KOMPAS.com - Induk Koperasi Pondok Pesantren terus mendorong produk usaha pondok pesantren agar mampu menembus pasar global.
Mulai dari batik, sarung, hingga berbagai produk UMKM pesantren dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang dan bersaing di pasar internasional.
Dorongan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Indah Anggoro Putri dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Expo Inkopontren 2026 di Gedung SME Tower–SMESCO Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Menurut Indah, pondok pesantren di seluruh Indonesia memiliki banyak produk unggulan yang dapat dikembangkan menjadi komoditas ekspor apabila didukung pelatihan, infrastruktur, dan penguatan sumber daya manusia.
“Banyak sekali di pondok-pondok, mulai dari batik hingga sarung. Produk desa go global kini semakin dekat,” ujar Indah.
Baca juga: Pesantren Didorong Cetak Wirausaha Baru, Kemenaker Siapkan Modal Rp 15 Juta
Ia mengatakan tema modernisasi koperasi pesantren yang diangkat dalam Rakernas Inkopontren selaras dengan program pemerintah dalam memperkuat kewirausahaan nasional dan membuka lapangan kerja baru.
Menurut dia, pemerintah saat ini terus mendorong peningkatan rasio kewirausahaan nasional sebagai salah satu syarat menuju negara maju.
“Sekarang total wirausaha kita sudah mencapai sekitar 56 juta jiwa dan menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir,” katanya.
Indah menilai pesantren memiliki posisi strategis dalam melahirkan wirausaha baru berbasis komunitas karena memiliki jaringan besar dan sumber daya manusia yang tersebar di berbagai daerah.
Dengan demikian, Kementerian Ketenagakerjaan terus memperkuat kolaborasi dengan Inkopontren melalui pelatihan keterampilan dan pengembangan kewirausahaan santri.
Salah satu program yang didorong adalah optimalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) komunitas di lingkungan pesantren.
Menurut Indah, sejak 2019 pemerintah telah membangun sekitar 3.000 BLK komunitas di pondok pesantren di berbagai wilayah Indonesia.
Baca juga: Inkopontren Gelar Rakernas 2026, Bahas Modernisasi Ekonomi Pesantren
BLK tersebut diharapkan menjadi pusat pelatihan vokasi dan pengembangan keterampilan santri agar mampu bersaing di dunia usaha maupun industri kreatif.
“Kami punya BLK tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Di sana tidak hanya pelatihan, tetapi juga sertifikasi kompetensi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut mencakup berbagai keterampilan usaha yang dapat menjadi bekal bagi santri untuk membangun bisnis mandiri dan menjadi pelaku ekspor di masa depan.
Selain pelatihan, pemerintah juga menyiapkan program bantuan modal usaha melalui skema Tenaga Kerja Mandiri.
Dalam program tersebut, peserta pelatihan dapat memperoleh bantuan modal awal sebesar Rp 5 juta untuk memulai usaha.
Apabila usaha berkembang, peserta dapat mengajukan bantuan lanjutan hingga Rp 15 juta.
“Ini salah satu cara pemerintah melahirkan wirausaha baru dari lingkungan pesantren,” kata Indah.
Baca juga: 61 Pesantren NU di Purworejo Belajar Ubah Sampah Jadi Sumber Ekonomi
Menurut dia, dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi pesantren yang lebih modern, produktif, dan berdaya saing.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Inkopontren KH Suharisto mengatakan pihaknya saat ini juga tengah memperkuat pengembangan marketplace pesantren untuk memperluas akses pasar produk usaha santri.
Ia menyebut jumlah pondok pesantren di Indonesia mencapai sekitar 42 ribu dengan total santri dan civitas akademika diperkirakan mencapai 15 juta orang.
Menurutnya, potensi tersebut menjadi kekuatan besar untuk membangun pasar internal sekaligus memperluas perdagangan produk pesantren.
“Kalau kita membuat marketplace dagang di kalangan sendiri, itu sudah luar biasa,” ujar Suharisto.
Melalui Rakernas dan Expo Inkopontren 2026, Inkopontren berharap produk-produk pesantren dapat berkembang lebih profesional, memiliki standar kualitas yang baik, serta mampu bersaing di pasar nasional maupun global.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang