SUMENEP, KOMPAS.com – Libur Lebaran 2026 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berlangsung berbeda dari biasanya.
Tak hanya diisi dengan wisata, ratusan warga justru memadati kawasan wisata Pantai Lombang untuk mengikuti lomba menganyam orong ketupat, Kamis (26/3/2026).
Sejak pagi, suasana pantai yang identik dengan rekreasi berubah menjadi arena lomba bernuansa budaya. Sekitar 130 peserta dari berbagai kalangan—mulai dari unsur pemerintah daerah, pelajar, hingga masyarakat umum—turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Baca juga: Lonjakan Wisata Ramadan, Al-Balad Jeddah Tembus 4 Juta Pengunjung
Antusiasme peserta terlihat dari keseriusan mereka merangkai janur menjadi anyaman ketupat. Menariknya, para peserta tampil mengenakan pakaian adat khas Sumenep, menciptakan pemandangan penuh warna di tengah hamparan pasir putih dan deretan pohon cemara udang yang menjadi ciri khas pantai tersebut.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Festival Ketupat yang rutin digelar setiap momen Lebaran. Selain menjadi hiburan bagi wisatawan, lomba tersebut juga menjadi upaya melestarikan tradisi lokal topak lobar, yang telah lama dikenal masyarakat setempat.
Tak sekadar perlombaan, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi, khususnya bagi generasi muda. Mereka diajak mengenal sekaligus mempraktikkan langsung keterampilan menganyam ketupat yang kini mulai jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu peserta, Oliv, mengaku senang bisa ikut ambil bagian dalam lomba tersebut. “Seru, mengisi waktu libur juga, apalagi ini jarang dilakukan sekarang,” ujarnya.
Peserta lainnya, Malikatul Balqis, juga merasakan hal serupa. Menurutnya, lomba ini menjadi pengalaman baru, terlebih digelar di lokasi wisata yang ramai pengunjung.
“Sekalian liburan juga untuk menambah pengalaman. Karena seperti itu jarang,” kata Balqis.
Ia menambahkan, tradisi seperti topak lobar penting untuk terus dilestarikan di tengah arus modernisasi. “Mungkin orang tua dulu banyak yang tahu, tapi anak muda sekarang sudah jarang,” ucapnya.
Baca juga: Sekolah Tetap Masuk usai Lebaran 2026, Pemerintah Batalkan Wacana Belajar Hybrid
Balqis mengaku sempat tidak percaya diri saat awal mengikuti lomba. Namun, setelah belajar sebelumnya, ia akhirnya berani tampil.
“Awalnya sempat tidak percaya diri, tapi malamnya sempat belajar,” pungkasnya.
Momentum ini menunjukkan bahwa libur Lebaran tidak hanya bisa diisi dengan rekreasi, tetapi juga menjadi ruang memperkuat identitas budaya lokal sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang