Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Libur Lebaran Jadi Panggung Budaya, Ratusan Warga Sumenep Adu Kreativitas Anyam Ketupat di Pantai Lombang

Kompas.com, 27 Maret 2026, 07:42 WIB
Nur Khalis,
Farid Assifa

Tim Redaksi

SUMENEP, KOMPAS.com – Libur Lebaran 2026 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berlangsung berbeda dari biasanya.

Tak hanya diisi dengan wisata, ratusan warga justru memadati kawasan wisata Pantai Lombang untuk mengikuti lomba menganyam orong ketupat, Kamis (26/3/2026).

Sejak pagi, suasana pantai yang identik dengan rekreasi berubah menjadi arena lomba bernuansa budaya. Sekitar 130 peserta dari berbagai kalangan—mulai dari unsur pemerintah daerah, pelajar, hingga masyarakat umum—turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Baca juga: Lonjakan Wisata Ramadan, Al-Balad Jeddah Tembus 4 Juta Pengunjung

Antusiasme peserta terlihat dari keseriusan mereka merangkai janur menjadi anyaman ketupat. Menariknya, para peserta tampil mengenakan pakaian adat khas Sumenep, menciptakan pemandangan penuh warna di tengah hamparan pasir putih dan deretan pohon cemara udang yang menjadi ciri khas pantai tersebut.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Festival Ketupat yang rutin digelar setiap momen Lebaran. Selain menjadi hiburan bagi wisatawan, lomba tersebut juga menjadi upaya melestarikan tradisi lokal topak lobar, yang telah lama dikenal masyarakat setempat.

Tak sekadar perlombaan, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi, khususnya bagi generasi muda. Mereka diajak mengenal sekaligus mempraktikkan langsung keterampilan menganyam ketupat yang kini mulai jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu peserta, Oliv, mengaku senang bisa ikut ambil bagian dalam lomba tersebut. “Seru, mengisi waktu libur juga, apalagi ini jarang dilakukan sekarang,” ujarnya.

Peserta lainnya, Malikatul Balqis, juga merasakan hal serupa. Menurutnya, lomba ini menjadi pengalaman baru, terlebih digelar di lokasi wisata yang ramai pengunjung.

“Sekalian liburan juga untuk menambah pengalaman. Karena seperti itu jarang,” kata Balqis.

Ia menambahkan, tradisi seperti topak lobar penting untuk terus dilestarikan di tengah arus modernisasi. “Mungkin orang tua dulu banyak yang tahu, tapi anak muda sekarang sudah jarang,” ucapnya.

Baca juga: Sekolah Tetap Masuk usai Lebaran 2026, Pemerintah Batalkan Wacana Belajar Hybrid

Balqis mengaku sempat tidak percaya diri saat awal mengikuti lomba. Namun, setelah belajar sebelumnya, ia akhirnya berani tampil.

“Awalnya sempat tidak percaya diri, tapi malamnya sempat belajar,” pungkasnya.

Momentum ini menunjukkan bahwa libur Lebaran tidak hanya bisa diisi dengan rekreasi, tetapi juga menjadi ruang memperkuat identitas budaya lokal sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenhaj Dorong Revisi UU Pengelolaan Keuangan Haji, Dana Dikelola Lebih Transparan
Kemenhaj Dorong Revisi UU Pengelolaan Keuangan Haji, Dana Dikelola Lebih Transparan
Aktual
Kemenhaj Akan Perketat Syarat Kesehatan Haji 2027, Jamaah Berkomorbid Jadi Sorotan
Kemenhaj Akan Perketat Syarat Kesehatan Haji 2027, Jamaah Berkomorbid Jadi Sorotan
Aktual
Indonesia Resmi Kantongi Izin Empty Leg Penerbangan Haji dari Arab Saudi, Apa Dampaknya?
Indonesia Resmi Kantongi Izin Empty Leg Penerbangan Haji dari Arab Saudi, Apa Dampaknya?
Aktual
Pemda DIY Usulkan Seluruh Jamaah Haji Gunakan E-Paspor untuk Percepat Layanan Imigrasi
Pemda DIY Usulkan Seluruh Jamaah Haji Gunakan E-Paspor untuk Percepat Layanan Imigrasi
Aktual
Jemaah Haji Jember yang Pulang Sebanyak 2.949 Orang, 4 Wafat di Tanah Suci
Jemaah Haji Jember yang Pulang Sebanyak 2.949 Orang, 4 Wafat di Tanah Suci
Aktual
BPKH Buka Rekrutmen Pegawai 2026, Ini Formasi, Syarat, dan Jadwal Pendaftarannya
BPKH Buka Rekrutmen Pegawai 2026, Ini Formasi, Syarat, dan Jadwal Pendaftarannya
Aktual
Sering Mimpi Buruk dan Takut Jadi Kenyataan? Ini Cara Menyikapinya Menurut Ulama MUI
Sering Mimpi Buruk dan Takut Jadi Kenyataan? Ini Cara Menyikapinya Menurut Ulama MUI
Aktual
Anggota Komisi III DPR Dukung Pembuatan Regulasi Tegas terhadap Kampanye LGBT
Anggota Komisi III DPR Dukung Pembuatan Regulasi Tegas terhadap Kampanye LGBT
Aktual
Bagaimana Hukum Shalat Sunnah Dua Rakaat Sebelum Shalat Jumat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Bagaimana Hukum Shalat Sunnah Dua Rakaat Sebelum Shalat Jumat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Aktual
7 Amalan Sunnah Hari Jumat yang Dianjurkan Rasulullah, Amalkan untuk Menambah Pahala
7 Amalan Sunnah Hari Jumat yang Dianjurkan Rasulullah, Amalkan untuk Menambah Pahala
Aktual
Khutbah Jumat 26 Juni 2026: Menjaga Mizan: Menunaikan Amanah Khalifah dalam Merawat Bumi
Khutbah Jumat 26 Juni 2026: Menjaga Mizan: Menunaikan Amanah Khalifah dalam Merawat Bumi
Aktual
Jawa Barat Raih Predikat Wilayah Wisata Ramah Muslim Paling Menjanjikan di Negara OKI
Jawa Barat Raih Predikat Wilayah Wisata Ramah Muslim Paling Menjanjikan di Negara OKI
Aktual
Kemenag dan BI Cetak Kreator Konten Rohis SMA, Untuk Apa?
Kemenag dan BI Cetak Kreator Konten Rohis SMA, Untuk Apa?
Aktual
Saresehan MUI Bedah Pengelolaan Sampah Nasional di Tengah Tekanan Fiskal
Saresehan MUI Bedah Pengelolaan Sampah Nasional di Tengah Tekanan Fiskal
Aktual
Khutbah Jumat 26 Juni 2026: Bulan Muharram, Bulan untuk Memuliakan Anak Yatim
Khutbah Jumat 26 Juni 2026: Bulan Muharram, Bulan untuk Memuliakan Anak Yatim
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com