KOMPAS.com – Sejarah peradaban Islam sering dikenang melalui nama-nama besar para ilmuwan dan tokoh laki-laki.
Namun di balik itu, ada jejak yang tak kalah kuat, bahkan kerap luput dari sorotan, peran perempuan Muslim dalam membangun fondasi ilmu pengetahuan, pendidikan, hingga layanan sosial di masa keemasan Islam.
Pada era yang dikenal sebagai Islamic Golden Age, sekitar abad ke-8 hingga ke-13, perempuan Muslim tidak sekadar hadir sebagai pelengkap.
Mereka adalah penggerak, pengajar, peneliti, bahkan pelopor institusi ilmu yang bertahan hingga hari ini.
Di tengah dunia yang kala itu masih membatasi ruang perempuan, peradaban Islam justru membuka jalan. Dan dari sanalah, lahir kisah-kisah yang hingga kini tetap relevan.
Baca juga: 6 Pahlawan Muslimah Indonesia dan Perannya dalam Sejarah Kemerdekaan
Sejak awal, Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi kehidupan. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an, “Iqra” atau “bacalah” menjadi simbol bahwa pencarian ilmu adalah perintah universal, tanpa membedakan laki-laki atau perempuan.
Dalam berbagai riwayat, Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.
Prinsip inilah yang kemudian membentuk budaya intelektual yang inklusif pada masa kekhalifahan.
Dalam buku The Venture of Islam karya Marshall G.S. Hodgson, dijelaskan bahwa masyarakat Islam klasik memiliki tradisi keilmuan yang terbuka, di mana perempuan dapat belajar, mengajar, dan bahkan menjadi otoritas ilmiah.
Masjid, rumah, hingga perpustakaan menjadi ruang hidup bagi diskusi dan transmisi ilmu—dan perempuan hadir di dalamnya.
Salah satu simbol paling kuat dari kontribusi perempuan adalah berdirinya lembaga pendidikan.
Nama Fatima al-Fihri menjadi contoh yang tidak terbantahkan. Pada abad ke-9, ia mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko yang hingga kini diakui sebagai universitas tertua di dunia yang terus beroperasi.
Dalam buku Lost Islamic History karya Firas Alkhateeb, disebutkan bahwa Al-Qarawiyyin bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga ilmu matematika, astronomi, dan bahasa.
Fakta bahwa institusi sebesar ini didirikan oleh seorang perempuan menunjukkan bagaimana visi intelektual Muslimah di masa itu melampaui zamannya.
Baca juga: 5 Muslimah Hebat Zaman Nabi: Kisah Inspiratif dan Perannya
Perempuan Muslim pada masa keemasan Islam tidak hanya berkutat pada satu bidang. Mereka hadir di berbagai disiplin ilmu.
Sutayta al-Mahamali dikenal sebagai ahli matematika yang menguasai ilmu hitung dan waris. Ia hidup di Baghdad dan menjadi salah satu perempuan yang diakui keilmuannya di bidang eksakta.
Dalam catatan sejarah yang dirujuk dalam Women in Islamic Civilisation karya Dr. Yusuf al-Qaradawi, Sutayta disebut sebagai sosok yang mampu menyelesaikan persoalan matematika kompleks, terutama terkait hukum faraid (waris).
Nama Rufayda al-Aslamia sering disebut sebagai perawat pertama dalam sejarah Islam.
Ia dikenal karena perannya merawat korban perang pada masa Rasulullah. Lebih dari itu, ia juga mendirikan semacam tenda medis, cikal bakal rumah sakit lapangan.
Dalam buku Islamic Medicine karya Manfred Ullmann, peran Rufayda disebut sebagai tonggak awal profesionalisme dalam dunia medis Islam, termasuk pelatihan tenaga kesehatan perempuan.
Di Andalusia, Lubna al-Qurtubiyyah menjadi sosok penting dalam pengelolaan perpustakaan kerajaan Cordoba.
Ia bukan sekadar pustakawan, tetapi juga ilmuwan yang mahir dalam matematika dan sastra. Pada masa itu, Cordoba dikenal sebagai salah satu pusat ilmu terbesar di Eropa, dengan ratusan ribu manuskrip.
Dalam buku The House of Wisdom karya Jim Al-Khalili, disebutkan bahwa keberadaan para intelektual seperti Lubna menunjukkan betapa luasnya partisipasi perempuan dalam menjaga dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Selain sebagai ilmuwan, perempuan Muslim juga memainkan peran penting sebagai guru dan perawi hadis.
Banyak ulama besar belajar dari perempuan. Bahkan, dalam tradisi hadis, sejumlah perawi perempuan dikenal sangat kredibel.
Dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi, disebutkan bahwa ratusan perempuan menjadi perawi hadis yang terpercaya.
Fakta ini menunjukkan bahwa transmisi ilmu dalam Islam tidak pernah eksklusif. Perempuan bukan hanya objek pendidikan, tetapi subjek utama yang menjaga otentisitas ajaran.
Peran perempuan Muslim tidak terbatas pada ruang domestik. Mereka juga aktif dalam ekonomi dan sosial.
Sosok Khadijah binti Khuwailid menjadi contoh klasik. Ia adalah pengusaha sukses yang mengelola perdagangan lintas wilayah.
Dalam buku Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources karya Martin Lings, Khadijah digambarkan sebagai figur yang mandiri secara ekonomi sekaligus memiliki pengaruh sosial besar.
Selain itu, banyak perempuan yang berperan sebagai dermawan. Mereka mendirikan wakaf untuk masjid, sekolah, dan rumah sakit membentuk sistem kesejahteraan sosial yang berkelanjutan.
Baca juga: 9 Tokoh Perempuan Muslim Indonesia yang Menginspirasi hingga Dunia
Pertanyaan pentingnya mengapa perempuan pada masa itu bisa berkembang sedemikian pesat?
Ada beberapa faktor utama:
Ilmu dianggap sebagai bagian dari ibadah, sehingga akses terhadapnya tidak dibatasi.
Khalifah Abbasiyah memberikan ruang bagi perkembangan ilmu, termasuk bagi perempuan.
Ilmu dari berbagai peradaban diterjemahkan dan dikembangkan, menciptakan ekosistem yang dinamis.
Dalam A History of Islamic Societies karya Ira M. Lapidus, disebutkan bahwa keterbukaan ini menjadi kunci kemajuan peradaban Islam.
Melihat kembali sejarah ini, muncul refleksi penting.
Bahwa dalam tradisi Islam, perempuan tidak pernah dikesampingkan dari ilmu dan peradaban. Justru sebaliknya, mereka adalah bagian integral dari kemajuan itu.
Namun dalam perjalanan sejarah, berbagai faktor sosial dan budaya membuat peran tersebut perlahan menyempit.
Padahal, jika merujuk pada masa keemasan Islam, perempuan memiliki ruang yang luas untuk berkembang.
Kisah perempuan Muslim di masa keemasan Islam bukan sekadar nostalgia.
Ia adalah pengingat bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh satu kelompok saja, tetapi oleh kolaborasi laki-laki dan perempuan, ilmu dan iman, akal dan akhlak.
Dari Fatima al-Fihri hingga Rufayda al-Aslamia, dari Sutayta al-Mahamali hingga Lubna al-Qurtubiyyah, semua menunjukkan satu hal, bahwa perempuan Muslim pernah berada di garis depan peradaban. Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terbesarnya.
Masa depan tidak harus dimulai dari nol. Ia bisa dibangun kembali, dengan menelusuri jejak yang pernah ada, jejak perempuan-perempuan yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, dan peradaban sebagai warisan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang