Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

“Jangankan Dorong, Gendong Mama Pun Amri Siap”, Kisah Mengharukan Haji Ibu dan Anak

Kompas.com, 8 Mei 2026, 06:13 WIB
Pythag Kurniati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

MAKKAH, KOMPAS.com - Di tengah lautan manusia di Masjidil Haram, bibir Tsamrotul Fuadah (53) terus melantunkan doa-doa di atas kursi rodanya.

Di belakang kursi roda tampak pemuda berusia 24 tahun, Muhammad Amri Lubab, dengan telaten mendorong kursi roda yang diduduki ibunya.

Air mata calon haji asal Tangerang Selatan itu pun pecah karena dapat melihat Kabah untuk pertama kalinya sekaligus terharu melihat bakti luar biasa dari sang putra. Rasa syukur dia ucapkan karena dapat berhaji setelah penantian belasan tahun.

"Saya tidak bisa melukiskan dengan kata-kata, setelah menjalankan umrah wajib, terutama dengan semangat anak saya yang membuktikan baktinya kepada ibunya," tutur Fuadah dengan suara bergetar ketika ditemui di Makkah.

Baca juga: Jaga Kesehatan! Imbauan Penting Menteri Haji untuk Jemaah

Pemuda itu mendedikasikan waktunya untuk menjadi tumpuan sang ibu. Bahkan, ketika Fuadah menawarkan untuk menyewa jasa pendorong kursi roda profesional saat melakukan tawaf dan sa'i, Amri langsung menolaknya.

Memeluk erat putranya, Fuadah menirukan jawaban tegas Amri kala itu. "Jangan, Ma. Biarkan ini menjadi takzim Amri kepada Mama hari ini. Jangankan mendorong, menggendong Mama pun Amri siap. Amri ingat cerita Mama tentang sahabat Nabi, Uwais," kata Fuadah.

Amri mendorong sang ibu memutari Kakbah sebanyak tujuh kali, kemudian mengulangi prosesi yang sama untuk ibadah umrahnya sendiri di hari yang sama. Segala kebutuhan ibunya ia tangani secara mandiri, termasuk mencuci pakaian setiap hari dan menolak keras menggunakan jasa binatu.

"Tenaganya biarkan habis buat merawat ibunya. Alhamdulillah, saya diberikan 'obat' yang luar biasa dari anak saya. Saya tidak takabur, namun saya bersyukur dengan pendidikan yang saya berikan dari rumah. Allah menunjukkannya di sini," puji Fuadah dengan raut wajah bangga dan terharu.

Dari atas kursi rodanya, dengan tatapan penuh kasih memandangi Amri, sebuah doa tulus mengangkasa di langit Tanah Suci.

"Ya Allah, jadikanlah anak saya penyejuk hati keluarga. Jauhkanlah ia dari orang-orang zalim, dan berilah ia kebahagiaan dunia akhirat. Dan semoga, haji kami semua dicatat sebagai haji yang mabrur," ucapnya.

Ujian Sebelum Berhaji

Kehadiran Amri di Tanah Suci sebetulnya adalah untuk menggantikan posisi sang ayah yang berpulang ke Rahmatullah pada 24 Desember 2024 akibat penyakit jantung. Sejak 15 tahun lalu, Fuadah dan mendiang suaminya telah mendaftar untuk bisa menunaikan rukun Islam kelima ini bersama-sama.

Tepat sehari sebelum keberangkatannya, pada 22 April pagi, Fuadah kembali mendapat ujian. Di tengah suka cita acara pelepasan jamaah di Masjid Islamic Center BSD, Fuadah tersandung anak tangga yang tak disadarinya.

Insiden jatuh itu sangat fatal. Ia harus dievakuasi menggunakan ambulans dan kursi roda, melalui serangkaian drama medis dari asrama haji Cipondoh hingga RSUD Kota Tangerang.

Diagnosis awal menunjukkan adanya robekan otot, sebuah vonis yang seolah siap mengubur impian hajinya. Beruntung, keajaiban datang saat tim dokter pada akhirnya menyatakan ia tetap memenuhi syarat terbang.

"Saat dokter membacakan bahwa istitaah saya tetap diberlakukan dan saya bisa terbang, semuanya ikut menangis terharu. Teman-teman di asrama semua ikut menangis. Kalau saya sudah dipanggil oleh Yang Mempunyai Rumah, insya Allah saya akan mendapatkan pelayanan yang baik," kenang Fuadah sembari menyeka air matanya.

Perjalanan udaranya pun harus dilakukan terpisah dari rombongan. Menggunakan ambulans, ia difasilitasi kursi kelas bisnis oleh ketua kloter pada penerbangan Garuda Indonesia guna menjaga kondisi kakinya.

Ujian fisiknya belum tuntas. Setibanya di Madinah, rontgen di Saudi German Hospital mengungkap adanya patah tulang melingkar di bawah lutut. Fuadah harus melewati operasi selama lima setengah jam dan menjalani masa pemulihan intensif.

Dukungan Lingkungan Sekitar

Kelancaran ibadah Fuadah tentu tak lepas dari dukungan lingkungan sekitarnya. Teman-teman sekamarnya menjelma bak keluarga kandung yang bergantian membantu meracik obat, menyiapkan asupan berprotein tinggi, hingga menuntunnya ke kamar mandi.

Baca juga: Kisah Abdul Hanan, Petani Lombok yang Berangkat Haji Berkat Bantuan Anak

Di sisi lain, kesigapan Tim Lansia dan Disabilitas (Landis) serta Tim Kesehatan PPIH Arab Saudi turut memberikan rasa aman. Sugita Esadora, selaku petugas Tim Landis Daker Makkah, menjelaskan bahwa pendampingan ekstra memang disiapkan sejak di Madinah hingga Makkah.

"Petugas haji selalu membantu kebutuhan harian calon haji di hotel, mulai dari mandi, hingga hal-hal yang bersifat personal. Tim kesehatan juga melakukan visitasi secara rutin, hingga tiga kali sehari untuk memastikan kondisi fisik jamaah calon haji tetap stabil," papar Sugita.

Kini, jelang fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Fuadah bersiap melakukan kontrol lanjutan di rumah sakit Makkah bersama lima dokter spesialis dari PPIH.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar