Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Makanan Siap Santap Bercita Rasa Nusantara Disiapkan untuk Jamaah Haji saat Fase Armuzna

Kompas.com, 20 Mei 2026, 17:29 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Menjelang puncak ibadah haji 2026 di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Kementerian Haji (Kemenhaj) memastikan kebutuhan konsumsi jamaah calon haji Indonesia tetap terpenuhi.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah menyiapkan jutaan paket makanan siap santap atau Ready to Eat (RTE).

Makanan ini dirancang praktis agar jamaah dapat langsung mengonsumsinya tanpa perlu memasak maupun memanaskan kembali.

Baca juga: Fase Armuzna Jadi Tantangan Utama Haji 2026, Gus Irfan Minta Petugas Pertahankan Layanan Prima

Skema tersebut diharapkan membantu jamaah tetap fokus beribadah di tengah tingginya mobilitas selama fase Armuzna.

Makanan Siap Santap Dirancang Praktis untuk Jamaah Haji

Kementerian Haji memastikan makanan siap santap atau Ready to Eat (RTE) yang disediakan untuk jamaah calon haji pada puncak haji dibuat praktis karena dapat langsung dikonsumsi tanpa perlu dimasak atau dipanaskan terlebih dahulu.

Baca juga: Menu Siap Santap Disajikan untuk Jemaah Haji saat Armuzna, Bisa Langsung Dimakan Tanpa Dipanaskan

Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kemenhaj Jaenal Effendi mengatakan kepraktisan tersebut dirancang khusus untuk memudahkan kegiatan jamaah calon haji selama berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

"Ini sudah bisa langsung dibuka dan dimakan. Tidak perlu dipanaskan," ujar dia di Makkah, Rabu.

Kemasan makanan tersebut juga didesain fungsional sehingga dapat langsung dijadikan wadah makan.

Petugas Haji Siaga Beri Edukasi Terkait Cara Konsumsi

Untuk mengantisipasi kebingungan di lapangan, petugas haji akan disiagakan guna memberikan edukasi kepada jamaah terkait cara mengonsumsi makanan siap santap tersebut.

"Khawatirnya ada jamaah calon haji yang tidak terbiasa makan makanan RTE ini, nanti ada petugas yang menyampaikan bahwa ini tinggal dibuka, digunting, langsung dimakan," kata dia.

Kemenhaj Siapkan 3,08 Juta Porsi Makanan di Fase Armuzna

Pemerintah secara total menyiapkan 3,08 juta porsi makanan siap santap untuk fase puncak haji.

Makanan praktis tersebut dikemas dengan baik dan telah teruji di laboratorium memiliki daya tahan hingga 18 bulan.

Untuk menjaga selera makan jamaah calon haji di Tanah Suci, Kemenhaj memastikan seluruh menu mengusung cita rasa nusantara.

Beragam varian menu yang ditawarkan meliputi nasi uduk daging, kari ayam, hingga rendang.

Paket konsumsi untuk jamaah haji itu juga dipastikan telah memenuhi standar tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Artinya, minimal 50 persen bahan baku dalam paket makanan tersebut merupakan produk asli Indonesia.

Kebijakan itu sekaligus menjadi upaya pemerintah mendukung industri pangan nasional dalam penyediaan konsumsi jamaah haji Indonesia selama operasional haji berlangsung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Musyrif Diny Jelaskan 3 Skema Mabit di Muzdalifah bagi Jamaah Haji
Musyrif Diny Jelaskan 3 Skema Mabit di Muzdalifah bagi Jamaah Haji
Aktual
Makanan Siap Santap Bercita Rasa Nusantara Disiapkan untuk Jamaah Haji saat Fase Armuzna
Makanan Siap Santap Bercita Rasa Nusantara Disiapkan untuk Jamaah Haji saat Fase Armuzna
Aktual
Fase Armuzna Jadi Tantangan Utama Haji 2026, Gus Irfan Minta Petugas Pertahankan Layanan Prima
Fase Armuzna Jadi Tantangan Utama Haji 2026, Gus Irfan Minta Petugas Pertahankan Layanan Prima
Aktual
Produk Pesantren Didorong Go Global, dari Batik hingga Sarung
Produk Pesantren Didorong Go Global, dari Batik hingga Sarung
Aktual
Menu Siap Santap Disajikan untuk Jemaah Haji saat Armuzna, Bisa Langsung Dimakan Tanpa Dipanaskan
Menu Siap Santap Disajikan untuk Jemaah Haji saat Armuzna, Bisa Langsung Dimakan Tanpa Dipanaskan
Aktual
Wamenhaj Sebut 20 Ribu Jemaah Haji Indonesia Ikut Skema Tanazul saat Armuzna 2026
Wamenhaj Sebut 20 Ribu Jemaah Haji Indonesia Ikut Skema Tanazul saat Armuzna 2026
Aktual
KH Marsudi Dorong Pesantren Ciptakan Legacy untuk Generasi Penerus
KH Marsudi Dorong Pesantren Ciptakan Legacy untuk Generasi Penerus
Aktual
Menteri Haji Gus Irfan Sapa Jemaah Haji Indonesia di Jeddah, Ingatkan Jaga Kesehatan Jelang Wukuf
Menteri Haji Gus Irfan Sapa Jemaah Haji Indonesia di Jeddah, Ingatkan Jaga Kesehatan Jelang Wukuf
Aktual
Obat-obatan 'Apotek Mini' Ini Perlu Dibawa Jemaah Saat Armuzna, Apa Isinya?
Obat-obatan 'Apotek Mini' Ini Perlu Dibawa Jemaah Saat Armuzna, Apa Isinya?
Aktual
Nekat Masuk Makkah lewat Jalur Tikus, 5 Warga Malaysia Ditangkap
Nekat Masuk Makkah lewat Jalur Tikus, 5 Warga Malaysia Ditangkap
Aktual
Pesantren Didorong Cetak Wirausaha Baru, Kemenaker Siapkan Modal Rp 15 Juta
Pesantren Didorong Cetak Wirausaha Baru, Kemenaker Siapkan Modal Rp 15 Juta
Aktual
Inkopontren Gelar Rakernas 2026, Bahas Modernisasi Ekonomi Pesantren
Inkopontren Gelar Rakernas 2026, Bahas Modernisasi Ekonomi Pesantren
Aktual
Arab Saudi Tangkap 7 Penyelundup 13 Jemaah Haji Ilegal ke Makkah
Arab Saudi Tangkap 7 Penyelundup 13 Jemaah Haji Ilegal ke Makkah
Aktual
2.400 Titik Air Minum Modern Hadir di Makkah, Jemaah Haji Kini Lebih Nyaman Lawan Panas Ekstrem
2.400 Titik Air Minum Modern Hadir di Makkah, Jemaah Haji Kini Lebih Nyaman Lawan Panas Ekstrem
Aktual
Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Dikelola Resmi, Kemenhaj Sebut Jadi Sejarah
Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Dikelola Resmi, Kemenhaj Sebut Jadi Sejarah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com