KOMPAS.com – Di antara para sahabat Nabi Muhammad SAW, ada sosok yang dikenal bukan karena keberanian di medan perang atau kefasihan berbicara, melainkan karena kelucuannya yang kerap membuat suasana menjadi cair. Sosok itu adalah Nu'aiman bin Amr Al-Ansari.
Namanya beberapa kali muncul dalam kisah-kisah penuh humor di masa Rasulullah SAW. Namun, di balik tingkah jenakanya, tersimpan pelajaran mendalam tentang adab, tanggung jawab, hingga cara Rasulullah mendidik para sahabat dengan kelembutan.
Salah satu kisah paling terkenal adalah ketika Nu’aiman nekat menyembelih unta milik tamu Rasulullah SAW yang sedang ditambatkan di depan masjid.
Peristiwa itu bukan hanya membuat pemilik unta marah besar, tetapi juga membuat Rasulullah SAW menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Baca juga: Kisah Ummu Mihjan, Marbot Perempuan di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah
Dalam buku Karamah Para Wali karya A. R. Shohibul Ulum dijelaskan bahwa Nu’aiman dikenal sebagai sahabat yang humoris dan sering menghadirkan keceriaan di tengah kehidupan kaum Muslimin Madinah.
Ia termasuk golongan Anshar dan tercatat ikut dalam sejumlah peperangan bersama Rasulullah SAW. Meski dikenal suka bercanda, Nu’aiman tetap memiliki kecintaan besar kepada Nabi Muhammad SAW dan agama Islam.
Dalam sejumlah riwayat, Rasulullah SAW bahkan tidak memarahi Nu’aiman secara berlebihan meski tingkahnya sering merepotkan.
Hal itu menunjukkan bahwa Islam tidak melarang humor selama tidak mengandung dusta, penghinaan, atau menyakiti orang lain.
Dalam buku Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah SAW sendiri dikenal sebagai pribadi yang sesekali bercanda dengan para sahabat, anak-anak, maupun keluarganya. Namun candaan beliau selalu mengandung kebenaran.
Kisah ini bermula ketika seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah SAW di masjid. Ia menunggang seekor unta gemuk dan menambatkannya di bawah pohon kurma dekat masjid sebelum masuk menemui Nabi.
Saat itu Rasulullah SAW sedang bersama beberapa sahabat, termasuk Nu’aiman.
Di luar masjid, para sahabat memperhatikan unta milik tamu tersebut. Entah karena lapar atau sekadar bercanda, salah seorang sahabat melontarkan usulan agar unta itu disembelih saja.
“Bagaimana kalau kita sembelih saja unta itu?” kata salah seorang sahabat sambil menunjuk hewan tersebut.
Nu’aiman sempat ragu. Ia sadar unta itu milik tamu Rasulullah SAW dan tentu akan menimbulkan masalah bila disembelih tanpa izin. Namun sahabat lain justru meyakinkannya.
“Kalau nanti diminta ganti rugi, Rasulullah pasti akan menyelesaikannya,” ujar mereka.
Ucapan itu rupanya membuat Nu’aiman semakin berani. Ia lalu mengambil golok dan menyembelih unta tersebut sebelum pemiliknya keluar dari masjid.
Baca juga: Kisah Uwais Al-Qarni Masa Kini: Anak Dorong Kursi Roda Ibu untuk Jalani Ibadah Haji di Tanah Suci
Tak lama kemudian, sang Badui keluar dan terkejut melihat untanya sudah menjadi bangkai.
Dengan nada marah, ia langsung berteriak meminta pertanggungjawaban.
“Untaku, Muhammad! Untaku disembelih!” teriaknya.
Keributan itu membuat Rasulullah SAW segera keluar menghampiri. Nabi lalu bertanya siapa pelaku penyembelihan unta tersebut. Para sahabat pun menunjuk Nu’aiman.
Mendengar itu, Rasulullah SAW langsung mencari Nu’aiman yang ternyata bersembunyi di rumah Ziba'ah binti Zubair.
Ia bersembunyi di ruangan kosong sambil menutupi tubuhnya dengan daun kurma agar tidak ketahuan. Setelah ditemukan, Rasulullah SAW bertanya dengan nada serius.
“Siapa yang menyuruhmu menyembelih unta si Badui itu?”
Nu’aiman menjawab polos sambil tertawa bahwa para sahabat lain yang menyuruhnya. Mereka juga mengatakan Rasulullah SAW pasti akan bertanggung jawab jika pemilik unta meminta ganti rugi.
Mendengar jawaban itu, Rasulullah SAW hanya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.
Sikap Rasulullah SAW dalam peristiwa ini menjadi pelajaran penting dalam Islam. Nabi tidak membentak, mempermalukan, atau menghukum Nu’aiman di depan banyak orang meski kesalahannya jelas.
Sebaliknya, Rasulullah SAW memilih menyelesaikan masalah terlebih dahulu dengan mengganti kerugian pemilik unta.
Dalam buku Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki pendekatan pendidikan yang penuh kelembutan dan memahami karakter setiap sahabatnya.
Kepada sahabat yang keras, Nabi bersikap tegas. Namun kepada sahabat yang lembut dan jenaka seperti Nu’aiman, Rasulullah memilih pendekatan penuh kasih sayang.
Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan Rasulullah SAW tersenyum setelah mendengar penjelasan Nu’aiman.
Nabi memahami bahwa Nu’aiman tidak berniat jahat. Ia hanya terbawa suasana candaan bersama sahabat lain.
Baca juga: Awal Mula Wukuf di Arafah, Kisah Pertemuan Nabi Adam dan Hawa
Kisah Nu’aiman sering dianggap sebagai contoh bahwa Islam adalah agama yang dekat dengan sisi kemanusiaan.
Kehidupan para sahabat tidak selalu serius dan penuh ketegangan. Ada canda, tawa, dan keakraban di tengah keseharian mereka.
Namun para ulama mengingatkan bahwa humor dalam Islam tetap memiliki batas.
Dalam buku Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa bercanda diperbolehkan selama tidak berlebihan, tidak mengandung kebohongan, dan tidak menyakiti orang lain.
Kisah Nu’aiman juga menunjukkan bahwa setiap candaan tetap memiliki konsekuensi. Meski Rasulullah SAW tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu, kerugian pemilik unta tetap harus diganti.
Di situlah letak keseimbangan ajaran Islam: memberi ruang bagi kegembiraan, tetapi tetap menjaga hak orang lain.
Di balik tingkah lucunya, Nu’aiman dikenal sebagai sahabat yang beriman dan mencintai Rasulullah SAW sepenuh hati.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa Nu’aiman kelak akan masuk surga sambil tertawa. Kalimat itu menjadi tanda kedekatan emosional antara Nabi dan sahabatnya tersebut.
Kisah ini juga memperlihatkan sisi lain kehidupan Rasulullah SAW yang penuh kehangatan. Nabi bukan hanya pemimpin besar dan pembawa wahyu, tetapi juga sosok yang memahami karakter manusia dengan segala kekurangannya.
Dari Nu’aiman, umat Islam belajar bahwa kesalahan bisa diperbaiki, candaan harus tetap bertanggung jawab, dan kelembutan sering kali lebih efektif daripada kemarahan.
Di tengah kehidupan modern yang mudah dipenuhi amarah dan saling menyalahkan, kisah sederhana tentang seekor unta di depan masjid itu justru menyimpan pelajaran besar tentang kemanusiaan dan kasih sayang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang