Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini Sosok Hormuz, Panglima Persia Penantang Khalid bin Walid

Kompas.com, 3 April 2026, 15:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di antara deretan kisah epik dalam sejarah penaklukan Persia, nama Hormuz kerap muncul sebagai sosok yang tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga dikenal dengan karakter keras dan tak kenal kompromi.

Ia adalah panglima kepercayaan Kekaisaran Persia yang berhadapan langsung dengan Khalid bin Walid dalam sebuah pertempuran besar yang dikenal sebagai Perang Dzatus Salasil.

Pertemuan dua tokoh ini bukan sekadar bentrokan dua pasukan, tetapi juga simbol pertemuan dua kekuatan besar dengan latar belakang, strategi, dan keyakinan yang berbeda.

Baca juga: Kisah Usamah bin Zaid: Panglima Perang Termuda dalam Sejarah Islam

Hormuz, Panglima Persia yang Ditakuti

Dalam literatur sejarah Islam klasik, Hormuz digambarkan sebagai pemimpin militer yang berpengaruh di bawah kekuasaan Kisra.

Ia bukan sekadar prajurit, tetapi juga bagian dari elit kekuasaan Persia yang memiliki kedudukan tinggi.

Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Hormuz merupakan sosok yang tegas, keras, bahkan cenderung bengis dalam menghadapi musuh.

Namun di sisi lain, ia juga dikenal sebagai bangsawan yang memiliki kehormatan dalam struktur kerajaan Persia.

Karakter ini menjadikannya figur yang disegani, tetapi sekaligus menimbulkan ketakutan di medan perang.

Baca juga: Iran Buka Jalur Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz

Awal Mula Perang Dzatus Salasil

Konflik antara pasukan Islam dan Persia bermula dari ekspansi wilayah yang dilakukan kaum muslimin ke arah timur.

Saat itu, Khalid bin Walid memimpin ekspedisi menuju wilayah kekuasaan Persia sebagai bagian dari strategi militer yang lebih luas.

Dalam buku Sejarah Lengkap Perang-Perang Rasulullah karya Ali Muhammad Ash-Shallabi, disebutkan bahwa Khalid terlebih dahulu mengirimkan surat kepada penguasa Persia sebagai bentuk diplomasi.

Namun, respons yang datang justru berupa mobilisasi pasukan besar di bawah komando Hormuz.

Hormuz kemudian mengerahkan tentaranya menuju wilayah Kazhimah, sebuah titik strategis yang menjadi lokasi pertempuran.

Strategi Pasukan Rantai yang Kontroversial

Salah satu hal yang paling mencolok dari pasukan Hormuz adalah penggunaan rantai untuk mengikat sebagian tentaranya.

Strategi ini dimaksudkan agar pasukan tidak mundur atau melarikan diri saat perang berlangsung.

Karena itulah, pertempuran ini dikenal sebagai Perang Dzatus Salasil, yang secara harfiah berarti “perang rantai”.

Namun, strategi ini juga menjadi bumerang. Dalam buku Tarikh al-Tabari karya Al-Tabari, disebutkan bahwa keterikatan fisik tersebut justru membuat pasukan Persia sulit bergerak fleksibel ketika situasi berubah di medan perang.

Di sisi lain, pasukan Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid mengandalkan mobilitas dan ketahanan mental yang tinggi.

Baca juga: Jejak Kota Ubullah: Pelabuhan Persia yang Ditaklukkan Khalid bin Walid, Kini Tinggal Nama

Momentum Alam dan Keteguhan Pasukan Muslim

Salah satu momen penting dalam pertempuran ini adalah ketika pasukan Muslim mengalami krisis air. Dalam kondisi genting tersebut, Khalid memotivasi pasukannya untuk tetap bertahan.

Menurut riwayat yang dinukil dalam berbagai kitab sejarah, Allah kemudian menurunkan hujan deras yang memberikan suplai air bagi pasukan Muslim.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi solusi logistik, tetapi juga meningkatkan moral pasukan secara signifikan.

Perubahan kondisi alam ini menjadi titik balik yang memperkuat posisi pasukan Muslim sebelum bentrokan besar terjadi.

Duel Penentu: Hormuz vs Khalid bin Walid

Di tengah memanasnya pertempuran, Hormuz mengambil langkah berani dengan menantang duel satu lawan satu. Tantangan ini diterima oleh Khalid bin Walid tanpa ragu.

Pertarungan keduanya berlangsung sengit. Dua panglima dengan kemampuan tempur tinggi saling berhadapan dalam duel yang menentukan arah pertempuran.

Dalam riwayat yang disebutkan Ibnu Katsir, Khalid berhasil mengalahkan Hormuz dalam duel tersebut. Kemenangan ini langsung berdampak besar terhadap mental pasukan Persia.

Melihat panglimanya tumbang, barisan mereka mulai kacau. Dalam situasi itu, pasukan Muslim melancarkan serangan lanjutan yang membuat pasukan Persia tercerai-berai.

Baca juga: Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah

Dampak Besar bagi Jalannya Sejarah

Kekalahan Hormuz bukan hanya kekalahan individu, tetapi juga menjadi simbol runtuhnya kekuatan Persia di wilayah tersebut.

Pasukan yang sebelumnya terikat rantai justru tidak mampu bertahan dan akhirnya melarikan diri.

Dalam catatan sejarah, pasukan Muslim berhasil menguasai logistik perang yang sangat besar, termasuk harta rampasan yang mencapai ribuan muatan.

Peristiwa ini menjadi salah satu kemenangan awal penting dalam ekspansi Islam ke wilayah Persia, yang kemudian berlanjut ke pertempuran-pertempuran berikutnya.

Hormuz dalam Perspektif Sejarah

Meski dikenal sebagai sosok bengis, Hormuz tetap menjadi bagian penting dalam narasi sejarah.

Ia merepresentasikan kekuatan besar Persia yang saat itu menjadi salah satu imperium terkuat di dunia.

Kisahnya juga menunjukkan bahwa kekuatan militer semata tidak selalu menentukan kemenangan. Faktor strategi, ketahanan mental, dan keyakinan memainkan peran yang tidak kalah penting.

Pelajaran dari Perang Dzatus Salasil

Kisah pertemuan antara Hormuz dan Khalid bin Walid menyimpan banyak pelajaran. Bukan hanya tentang keberanian di medan perang, tetapi juga tentang bagaimana kepemimpinan diuji dalam situasi sulit.

Dalam perspektif sejarah Islam, kemenangan tidak semata dilihat dari jumlah pasukan, tetapi dari kualitas iman, strategi, dan kesabaran.

Perang Dzatus Salasil menjadi bukti bahwa dalam kondisi paling terdesak sekalipun, harapan tetap ada bagi mereka yang mampu bertahan dan percaya.

Dan mungkin, di situlah letak daya tarik kisah ini, sebuah pertempuran yang bukan hanya soal pedang dan strategi, tetapi juga tentang keyakinan yang mengubah jalannya sejarah.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar