Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Rasulullah Geleng Kepala Lihat Nu’aiman Sembelih Unta Milik Tamu

Kompas.com, 20 Mei 2026, 20:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di antara para sahabat Nabi Muhammad SAW, ada sosok yang dikenal bukan karena keberanian di medan perang atau kefasihan berbicara, melainkan karena kelucuannya yang kerap membuat suasana menjadi cair. Sosok itu adalah Nu'aiman bin Amr Al-Ansari.

Namanya beberapa kali muncul dalam kisah-kisah penuh humor di masa Rasulullah SAW. Namun, di balik tingkah jenakanya, tersimpan pelajaran mendalam tentang adab, tanggung jawab, hingga cara Rasulullah mendidik para sahabat dengan kelembutan.

Salah satu kisah paling terkenal adalah ketika Nu’aiman nekat menyembelih unta milik tamu Rasulullah SAW yang sedang ditambatkan di depan masjid.

Peristiwa itu bukan hanya membuat pemilik unta marah besar, tetapi juga membuat Rasulullah SAW menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum.

Baca juga: Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah

Sahabat yang Selalu Membawa Tawa

Dalam buku Karamah Para Wali karya A. R. Shohibul Ulum dijelaskan bahwa Nu’aiman dikenal sebagai sahabat yang humoris dan sering menghadirkan keceriaan di tengah kehidupan kaum Muslimin Madinah.

Ia termasuk golongan Anshar dan tercatat ikut dalam sejumlah peperangan bersama Rasulullah SAW. Meski dikenal suka bercanda, Nu’aiman tetap memiliki kecintaan besar kepada Nabi Muhammad SAW dan agama Islam.

Dalam sejumlah riwayat, Rasulullah SAW bahkan tidak memarahi Nu’aiman secara berlebihan meski tingkahnya sering merepotkan.

Hal itu menunjukkan bahwa Islam tidak melarang humor selama tidak mengandung dusta, penghinaan, atau menyakiti orang lain.

Dalam buku Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai pribadi yang sesekali bercanda dengan para sahabat, anak-anak, maupun keluarganya. Namun candaan beliau selalu mengandung kebenaran.

Awal Mula Unta Itu Disembelih

Kisah ini bermula ketika seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah SAW di masjid. Ia menunggang seekor unta gemuk dan menambatkannya di bawah pohon kurma dekat masjid sebelum masuk menemui Nabi.

Saat itu Rasulullah SAW sedang bersama beberapa sahabat, termasuk Nu’aiman.

Di luar masjid, para sahabat memperhatikan unta milik tamu tersebut. Entah karena lapar atau sekadar bercanda, salah seorang sahabat melontarkan usulan agar unta itu disembelih saja.

“Bagaimana kalau kita sembelih saja unta itu?” kata salah seorang sahabat sambil menunjuk hewan tersebut.

Nu’aiman sempat ragu. Ia sadar unta itu milik tamu Rasulullah SAW dan tentu akan menimbulkan masalah bila disembelih tanpa izin. Namun sahabat lain justru meyakinkannya.

“Kalau nanti diminta ganti rugi, Rasulullah pasti akan menyelesaikannya,” ujar mereka.

Ucapan itu rupanya membuat Nu’aiman semakin berani. Ia lalu mengambil golok dan menyembelih unta tersebut sebelum pemiliknya keluar dari masjid.

Baca juga: Kisah Uwais Al-Qarni Masa Kini: Anak Dorong Kursi Roda Ibu untuk Jalani Ibadah Haji di Tanah Suci

Rasulullah Segera Menenangkan Situasi

Tak lama kemudian, sang Badui keluar dan terkejut melihat untanya sudah menjadi bangkai.

Dengan nada marah, ia langsung berteriak meminta pertanggungjawaban.

“Untaku, Muhammad! Untaku disembelih!” teriaknya.

Keributan itu membuat Rasulullah SAW segera keluar menghampiri. Nabi lalu bertanya siapa pelaku penyembelihan unta tersebut. Para sahabat pun menunjuk Nu’aiman.

Mendengar itu, Rasulullah SAW langsung mencari Nu’aiman yang ternyata bersembunyi di rumah Ziba'ah binti Zubair.

Ia bersembunyi di ruangan kosong sambil menutupi tubuhnya dengan daun kurma agar tidak ketahuan. Setelah ditemukan, Rasulullah SAW bertanya dengan nada serius.

“Siapa yang menyuruhmu menyembelih unta si Badui itu?”

Nu’aiman menjawab polos sambil tertawa bahwa para sahabat lain yang menyuruhnya. Mereka juga mengatakan Rasulullah SAW pasti akan bertanggung jawab jika pemilik unta meminta ganti rugi.

Mendengar jawaban itu, Rasulullah SAW hanya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.

Nabi Tidak Memarahi dengan Emosi

Sikap Rasulullah SAW dalam peristiwa ini menjadi pelajaran penting dalam Islam. Nabi tidak membentak, mempermalukan, atau menghukum Nu’aiman di depan banyak orang meski kesalahannya jelas.

Sebaliknya, Rasulullah SAW memilih menyelesaikan masalah terlebih dahulu dengan mengganti kerugian pemilik unta.

Dalam buku Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki pendekatan pendidikan yang penuh kelembutan dan memahami karakter setiap sahabatnya.

Kepada sahabat yang keras, Nabi bersikap tegas. Namun kepada sahabat yang lembut dan jenaka seperti Nu’aiman, Rasulullah memilih pendekatan penuh kasih sayang.

Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan Rasulullah SAW tersenyum setelah mendengar penjelasan Nu’aiman.

Nabi memahami bahwa Nu’aiman tidak berniat jahat. Ia hanya terbawa suasana candaan bersama sahabat lain.

Baca juga: Awal Mula Wukuf di Arafah, Kisah Pertemuan Nabi Adam dan Hawa

Humor dalam Islam Ada Batasnya

Kisah Nu’aiman sering dianggap sebagai contoh bahwa Islam adalah agama yang dekat dengan sisi kemanusiaan.

Kehidupan para sahabat tidak selalu serius dan penuh ketegangan. Ada canda, tawa, dan keakraban di tengah keseharian mereka.

Namun para ulama mengingatkan bahwa humor dalam Islam tetap memiliki batas.

Dalam buku Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa bercanda diperbolehkan selama tidak berlebihan, tidak mengandung kebohongan, dan tidak menyakiti orang lain.

Kisah Nu’aiman juga menunjukkan bahwa setiap candaan tetap memiliki konsekuensi. Meski Rasulullah SAW tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu, kerugian pemilik unta tetap harus diganti.

Di situlah letak keseimbangan ajaran Islam: memberi ruang bagi kegembiraan, tetapi tetap menjaga hak orang lain.

Sosok Nu’aiman yang Dirindukan Surga

Di balik tingkah lucunya, Nu’aiman dikenal sebagai sahabat yang beriman dan mencintai Rasulullah SAW sepenuh hati.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa Nu’aiman kelak akan masuk surga sambil tertawa. Kalimat itu menjadi tanda kedekatan emosional antara Nabi dan sahabatnya tersebut.

Kisah ini juga memperlihatkan sisi lain kehidupan Rasulullah SAW yang penuh kehangatan. Nabi bukan hanya pemimpin besar dan pembawa wahyu, tetapi juga sosok yang memahami karakter manusia dengan segala kekurangannya.

Dari Nu’aiman, umat Islam belajar bahwa kesalahan bisa diperbaiki, candaan harus tetap bertanggung jawab, dan kelembutan sering kali lebih efektif daripada kemarahan.

Di tengah kehidupan modern yang mudah dipenuhi amarah dan saling menyalahkan, kisah sederhana tentang seekor unta di depan masjid itu justru menyimpan pelajaran besar tentang kemanusiaan dan kasih sayang.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar