi cuaca yang cerah dengan langit biru semakin menambah semangat warga untuk menyaksikan balon-balon raksasa terbang tinggi. Suasana lapangan dipenuhi kegembiraan, ditandai dengan sorak sorai warga saat balon mulai mengudara.
Salah seorang warga, Syakira Salwa (17), mengaku momen tersebut selalu dinantikan setiap Lebaran karena menjadi kesempatan berkumpul bersama keluarga dan teman.
"Ini adalah hal yang ditunggu-tunggu di Hari Raya Idul Fitri, bareng sama teman-teman, saudara-saudara di sini," kata Syakira, seperti dilansir dari Antara.
Bagi masyarakat Panawuan, tradisi ini bukan sekadar hiburan. Ngapungkeun balon telah menjadi bagian dari warisan budaya yang diwariskan sejak tahun 1960-an.
Tradisi ini juga digelar di berbagai lapangan terbuka di wilayah Kelurahan Sukajaya.
Bahkan, pada tahun sebelumnya, tercatat sekitar 20 balon diterbangkan, dan jumlah tersebut diperkirakan meningkat karena perayaan Lebaran yang tidak berlangsung serentak.
Proses pembuatan balon raksasa membutuhkan waktu sekitar tujuh hari dan telah dipersiapkan sejak bulan Ramadhan.
Warga bersama-sama mengumpulkan dana, membeli bahan seperti kertas tipis dan lem, hingga merakit balon.
Dalam satu lokasi, balon yang diterbangkan bisa lebih dari dua unit. Seperti di halaman SDN Sukajaya, terdapat empat balon dengan diameter sekitar 20 meter dan panjang 10 meter yang siap diterbangkan.
Seluruh proses melibatkan berbagai kalangan usia, mulai dari perancangan hingga penerbangan.
Selain itu, ada warga yang bertugas menyiapkan tungku api sebagai sumber panas agar balon mengembang, serta menjaga keseimbangan balon saat akan diterbangkan.
Tradisi Ngapungkeun balon sarat dengan nilai gotong royong. Setiap balon dibuat melalui iuran warga, dengan biaya sekitar Rp700 ribu per unit.
Atep, salah satu penggerak tradisi tersebut, menyebut kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus hiburan masyarakat.
"Nilainya sebagai ajang silaturahmi masyarakat berkumpul di sini, sekaligus menjadi hiburan di Hari Raya Lebaran," kata Atep.
Ia menegaskan bahwa proses menerbangkan balon melibatkan banyak orang tanpa memandang latar belakang. Semua warga membaur dan bekerja sama dalam suasana kebersamaan.
Tradisi Ngapungkeun balon juga mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut.
Kegiatan ini dinilai memiliki potensi sebagai atraksi wisata berbasis kearifan lokal.
Kepala Disparbud Garut, Beni Yoga Gunasantika, menyatakan tradisi tersebut memiliki daya tarik kuat karena tumbuh secara alami dari masyarakat.
"Kami memandang kegiatan ini sebagai potensi atraksi wisata berbasis kearifan lokal yang sangat menarik dan memiliki daya tarik kuat," kata Beni.
Ia menambahkan, tradisi ini dapat dikembangkan sebagai agenda wisata tahunan yang terstruktur karena selama ini berlangsung tertib, aman, dan menarik minat pengunjung.
"Ini merupakan wujud nyata kegembiraan dan kebersamaan warga pasca Idul Fitri. Kita melihat antusiasme yang luar biasa, ini adalah ekspresi budaya dan tradisi yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri," katanya.
Tradisi Ngapungkeun balon menunjukkan bahwa perayaan Lebaran tidak hanya identik dengan hidangan dan pakaian baru, tetapi juga kebersamaan dan kegembiraan sederhana.
Kearifan lokal ini juga menjadi warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang