Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Lebaran Penyintas Banjir Aceh Timur, dari Pohon Pengingat Sujud hingga Tradisi Meugang

Kompas.com, 23 Maret 2026, 16:58 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Ingatan tentang banjir bandang di Aceh Timur masih membekas bagi para penyintas hingga kini. Momentum Lebaran pun menjadi titik penting untuk kembali menata kehidupan.

Meski waktu terus berjalan, trauma dan kehilangan belum sepenuhnya hilang. Namun, di tengah keterbatasan, semangat bangkit mulai terlihat.

Dilansir dari Antara, bencana banjir bandang yang melanda Dusun Rantau Panjang Rubek, Desa Sijudo, Kabupaten Aceh Timur, pada Rabu, 26 November 2025 lalu telah menjadi peristiwa yang sulit dilupakan oleh warga, termasuk bagi sang Kepala Dusun, Jahidin.

Baca juga: Prabowo Apresiasi Pemulihan Aceh Tamiang yang Hampir 100 Persen

Hari yang awalnya berjalan normal berubah menjadi mimpi buruk ketika air datang begitu cepat seperti tsunami.

Dusun yang berada di tepi Sungai Arakundo itu porak-poranda, menghancurkan permukiman 46 kepala keluarga hingga hanya menyisakan satu rumah.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, banjir tersebut menghancurkan rumah, harta benda, serta lahan yang menjadi sumber penghidupan warga.

Baca juga: 6 Ton Daging Bantuan Presiden Prabowo Disalurkan ke Korban Bencana di Aceh Barat

Cerita Kesedihan dan Pohon “Pengingat Sujud”

Jahidin mengaku sulit menggambarkan kesedihan yang dirasakan warganya. Namun, ia memilih untuk tetap mengingat peristiwa tersebut sebagai pelajaran hidup.

"Ini pelajaran agar kita lebih bersujud lagi kepada Allah," ujar dia sembari menunjuk pohon-pohon pinang yang pucuknya melengkung hingga ke tanah yang dimaknainya sebagai sikap sujud.

Menurutnya, posisi pohon pinang tersebut menyerupai orang yang sedang bersujud.

"Pohon-pohon pinang itu saja bersujud karena banjir yang merupakan kuasa Allah. Kita sebagai manusia seharusnya lebih dari itu," kata Jahidin.

Proses Pemulihan Pascabencana

Beberapa hari setelah bencana, warga hidup dalam kesedihan dan keterbatasan. Dusun yang sebelumnya ramai berubah menjadi sunyi dengan sisa-sisa kehancuran.

Warga bertahan dalam kondisi sulit, saling menguatkan di tengah ketidakpastian. Setiap hari menjadi perjuangan untuk bertahan hidup sambil menunggu bantuan.

Bantuan darurat akhirnya datang dan menjadi titik awal pemulihan. Tenda-tenda darurat didirikan sebagai tempat tinggal sementara, sementara dapur umum mulai beroperasi untuk memenuhi kebutuhan makan warga.

Selain itu, alat berat dikerahkan untuk membersihkan lumpur dan sisa kayu akibat banjir. Proses ini menjadi tanda dimulainya pemulihan dusun.

Peran pemerintah dinilai sangat penting dalam membantu pemulihan melalui bantuan logistik, tenaga, dan dukungan lainnya. Selain itu, berbagai komunitas juga turut membantu, termasuk Atjeh Connection Foundation yang mendampingi warga selama masa sulit.

"Kehadiran para relawan membawa semangat baru bagi kami untuk bangkit melewati semua ini. Termasuk juga seperti kedatangan teman-teman dari ANTARA ini," ujar Jahidin.

Saat ini, pemulihan telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Sebagian warga telah menempati hunian sementara, sementara lainnya masih menunggu pembangunan rumah selesai.

Meski belum sepenuhnya pulih, tanda-tanda kehidupan mulai terlihat. Warga perlahan menata kembali aktivitas sehari-hari dengan semangat kebersamaan yang semakin kuat.

Tradisi Meugang di Tengah Proses Pemulihan

Di tengah proses pemulihan, warga tetap menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dengan menjalankan tradisi meugang, yaitu makan daging bersama menjelang Lebaran.

Sejak pagi, warga berkumpul dan berbagi tugas. Kaum laki-laki menyembelih hewan dan memotong daging, sementara perempuan menyiapkan bumbu dan memasak.

Suasana kebersamaan terasa hangat melalui percakapan, tawa, dan kerja sama. Bagi warga, meugang bukan sekadar makan bersama, tetapi juga momen mempererat hubungan sosial.

Hidangan kemudian dibagikan dan disantap bersama dalam suasana sederhana namun penuh makna.

Idul Fitri dan Semangat Kebangkitan

Selain meugang, warga juga bergotong royong menyiapkan lapangan untuk pelaksanaan shalat Ied.

Dengan peralatan terbatas, mereka membersihkan dan meratakan tanah agar ibadah dapat berlangsung khusyuk.

Semangat kebersamaan juga terlihat saat malam takbiran. Warga menggelar pawai obor sambil mengumandangkan takbir, menciptakan suasana haru dan penuh sukacita.

Pesta kembang api turut memeriahkan malam, menjadi simbol kegembiraan dalam menyambut hari kemenangan.

Bagi Jahidin, rangkaian kegiatan tersebut mencerminkan semangat kebangkitan warga setelah bencana.

Saat Idul Fitri tiba, warga melaksanakan shalat Id bersama di lapangan. Dalam suasana khusyuk, Jahidin tak kuasa menahan haru melihat warganya bersujud dalam doa, mengingatkan pada pohon-pohon pinang yang “bersujud” di tanah yang pernah dilanda bencana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah Resmi Tetapkan 13 Formatur PPNA 2026-2030
Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah Resmi Tetapkan 13 Formatur PPNA 2026-2030
Aktual
Doa I'tidal: Arab, Latin, Arti, Gerakan, dan Bacaan Sesuai Sunnah
Doa I'tidal: Arab, Latin, Arti, Gerakan, dan Bacaan Sesuai Sunnah
Doa Harian
Resmi! Kemenag Bentuk Ditjen Pesantren, Ini Susunan Organisasinya
Resmi! Kemenag Bentuk Ditjen Pesantren, Ini Susunan Organisasinya
Aktual
MUI Ingatkan 3 Hal soal Agustusan: Mulai Kostum Pria hingga Hadiah Lomba
MUI Ingatkan 3 Hal soal Agustusan: Mulai Kostum Pria hingga Hadiah Lomba
Aktual
Cara Menunaikan Shalat Fardhu saat Darurat Bencana Gempa, Ada Keringanan
Cara Menunaikan Shalat Fardhu saat Darurat Bencana Gempa, Ada Keringanan
Aktual
Kapan Shalat Jamak Qashar Bisa Dilakukan? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Kapan Shalat Jamak Qashar Bisa Dilakukan? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Jarak Bepergian untuk Jamak Qashar Berapa Km? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Jarak Bepergian untuk Jamak Qashar Berapa Km? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Sholat Jamak Takhir Maghrib dan Isya di Waktu Isya: Niat dan Tata Caranya
Sholat Jamak Takhir Maghrib dan Isya di Waktu Isya: Niat dan Tata Caranya
Doa Harian
Allahu Akbar Kabiro: Bacaan Doa Iftitah Arab, Latin, Arti, dan Hukumnya
Allahu Akbar Kabiro: Bacaan Doa Iftitah Arab, Latin, Arti, dan Hukumnya
Doa Harian
Dari Wakaf 200.000 Orang hingga Aurora, Kisah Masjid Indonesia di Kanada
Dari Wakaf 200.000 Orang hingga Aurora, Kisah Masjid Indonesia di Kanada
Aktual
Momen Suami Nikita Willy Pimpin Sholat Jumat di Masjid Al-Ikhlas Edmonton Kanada Tuai Pujian
Momen Suami Nikita Willy Pimpin Sholat Jumat di Masjid Al-Ikhlas Edmonton Kanada Tuai Pujian
Aktual
MUI Haramkan Uang Pendaftaran untuk Hadiah Lomba Agustusan
MUI Haramkan Uang Pendaftaran untuk Hadiah Lomba Agustusan
Aktual
MUI: Pria Berkostum Perempuan saat Karnaval 17 Agustus Hukumnya Haram
MUI: Pria Berkostum Perempuan saat Karnaval 17 Agustus Hukumnya Haram
Aktual
Doa untuk Sambutan Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI 17 Agustus 2026
Doa untuk Sambutan Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI 17 Agustus 2026
Doa dan Niat
Hari Santri 2026, Kemenag Siapkan Akad Massal KPR 1.000 Guru Pesantren
Hari Santri 2026, Kemenag Siapkan Akad Massal KPR 1.000 Guru Pesantren
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar