Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jarang Dibahas, Saat Muslimah Pimpin Ilmu Dunia di Era Keemasan Islam

Kompas.com, 10 April 2026, 08:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Sejarah peradaban Islam sering dikenang melalui nama-nama besar para ilmuwan dan tokoh laki-laki.

Namun di balik itu, ada jejak yang tak kalah kuat, bahkan kerap luput dari sorotan, peran perempuan Muslim dalam membangun fondasi ilmu pengetahuan, pendidikan, hingga layanan sosial di masa keemasan Islam.

Pada era yang dikenal sebagai Islamic Golden Age, sekitar abad ke-8 hingga ke-13, perempuan Muslim tidak sekadar hadir sebagai pelengkap.

Mereka adalah penggerak, pengajar, peneliti, bahkan pelopor institusi ilmu yang bertahan hingga hari ini.

Di tengah dunia yang kala itu masih membatasi ruang perempuan, peradaban Islam justru membuka jalan. Dan dari sanalah, lahir kisah-kisah yang hingga kini tetap relevan.

Baca juga: 6 Pahlawan Muslimah Indonesia dan Perannya dalam Sejarah Kemerdekaan

Ketika Ilmu Menjadi Ibadah

Sejak awal, Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi kehidupan. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an, “Iqra” atau “bacalah” menjadi simbol bahwa pencarian ilmu adalah perintah universal, tanpa membedakan laki-laki atau perempuan.

Dalam berbagai riwayat, Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.

Prinsip inilah yang kemudian membentuk budaya intelektual yang inklusif pada masa kekhalifahan.

Dalam buku The Venture of Islam karya Marshall G.S. Hodgson, dijelaskan bahwa masyarakat Islam klasik memiliki tradisi keilmuan yang terbuka, di mana perempuan dapat belajar, mengajar, dan bahkan menjadi otoritas ilmiah.

Masjid, rumah, hingga perpustakaan menjadi ruang hidup bagi diskusi dan transmisi ilmu—dan perempuan hadir di dalamnya.

Perempuan dan Lahirnya Institusi Pendidikan

Salah satu simbol paling kuat dari kontribusi perempuan adalah berdirinya lembaga pendidikan.

Nama Fatima al-Fihri menjadi contoh yang tidak terbantahkan. Pada abad ke-9, ia mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko yang hingga kini diakui sebagai universitas tertua di dunia yang terus beroperasi.

Dalam buku Lost Islamic History karya Firas Alkhateeb, disebutkan bahwa Al-Qarawiyyin bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga ilmu matematika, astronomi, dan bahasa.

Fakta bahwa institusi sebesar ini didirikan oleh seorang perempuan menunjukkan bagaimana visi intelektual Muslimah di masa itu melampaui zamannya.

Baca juga: 5 Muslimah Hebat Zaman Nabi: Kisah Inspiratif dan Perannya

Jejak Ilmuwan Perempuan di Berbagai Bidang

Perempuan Muslim pada masa keemasan Islam tidak hanya berkutat pada satu bidang. Mereka hadir di berbagai disiplin ilmu.

1. Ilmu Pengetahuan dan Matematika

Sutayta al-Mahamali dikenal sebagai ahli matematika yang menguasai ilmu hitung dan waris. Ia hidup di Baghdad dan menjadi salah satu perempuan yang diakui keilmuannya di bidang eksakta.

Dalam catatan sejarah yang dirujuk dalam Women in Islamic Civilisation karya Dr. Yusuf al-Qaradawi, Sutayta disebut sebagai sosok yang mampu menyelesaikan persoalan matematika kompleks, terutama terkait hukum faraid (waris).

2. Kedokteran dan Kemanusiaan

Nama Rufayda al-Aslamia sering disebut sebagai perawat pertama dalam sejarah Islam.

Ia dikenal karena perannya merawat korban perang pada masa Rasulullah. Lebih dari itu, ia juga mendirikan semacam tenda medis, cikal bakal rumah sakit lapangan.

Dalam buku Islamic Medicine karya Manfred Ullmann, peran Rufayda disebut sebagai tonggak awal profesionalisme dalam dunia medis Islam, termasuk pelatihan tenaga kesehatan perempuan.

3. Perpustakaan dan Intelektualitas

Di Andalusia, Lubna al-Qurtubiyyah menjadi sosok penting dalam pengelolaan perpustakaan kerajaan Cordoba.

Ia bukan sekadar pustakawan, tetapi juga ilmuwan yang mahir dalam matematika dan sastra. Pada masa itu, Cordoba dikenal sebagai salah satu pusat ilmu terbesar di Eropa, dengan ratusan ribu manuskrip.

Dalam buku The House of Wisdom karya Jim Al-Khalili, disebutkan bahwa keberadaan para intelektual seperti Lubna menunjukkan betapa luasnya partisipasi perempuan dalam menjaga dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

4. Guru, Perawi Hadis, dan Penjaga Ilmu

Selain sebagai ilmuwan, perempuan Muslim juga memainkan peran penting sebagai guru dan perawi hadis.

Banyak ulama besar belajar dari perempuan. Bahkan, dalam tradisi hadis, sejumlah perawi perempuan dikenal sangat kredibel.

Dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi, disebutkan bahwa ratusan perempuan menjadi perawi hadis yang terpercaya.

Fakta ini menunjukkan bahwa transmisi ilmu dalam Islam tidak pernah eksklusif. Perempuan bukan hanya objek pendidikan, tetapi subjek utama yang menjaga otentisitas ajaran.

Dari Rumah ke Ruang Publik

Peran perempuan Muslim tidak terbatas pada ruang domestik. Mereka juga aktif dalam ekonomi dan sosial.

Sosok Khadijah binti Khuwailid menjadi contoh klasik. Ia adalah pengusaha sukses yang mengelola perdagangan lintas wilayah.

Dalam buku Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources karya Martin Lings, Khadijah digambarkan sebagai figur yang mandiri secara ekonomi sekaligus memiliki pengaruh sosial besar.

Selain itu, banyak perempuan yang berperan sebagai dermawan. Mereka mendirikan wakaf untuk masjid, sekolah, dan rumah sakit membentuk sistem kesejahteraan sosial yang berkelanjutan.

Baca juga: 9 Tokoh Perempuan Muslim Indonesia yang Menginspirasi hingga Dunia

Mengapa Perempuan Bisa Berkembang?

Pertanyaan pentingnya mengapa perempuan pada masa itu bisa berkembang sedemikian pesat?

Ada beberapa faktor utama:

1. Nilai agama yang mendorong ilmu

Ilmu dianggap sebagai bagian dari ibadah, sehingga akses terhadapnya tidak dibatasi.

2. Dukungan sosial dan politik

Khalifah Abbasiyah memberikan ruang bagi perkembangan ilmu, termasuk bagi perempuan.

3. Budaya intelektual yang terbuka

Ilmu dari berbagai peradaban diterjemahkan dan dikembangkan, menciptakan ekosistem yang dinamis.

Dalam A History of Islamic Societies karya Ira M. Lapidus, disebutkan bahwa keterbukaan ini menjadi kunci kemajuan peradaban Islam.

Antara Kejayaan dan Realitas Hari Ini

Melihat kembali sejarah ini, muncul refleksi penting.

Bahwa dalam tradisi Islam, perempuan tidak pernah dikesampingkan dari ilmu dan peradaban. Justru sebaliknya, mereka adalah bagian integral dari kemajuan itu.

Namun dalam perjalanan sejarah, berbagai faktor sosial dan budaya membuat peran tersebut perlahan menyempit.

Padahal, jika merujuk pada masa keemasan Islam, perempuan memiliki ruang yang luas untuk berkembang.

Warisan yang Masih Hidup

Kisah perempuan Muslim di masa keemasan Islam bukan sekadar nostalgia.

Ia adalah pengingat bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh satu kelompok saja, tetapi oleh kolaborasi laki-laki dan perempuan, ilmu dan iman, akal dan akhlak.

Dari Fatima al-Fihri hingga Rufayda al-Aslamia, dari Sutayta al-Mahamali hingga Lubna al-Qurtubiyyah, semua menunjukkan satu hal, bahwa perempuan Muslim pernah berada di garis depan peradaban. Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesarnya.

Masa depan tidak harus dimulai dari nol. Ia bisa dibangun kembali, dengan menelusuri jejak yang pernah ada, jejak perempuan-perempuan yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, dan peradaban sebagai warisan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Makmum Masbuk Ikut Imam Rukuk, Apakah Dapat Satu Rakaat? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Makmum Masbuk Ikut Imam Rukuk, Apakah Dapat Satu Rakaat? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar