Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Dedi Mulyadi Jaga Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran yang Kian Langka

Kompas.com, 27 Maret 2026, 08:56 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana dapur di kampung-kampung biasanya dipenuhi aroma rempah yang menggoda. Namun di balik itu, ada tradisi lama yang kini kian jarang terlihat: tukar rantang atau hantaran makanan ke tetangga.

Tradisi ini dulunya menjadi bagian penting dari momen Lebaran. Warga memasak berbagai hidangan, lalu menyusunnya dalam rantang untuk dibagikan ke sekitar. Bukan sekadar berbagi makanan, tetapi juga mempererat silaturahmi dan rasa kebersamaan.

Warisan Leluhur yang Mulai Terkikis

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai tradisi ini memiliki nilai adab yang tinggi dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Tradisi leluhur kami kalau memberi itu bukan mentah sebenarnya. Kalau memberi itu mengantar tinggal dimakan, sangat beradab,” ujarnya dikutip dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel dan dikonfirmasi ulang Kompas.com, Jumat (27/3/2026).

Baca juga: Bisht, Jubah Tradisional Arab Saudi yang Jadi Simbol Kehormatan dan Tradisi Saat Idul Fitri

Ia menegaskan, berbagi makanan matang mencerminkan perhatian yang lebih dalam dibandingkan sekadar memberi bahan mentah.

“Dalam hidup itu tetangga dulu yang dianteuran (diberi hantaran) sebelum yang jauh, yang dekat dulu,” tambahnya.

Namun, menurut Dedi, nilai-nilai ini kini mulai memudar.

“Ini yang disebut dengan pola kehidupan kita yang sekarang sudah terkikis oleh zaman... akhirnya menghilangkan keakraban, kekerabatan, saling memberi, saling cinta kasih,” ungkapnya.

Hangatnya Dapur Tradisional

Farid Assifa Tradisi Tukar Rantang

Di dapur tradisional, proses memasak menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini. Hidangan seperti semur daging dimasak dengan gaya lama yang penuh cita rasa.

“Ini semur daging, dimasaknya gaya baheula (zaman dulu), gaya jadul. Semur baheula dagingnya sedikit, airnya banyak, tapi kalau Lebaran mah dagingnya agak besar,” kata Dedi.

Ia bahkan menyebut racikan khas yang digunakan.

“Bukan bumbu 12 ini, bumbu 14. Oh, ini pasti mantap!” ujarnya penuh semangat.

Suasana dapur pun terasa hidup, penuh kehangatan dan kebersamaan.

“Dapur Bapak Aing! Dulu, dapur Bapak Aing atuh... selamat lebaran, semoga Allah selalu membimbingmu,” ucapnya, menggambarkan nostalgia masa lalu.

Sarana Pendidikan Anak

Tradisi tukar rantang juga menjadi media pendidikan karakter bagi anak-anak. Mereka diajak untuk membawa rantang ke rumah tetangga, belajar bersosialisasi, dan memahami arti berbagi.

“Biar dia (Nyi Hyang, putri bungsi Dedi Mulyadi) belajar bagaimana hidup bermasyarakat di desa dengan pola-pola sosial,” kata Dedi.

Dalam prosesnya, anak-anak juga dilatih tanggung jawab dan kemandirian.

“Ayo, belajar bawa berat, squat-squat...” ucapnya sambil menyemangati.

Kenangan yang Mulai Hilang

Dedi mengenang masa kecilnya saat tradisi ini masih begitu kuat dijalankan.

“Dulu waktu kecil saya sendiri yang mengantar ke Nini Iko... meskipun masak sendiri tapi yang mewadahi (makanan) banyak, satu lembur (desa) hebat orang-orang dulu,” kenangnya.

Kini, pemandangan anak-anak membawa rantang menyusuri gang desa mulai jarang terlihat. Tradisi ini perlahan tergeser oleh gaya hidup modern yang serba praktis.

Lebaran dan Makna Kebersamaan

Tradisi tukar rantang bukan hanya soal makanan, tetapi simbol kuat dari nilai kemanusiaan: berbagi, peduli, dan menjaga hubungan sosial.

Baca juga: Cerita Lebaran Penyintas Banjir Aceh Timur, dari Pohon Pengingat Sujud hingga Tradisi Meugang

Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan Lebaran sejatinya terletak pada kebersamaan.

Jika tidak dijaga, bukan tidak mungkin tradisi ini hanya akan tinggal cerita.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
MUI Fasilitasi KPR untuk Dai dan Guru Ngaji agar Punya Rumah Sendiri
MUI Fasilitasi KPR untuk Dai dan Guru Ngaji agar Punya Rumah Sendiri
Aktual
Kemenhaj Dorong Revisi UU Pengelolaan Keuangan Haji, Dana Dikelola Lebih Transparan
Kemenhaj Dorong Revisi UU Pengelolaan Keuangan Haji, Dana Dikelola Lebih Transparan
Aktual
Kemenhaj Akan Perketat Syarat Kesehatan Haji 2027, Jamaah Berkomorbid Jadi Sorotan
Kemenhaj Akan Perketat Syarat Kesehatan Haji 2027, Jamaah Berkomorbid Jadi Sorotan
Aktual
Indonesia Resmi Kantongi Izin Empty Leg Penerbangan Haji dari Arab Saudi, Apa Dampaknya?
Indonesia Resmi Kantongi Izin Empty Leg Penerbangan Haji dari Arab Saudi, Apa Dampaknya?
Aktual
Pemda DIY Usulkan Seluruh Jamaah Haji Gunakan E-Paspor untuk Percepat Layanan Imigrasi
Pemda DIY Usulkan Seluruh Jamaah Haji Gunakan E-Paspor untuk Percepat Layanan Imigrasi
Aktual
Jemaah Haji Jember yang Pulang Sebanyak 2.949 Orang, 4 Wafat di Tanah Suci
Jemaah Haji Jember yang Pulang Sebanyak 2.949 Orang, 4 Wafat di Tanah Suci
Aktual
BPKH Buka Rekrutmen Pegawai 2026, Ini Formasi, Syarat, dan Jadwal Pendaftarannya
BPKH Buka Rekrutmen Pegawai 2026, Ini Formasi, Syarat, dan Jadwal Pendaftarannya
Aktual
Sering Mimpi Buruk dan Takut Jadi Kenyataan? Ini Cara Menyikapinya Menurut Ulama MUI
Sering Mimpi Buruk dan Takut Jadi Kenyataan? Ini Cara Menyikapinya Menurut Ulama MUI
Aktual
Anggota Komisi III DPR Dukung Pembuatan Regulasi Tegas terhadap Kampanye LGBT
Anggota Komisi III DPR Dukung Pembuatan Regulasi Tegas terhadap Kampanye LGBT
Aktual
Bagaimana Hukum Shalat Sunnah Dua Rakaat Sebelum Shalat Jumat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Bagaimana Hukum Shalat Sunnah Dua Rakaat Sebelum Shalat Jumat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Aktual
7 Amalan Sunnah Hari Jumat yang Dianjurkan Rasulullah, Amalkan untuk Menambah Pahala
7 Amalan Sunnah Hari Jumat yang Dianjurkan Rasulullah, Amalkan untuk Menambah Pahala
Aktual
Khutbah Jumat 26 Juni 2026: Menjaga Mizan: Menunaikan Amanah Khalifah dalam Merawat Bumi
Khutbah Jumat 26 Juni 2026: Menjaga Mizan: Menunaikan Amanah Khalifah dalam Merawat Bumi
Aktual
Jawa Barat Raih Predikat Wilayah Wisata Ramah Muslim Paling Menjanjikan di Negara OKI
Jawa Barat Raih Predikat Wilayah Wisata Ramah Muslim Paling Menjanjikan di Negara OKI
Aktual
Kemenag dan BI Cetak Kreator Konten Rohis SMA, Untuk Apa?
Kemenag dan BI Cetak Kreator Konten Rohis SMA, Untuk Apa?
Aktual
Saresehan MUI Bedah Pengelolaan Sampah Nasional di Tengah Tekanan Fiskal
Saresehan MUI Bedah Pengelolaan Sampah Nasional di Tengah Tekanan Fiskal
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com