Editor
KOMPAS.com-Tokoh agama Islam KH Muhammad Adnan Arsal meninggal dunia pada Jumat sekitar pukul 18.30 WIB di Poso, Sulawesi Tengah.
Kabar duka ini disampaikan Ketua Yayasan Wakaf Amanatul Ummah (YWAU) Poso Yusrin Ichtiawan.
Almarhum dikenal luas sebagai juru damai dalam konflik Poso yang pernah berlangsung bertahun-tahun.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi masyarakat, khususnya di Sulawesi Tengah.
“Innalillahi wainnailaihi ilaihi Raji'un, dengan izin Allah dan pulang dengan tenang telah kembali menuju Rabb Nya ayahanda, orangtua dan guru kita KH Muhammad Adnan Arsal,” kata Yusrin, dilansir dari Antara, Sabtu (28/3/2026).
Ia juga menyampaikan terima kasih atas doa dan dukungan berbagai pihak selama almarhum menjalani perawatan karena sakit.
Baca juga: Di Manakah Ruh Tinggal Setelah Meninggal? Berikut Penjelasan Lengkapnya
KH Muhammad Adnan Arsal dikenal sebagai tokoh yang berperan penting dalam meredakan konflik Poso.
Perjuangannya diabadikan dalam buku berjudul Muhammad Adnan Arsal: Panglima Damai Poso karya Khoirul Anam yang terbit pada 2021.
Julukan “panglima” disematkan kepadanya, namun bukan dalam konteks peperangan.
Ia justru memilih jalur damai dengan mengedepankan dialog sebagai solusi konflik.
“Perang tak akan usai dengan ayunan parang, tetapi harus diselesaikan melalui dialog dengan hati yang lapang,” begitu salah satu pesan yang terekam dalam buku tersebut.
Setelah konflik mereda, Ustaz Adnan mendirikan Yayasan Wakaf Amanatul Ummah (YWAU) pada 2001.
Yayasan tersebut bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial yang berpusat di Kayamanya, Poso.
Lembaga ini berfokus pada pendidikan Islam, kegiatan sosial kemanusiaan, serta pemberdayaan ekonomi umat dengan manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Baca juga: Doa untuk Orang Tua yang Sudah Meninggal Dunia
Di tengah situasi konflik yang memanas, Ustaz Adnan memilih menjadi jembatan perdamaian.
Ia mengajak semua pihak untuk duduk bersama dan mencari solusi secara manusiawi.
“Konflik ini bikin kita semua lelah, frustrasi, habis semua,” pernah ia ungkapkan.
Ia juga terus mengingatkan pentingnya dialog dalam menyelesaikan konflik.
“Utamakan dialog. Konflik di masyarakat pasti bisa didialogkan. Selesaikan semuanya dengan damai, tak perlu lakukan kekerasan. Itu tidak akan menyelesaikan konflik,” pesannya.
Bagi masyarakat Poso, KH Muhammad Adnan Arsal bukan sekadar tokoh agama.
Ia dikenal sebagai sosok yang menenun harapan di tengah konflik dan kekerasan.
Perannya dalam menjaga perdamaian telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Kini, sosoknya telah tiada, namun nilai dan pesan damai yang ditinggalkan tetap hidup.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang