Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perusahaan Tertua di Dunia Ini Sudah Berdiri Sejak Rasulullah Kecil, Tapi Bukan di Arab

Kompas.com, 28 Maret 2026, 16:20 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Siapa sangka, salah satu perusahaan tertua di dunia ternyata sudah berdiri sejak masa kecil Nabi Muhammad SAW. Namun, perusahaan ini bukan berasal dari Arab, melainkan dari Jepang.

Perusahaan tersebut adalah Kongo Gumi, sebuah perusahaan konstruksi yang berdiri lebih dari 1.400 tahun lalu dan dikenal sebagai perusahaan tertua di dunia yang masih bertahan hingga era modern.

Berdiri Sejak Abad ke-6, Sezaman Masa Kecil Rasulullah

Dilansir dari situs resmi perusahaan, kongogumi.co.jp, Kongo Gumi didirikan sekitar tahun 578 Masehi oleh seorang tukang kayu bernama Kongō Shigemitsu. Masa ini berdekatan dengan periode kelahiran Nabi Muhammad SAW yang lahir pada tahun 571 M.

Artinya, ketika Rasulullah masih kecil di Mekkah, perusahaan ini sudah mulai beroperasi—meski berada jauh di Jepang.

Baca juga: Iran Buka Jalur Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz

Kongo Gumi bermula dari proyek pembangunan kuil Buddha pertama di Jepang, yaitu Shitennoji Temple di Osaka.

Pembangunan ini dilakukan atas perintah Pangeran Shotoku yang mengundang para pengrajin dari Baekje (Korea kuno).

Bertahan Lebih dari 1.400 Tahun

Sejak awal berdiri, Kongo Gumi fokus pada pembangunan dan perawatan kuil-kuil Buddha. Keahlian tersebut diwariskan dari generasi ke generasi selama lebih dari 40 generasi keluarga.

Meski berkali-kali menghadapi bencana seperti kebakaran, perang, hingga gempa, perusahaan ini tetap bertahan.

Bahkan, kuil Shitennoji yang mereka bangun berulang kali direkonstruksi menggunakan teknik tradisional keluarga tersebut.

Pada masa perang hingga era modern, Kongo Gumi juga mengalami masa sulit, termasuk krisis keuangan dan perubahan kebijakan pemerintah.

Namun, perusahaan ini terus beradaptasi, termasuk mulai menggunakan teknologi konstruksi modern tanpa meninggalkan nilai tradisional.

Rahasia Bertahan: Nilai dan Filosofi Kerja

Kantor pusat Kongo Gumi, perusahaan tertua di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini.WIKIMEDIA COMMONS/GOLFLF Kantor pusat Kongo Gumi, perusahaan tertua di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini.

Salah satu kekuatan Kongo Gumi adalah prinsip kerja yang diwariskan turun-temurun. Dalam wasiat keluarga, terdapat ajaran penting bagi para pengrajin, seperti:

  • Bersikap jujur dalam pekerjaan
  • Menghormati sesama pekerja
  • Terus belajar dan meningkatkan keterampilan
  • Menjaga nilai spiritual dan tradisi

Nilai-nilai ini membuat perusahaan tidak hanya bertahan secara bisnis, tetapi juga sebagai penjaga warisan budaya Jepang.

Dari Tradisi ke Modernisasi

Memasuki abad ke-20, Kongo Gumi mulai bertransformasi menjadi perusahaan konstruksi modern. Pada 1955, perusahaan ini resmi menjadi korporasi dan memperluas bidang usahanya.

Mereka bahkan mengembangkan teknik unik yang menggabungkan beton modern dengan estetika arsitektur tradisional Jepang, sehingga tetap mempertahankan nuansa klasik.

Kini, Kongo Gumi menjadi bagian dari grup konstruksi besar Jepang, namun tetap menjaga identitasnya sebagai perusahaan warisan budaya.

Kisah Sejarah yang Menginspirasi

Menariknya, keberadaan Kongo Gumi menjadi bukti bahwa peradaban dunia berkembang secara paralel.

Saat Rasulullah SAW tumbuh sebagai anak yatim di Mekkah dan kelak membawa risalah Islam, di belahan dunia lain, Jepang juga membangun fondasi budaya melalui karya arsitektur.

Kisah ini menunjukkan bahwa sejarah manusia saling terhubung dalam waktu, meski berbeda tempat dan budaya.

Baca juga: Ketum PBNU Gus Yahya Temui Dubes Iran, Sampaikan Dukungan Moral

Lebih dari Sekadar Perusahaan

Kongo Gumi bukan hanya perusahaan konstruksi, tetapi simbol ketekunan, tradisi, dan kemampuan beradaptasi lintas zaman.

Dari era kuno hingga modern, perusahaan ini membuktikan bahwa nilai, keahlian, dan konsistensi mampu membuat sesuatu bertahan lebih dari satu milenium.

Sebuah pengingat bahwa warisan terbaik bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga nilai yang terus hidup dari generasi ke generasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Aktual
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Aktual
Fenomena Sosial 'Marriage is Scary': Bagaimana Pandangan Islam?
Fenomena Sosial "Marriage is Scary": Bagaimana Pandangan Islam?
Aktual
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
Aktual
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Aktual
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Aktual
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Aktual
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Doa dan Niat
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
Aktual
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar