KOMPAS.com – Sejarah Islam tidak hanya ditopang oleh tokoh-tokoh besar dari kalangan laki-laki.
Di balik perkembangan peradaban Islam, terdapat sosok-sosok muslimah yang memainkan peran penting, bahkan sejak masa awal kenabian.
Di tengah stigma yang kerap menyudutkan perempuan, Islam justru hadir sebagai sistem nilai yang mengangkat martabat wanita.
Dari kondisi masyarakat jahiliah yang memarginalkan perempuan, Islam membawa perubahan fundamental dengan menempatkan wanita sebagai subjek terhormat, berilmu, dan berperan aktif dalam kehidupan sosial maupun spiritual.
Lantas, siapa saja muslimah inspiratif di masa Rasulullah dan bagaimana kontribusi mereka dalam membangun peradaban Islam?
Sebelum Islam datang, perempuan di jazirah Arab kerap dipandang rendah. Praktik seperti penguburan bayi perempuan hidup-hidup menjadi simbol kelam era tersebut.
Kehadiran Islam melalui dakwah Nabi Muhammad SAW menghapus praktik itu dan menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dalam kemuliaan di sisi Allah.
Dalam Al-Qur’an dan hadis, perempuan diposisikan sebagai individu yang memiliki tanggung jawab moral, hak sosial, serta peluang yang sama untuk meraih kemuliaan.
Hal ini ditegaskan pula dalam berbagai literatur klasik, salah satunya dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq yang menyebutkan bahwa Islam memberikan ruang luas bagi perempuan untuk berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.
Baca juga: Amalan Saat Haid: Panduan Ibadah yang Bisa Dilakukan Muslimah
Khadijah bukan hanya istri pertama Rasulullah, tetapi juga sosok yang menjadi fondasi awal perjuangan Islam. Sebagai saudagar sukses di Makkah, ia dikenal cerdas, mandiri, dan berintegritas tinggi.
Ketika wahyu pertama turun, Khadijah menjadi orang pertama yang membenarkan kenabian Rasulullah.
Ia menguatkan secara emosional, sekaligus mendukung secara finansial dakwah Islam di masa-masa sulit.
Dalam buku Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, disebutkan bahwa kontribusi Khadijah sangat menentukan keberlangsungan dakwah di fase awal Islam.
Aisyah dikenal sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Ia bukan hanya istri Rasulullah, tetapi juga seorang cendekiawan.
Sebagai perawi lebih dari 2.000 hadis, Aisyah memiliki peran vital dalam menjaga dan menyebarkan ajaran Islam. Banyak sahabat dan tabi’in yang belajar langsung darinya.
Dalam Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi, dijelaskan bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan Aisyah menjadi rujukan utama dalam berbagai aspek ibadah dan muamalah.
Baca juga: 7 Keistimewaan Khadijah, Istri Pertama Nabi Muhammad SAW yang Berjuluk Ummul Mukminin
Fatimah Az Zahra merupakan putri Rasulullah yang dikenal karena akhlaknya yang mulia, kesederhanaannya, serta keteguhannya dalam menghadapi ujian hidup.
Ia hidup dalam kondisi sederhana, namun tetap menunjukkan keteguhan iman dan dedikasi tinggi terhadap keluarga. Dalam banyak riwayat, Fatimah disebut sebagai salah satu wanita terbaik penghuni surga.
Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya keteladanan akhlak seperti yang dicontohkan oleh keluarga Rasulullah, termasuk Fatimah.
Dikenal juga sebagai Ummu Ammarah, Nusaiba adalah simbol keberanian perempuan dalam Islam. Ia turut serta dalam Perang Uhud, melindungi Rasulullah dengan pedang dan perisai.
Meski mengalami banyak luka, semangatnya tidak surut. Kisahnya menjadi bukti bahwa perempuan dalam Islam juga memiliki peran strategis dalam situasi genting.
Ummu Darda merupakan ulama perempuan dari generasi tabi’in yang dikenal luas sebagai ahli fikih dan hadis. Ia mengajar di Damaskus dan memiliki banyak murid, termasuk dari kalangan laki-laki.
Dalam literatur sejarah Islam, ia disebut sebagai contoh nyata perempuan berilmu yang berkontribusi dalam pendidikan dan penyebaran ajaran Islam.
Baca juga: Inspirasi Istri-istri Rasulullah SAW untuk Muslimah Produktif Masa Kini
Kontribusi muslimah tidak terbatas pada ranah domestik. Dalam berbagai periode sejarah, perempuan juga berperan dalam ilmu pengetahuan, pendidikan, hingga administrasi negara.
Salah satu contohnya adalah Lubna dari Cordoba, ilmuwan muslimah di Andalusia yang dikenal ahli matematika dan pustakawan istana.
Dalam buku The History of Islamic Civilization karya para sejarawan Muslim, disebutkan bahwa perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, terutama pada masa keemasan.
Kisah para muslimah inspiratif ini bukan sekadar catatan sejarah. Ia menjadi refleksi bahwa Islam sejak awal telah membuka ruang bagi perempuan untuk berkembang, berkontribusi, dan memimpin dalam berbagai bidang.
Di era modern, nilai-nilai yang diwariskan para tokoh tersebut tetap relevan, di antaranya:
Perempuan dalam Islam bukanlah sosok yang terpinggirkan, melainkan bagian integral dari peradaban.
Dari Khadijah binti Khuwailid hingga Aisyah binti Abu Bakar, dari Fatimah Az Zahra hingga Nusaiba binti Ka’ab, semuanya menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam Islam.
Pada akhirnya, kemuliaan dalam Islam tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh iman, ilmu, dan amal.
Dan para muslimah inspiratif ini telah membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi pilar peradaban yang kuat, berpengaruh, dan penuh makna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang