Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Jemaah Haji Palembang, 40 Tahun Menabung dari Hasil Mengajar Ngaji untuk Berangkat ke Tanah Suci

Kompas.com, 26 April 2026, 10:01 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Di tengah ratusan calon jamaah haji yang memadati kompleks Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang, Sabtu (25/4/2026), ada sosok Sofiah S (72) yang terlihat tenang menanti jadwal keberangkatan.

Perempuan lanjut usia asal Gang Mulya Plaju itu menjadi salah satu jamaah Kloter 4 Embarkasi Palembang.

Perjalanan hajinya tahun ini menyimpan kisah panjang penuh kesabaran dan perjuangan untuk bisa menunaikan rukun islam kelima.

Baca juga: Kisah Mbah Sarjo, Penyandang Disabilitas Netra Berhaji dengan Jual Kebun

Selama puluhan tahun, ia menabung sedikit demi sedikit dari hasil mengajar mengaji demi mewujudkan impian ke Tanah Suci.

Sofiah tergabung dalam rombongan 304 jamaah Kloter 4 Embarkasi Palembang bersama KBIH Al Multazam.

Bagi dirinya, keberangkatan haji bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan puncak perjuangan panjang yang dimulai sejak usia 30 tahun.

Baca juga: Cerita Penjual Ikan Keliling di Gowa, Berangkat Haji dari Hasil Menabung Mulai Rp 30 Ribu per Hari

Sofiah Menabung Selama 40 Tahun dari Hasil Mengajar Ngaji

Sejak muda, Sofiah bekerja sebagai guru privat Al-Qur'an. Profesi yang dijalani sejak usia 20-an itu menjadi sumber penghasilan utama.

Menariknya, ia tidak pernah mematok tarif kepada para muridnya dan menerima bayaran seikhlasnya.

“Aku nabung untuk naik haji ini 40 tahun. Dari usia 30 tahun mulai nabung. Sudah dapat 26 juta aku setorke dan daftar sekitar tahun 2013. Lanjut nabung lagi untuk nambahin hingga berangkat ini. Sehari kadang kadang 50 ribu, seadanya dapet. Kita juga kan ngajar ngaji ikhlas. Ada diambil tidak ada dak masalah,” ujar Nenek Sofiah saat ditemui di sela keberangkatan di Kompleks Jakabaring Sport City Palembang.

Dalam kesehariannya, sejak selepas Dhuhur hingga pukul 17.00 WIB, Sofiah berkeliling dari rumah ke rumah di kawasan komplek Pertamina untuk mengajar mengaji. Dalam sehari, ia bisa mendatangi sembilan rumah murid.

"Namanya anak-anak, kadang rewel. Ada yang minta makan dulu, ada yang mau buat PR dulu. Ya kita harus sabar, yang penting mereka semangat mengaji," tambahnya.

Simpan Uang di Bawah Kasur Sebelum Disetor ke Bank

Hasil mengajar yang diterimanya tidak selalu besar. Dalam sebulan, uang yang terkumpul kadang hanya sekitar Rp800 ribu. Namun, ia tetap disiplin menabung demi cita-cita berhaji.

"Saya simpan sedikit demi sedikit di bawah kasur. Kalau sudah banyak, baru saya bawa ke bank," kenangnya.

Ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 2013, Sofiah berhasil menyetorkan Rp 26 juta sebagai setoran awal pendaftaran haji.

Setelah itu, ia terus menabung untuk melunasi biaya hingga akhirnya berangkat pada 2026.

Artikel ini telah tayang di Sripoku.com dengan judul "Kisah Guru Ngaji di Palembang, Sofiah 40 Tahun Menabung di Bawah Kasur Demi Bisa Berangkat Haji".

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar