Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Awal Mula Haji di Indonesia, Ini Sosok yang Diduga Pertama Naik Haji

Kompas.com, 8 April 2026, 10:04 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Siapakah orang pertama dari Indonesia yang menunaikan ibadah haji? Pertanyaan ini kerap muncul dalam kajian sejarah Islam Nusantara, namun jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan.

Tidak ada satu nama yang disepakati secara mutlak. Sejumlah sumber menyebut tokoh berbeda, dari kalangan bangsawan hingga pelaut dan saudagar.

Namun justru di situlah letak menariknya, sejarah haji Indonesia bukan dimulai oleh ulama besar, melainkan oleh jejaring perdagangan, mobilitas lintas budaya, dan pencarian spiritual individu.

Jejak Awal Haji Nusantara: Antara Fakta dan Tradisi Lisan

Sejarah mencatat bahwa hubungan antara Nusantara dan Timur Tengah sudah terjalin sejak abad awal Masehi melalui jalur perdagangan. Para pedagang dari Arab, Persia, dan India datang silih berganti ke wilayah kepulauan ini.

Dalam buku Islam & Transformasi Masyarakat Nusantara karya Moeflich Hasbullah, disebutkan bahwa interaksi intensif tersebut membuka kemungkinan besar bahwa masyarakat Nusantara telah mengenal ibadah haji jauh sebelum Islam berkembang secara luas di Indonesia.

Bahkan, ada dugaan bahwa tokoh dari Kerajaan Sriwijaya telah memiliki hubungan dengan dunia Islam sejak abad ke-8.

Raja Sri Indravarman disebut menjalin komunikasi dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Jika benar ia telah memeluk Islam, bukan tidak mungkin perjalanan ke Makkah pernah dilakukan, meski belum ada bukti kuat yang memastikan hal tersebut.

Dengan keterbatasan sumber tertulis, fase ini masih berada di antara dugaan historis dan interpretasi akademik.

Baca juga: Dulu Jemaah Haji Dibiarkan Sendiri, Kini Disubsidi: Begini Sejarah Panjangnya

Haji Purwa: Sosok Awal yang Paling Sering Disebut

Dalam tradisi Sunda, nama yang paling sering disebut sebagai pelopor haji dari Nusantara adalah Haji Purwa.

Ia dikenal sebagai putra bangsawan dari Kerajaan Galuh bernama Bratalegawa. Menurut buku Prinsip Tradisionalistik dan Konsep Masa Depan Masyarakat Sunda karya Adeng Lukmantara, Bratalegawa lahir sekitar tahun 1350 M dan merupakan keturunan raja.

Namun berbeda dari stereotip bangsawan, ia justru memilih jalan sebagai saudagar. Aktivitas perdagangannya membawanya berlayar ke berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Malaka, hingga India, Persia, dan Jazirah Arab.

Dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan perempuan Muslim dari Gujarat dan kemudian memeluk Islam.

Setelah menikah, ia melanjutkan pelayaran hingga ke Makkah dan disebut menunaikan ibadah haji.

Sepulang dari Tanah Suci, ia dikenal dengan gelar “Haji Purwa”, yang secara harfiah berarti haji pertama. Dalam beberapa catatan lokal, ia juga disebut menggunakan nama Haji Baharuddin al-Jawi.

Kisahnya tercatat dalam naskah klasik seperti Carita Parahiyangan dan Naskah Wangsakerta. Meski bersifat semi-historis dan bercampur tradisi lisan, banyak sejarawan menilai kisah ini sebagai salah satu jejak awal praktik haji oleh orang Nusantara.

Alternatif Sejarah: Tokoh Lain yang Disebut Lebih Awal

Meski nama Haji Purwa cukup populer, sejumlah peneliti mengajukan tokoh lain sebagai kandidat orang pertama yang berhaji dari Indonesia.

Dalam buku Naik Haji di Masa Silam Jilid II, sejarawan Henri Chambert-Loir menyebut kemungkinan adanya tokoh dari kawasan Malaka yang telah berhaji sekitar abad ke-15, salah satunya seorang laksamana yang disebut melakukan perjalanan ke Makkah pada 1482.

Selain itu, ada pula nama Pangeran Abdul Dohhar, putra dari Sultan Ageng Tirtayasa. Ia disebut berangkat haji sekitar tahun 1630 bersama rombongan ulama dan pedagang menggunakan kapal layar.

Jika melihat kronologi, tokoh-tokoh ini hidup setelah masa Bratalegawa. Namun keunggulan mereka terletak pada dokumentasi yang relatif lebih kuat dibandingkan sumber-sumber tradisional Sunda.

Baca juga: Doa dalam Perjalanan Jemaah Haji: Lengkap Arab, Latin, dan Artinya (Panduan Resmi)

Haji sebagai Jaringan Perdagangan dan Dakwah

Satu hal yang menarik dari sejarah awal haji di Indonesia adalah latar belakang para pelakunya. Mereka bukan ulama dalam arti formal, melainkan pedagang dan pelaut.

Hal ini sejalan dengan tesis dalam buku The Hadrami Diaspora in Southeast Asia karya Natalie Mobini-Kesheh, yang menjelaskan bahwa penyebaran Islam di Asia Tenggara sangat erat dengan jaringan perdagangan.

Perjalanan haji pada masa itu tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari mobilitas global para pedagang Muslim yang:

  • Berdagang lintas wilayah
  • Menjalin hubungan sosial dan pernikahan
  • Sekaligus menunaikan ibadah

Dengan kata lain, haji menjadi simpul penting dalam jaringan ekonomi dan dakwah.

Perjalanan yang Panjang dan Penuh Risiko

Berbeda dengan masa kini, perjalanan haji pada abad-abad awal bisa memakan waktu sangat lama, bahkan hingga dua tahun.

Jamaah harus menempuh:

  • Perjalanan laut berbulan-bulan
  • Persinggahan di berbagai pelabuhan
  • Risiko cuaca ekstrem dan penyakit

Dalam buku Indonesian Hajj: Journey of Faith karya M. Dien Madjid, disebutkan bahwa sebelum era modern, perjalanan haji adalah ujian fisik dan mental yang berat. Tidak sedikit jamaah yang meninggal sebelum sampai ke tujuan.

Karena itu, mereka yang berhasil pulang dari haji sering mendapatkan status sosial tinggi di masyarakat.

Baca juga: Arab Saudi: Kartu Nusuk Jadi Kunci Utama Haji 2026, Wajib Dibawa Jemaah Setiap Saat

Mengapa Sulit Menentukan “Yang Pertama”?

Pertanyaan tentang siapa orang pertama Indonesia yang berhaji sebenarnya sulit dijawab secara pasti. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor:

Pertama, minimnya sumber tertulis dari periode awal. Banyak catatan sejarah yang masih berbentuk tradisi lisan atau naskah lokal yang ditulis jauh setelah peristiwa terjadi.

Kedua, wilayah Indonesia pada masa itu belum berbentuk negara, melainkan kerajaan-kerajaan yang tersebar. Identitas “orang Indonesia” pun masih bersifat kultural, bukan nasional.

Ketiga, mobilitas perdagangan yang tinggi membuat banyak individu bepergian tanpa dokumentasi resmi, termasuk untuk tujuan ibadah.

Karena itu, alih-alih mencari satu nama pasti, para sejarawan lebih melihat fenomena haji sebagai proses kolektif yang berkembang secara bertahap.

Dari Jejak Individual ke Tradisi Kolektif

Dari kisah Haji Purwa hingga tokoh-tokoh lain yang disebut dalam berbagai sumber, satu hal menjadi jelas, perjalanan haji Indonesia berakar dari keberanian individu yang melintasi batas geografis dan budaya.

Mereka bukan hanya menjalankan ibadah, tetapi juga membuka jalan bagi generasi berikutnya.

Dari pelayaran panjang dengan kapal layar hingga sistem modern saat ini, tradisi haji Indonesia terus berkembang.

Maka, ketika berbicara tentang “orang pertama naik haji di Indonesia”, jawabannya bukan sekadar satu nama.

Ia adalah rangkaian sejarah panjang yang melibatkan banyak tokoh, jaringan perdagangan, dan proses Islamisasi yang kompleks.

Dan dari situlah, kisah haji Indonesia menemukan maknanya, bukan hanya perjalanan menuju Makkah, tetapi juga perjalanan peradaban.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar