Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dokter Gizi Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Dehidrasi dan Heat Stroke di Tanah Suci

Kompas.com, 11 Mei 2026, 20:44 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Dokter spesialis gizi klinik dr. Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK mengingatkan jemaah haji Indonesia untuk mewaspadai risiko dehidrasi dan heat stroke selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul kondisi cuaca panas ekstrem di Makkah dan Madinah yang dapat memengaruhi kesehatan jamaah, terutama lansia dan kelompok risiko tinggi.

Menurut Pande Putu, dehidrasi dapat memicu gangguan pada berbagai organ tubuh apabila tidak segera ditangani dengan baik.

Baca juga: Dokter Gizi Bagikan Tips Bagi jemaah Haji Saat Beraktivitas di Tengah Cuaca Panas Ekstrem di Tanah Suci

Karena itu, jemaah diminta menjaga asupan cairan dan mengurangi paparan panas berlebih selama menjalani rangkaian ibadah haji 2026.

Dehidrasi Bisa Ganggu Kerja Jantung dan Ginjal

Pande Putu mengatakan risiko kesehatan terbesar yang dihadapi jemaah haji saat cuaca panas adalah dehidrasi dan heat stroke atau sengatan panas.

Baca juga: Kemenhaj Imbau Jemaah Haji Hemat Tenaga Jelang Puncak Haji 2026

"Risiko terbesar adalah kondisi dehidrasi dan heat stroke. Kondisi dehidrasi akan menimbulkan gangguan pada sistem tubuh yang akhirnya dapat memicu peningkatan kerja jantung serta memperberat kerja ginjal,” kata Pande Putu saat dihubungi ANTARA, Senin (11/5/2026).

Dokter lulusan Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan dehidrasi dapat menimbulkan berbagai gejala, mulai dari tubuh lemas, rasa limbung, nyeri kepala, hingga mual.

Pada kondisi tertentu, jemaah juga dapat mengalami pandangan kabur dan sensasi seperti vertigo akibat kekurangan cairan tubuh.

Kondisi Dehidrasi Kronis Sering Tidak Disadari

Menurut Pande Putu, dehidrasi kronis kerap tidak disadari karena tubuh kehilangan sensasi haus meski cairan tubuh sebenarnya sudah berkurang.

"Pada kondisi dehidrasi yang kronis bahkan rasa haus sudah tidak dirasakan lagi dan urine sudah berkurang," ujar Pande Putu.

Karena itu, jemaah haji diminta tidak menunggu rasa haus untuk mulai minum air selama beraktivitas di Tanah Suci.

Kementerian Haji dan Umrah RI sebelumnya juga telah mengingatkan jemaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca panas ekstrem selama musim haji berlangsung.

Melalui media sosial, Kemenhaj mengimbau jemaah menjaga kondisi tubuh dengan rutin minum air, menggunakan pelindung seperti payung, serta beristirahat secara berkala di tempat teduh.

Jemaah Dianjurkan Minum Air Bertahap

Pande Putu menyarankan jemaah menjaga hidrasi tubuh dengan mengonsumsi cairan secara bertahap sepanjang hari.

Menurutnya, kebutuhan cairan normal orang dewasa berkisar delapan hingga 10 gelas per hari dengan ukuran sekitar 250 mililiter per gelas. Namun, kebutuhan cairan bisa meningkat saat cuaca panas dan aktivitas ibadah lebih padat.

"Usahakan konsumsi air mineral 150 mililiter per jam untuk menjaga hidrasi selama melakukan kegiatan ibadah," kata Pande Putu.

Selain air putih, jemaah juga dianjurkan mengonsumsi buah-buahan dengan kandungan air tinggi dan makanan berkuah untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.

“Air elektrolit dapat diperlukan, tapi bukan menjadi minuman utama dan tetap harus dikombinasikan dengan air mineral,” ujarnya.

Warna Urine Jadi Indikator Kondisi Tubuh

Pande Putu juga mengingatkan jemaah agar rutin memantau warna urine sebagai salah satu indikator kondisi hidrasi tubuh.

Sebelumnya, Kementerian Haji dan Umrah RI juga mengimbau jemaah menggunakan payung atau pelindung berwarna terang saat berada di luar ruangan.

Selain itu, jemaah diminta rutin beristirahat di tempat teduh guna mencegah kelelahan akibat suhu panas ekstrem selama menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Aktual
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Aktual
Fenomena Sosial 'Marriage is Scary': Bagaimana Pandangan Islam?
Fenomena Sosial "Marriage is Scary": Bagaimana Pandangan Islam?
Aktual
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
Aktual
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Aktual
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Aktual
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Aktual
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Doa dan Niat
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
Aktual
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar