Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fase Armuzna Jadi Tantangan Utama Haji 2026, Gus Irfan Minta Petugas Pertahankan Layanan Prima

Kompas.com, 20 Mei 2026, 17:11 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) disebut menjadi penentu utama sukses tidaknya penyelenggaraan ibadah haji Indonesia 2026.

Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf meminta seluruh petugas haji tetap menjaga kualitas pelayanan menjelang puncak ibadah haji.

Menurutnya, tantangan terbesar operasional haji akan terjadi saat jutaan jemaah bergerak bersamaan menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Baca juga: Menu Siap Santap Disajikan untuk Jemaah Haji saat Armuzna, Bisa Langsung Dimakan Tanpa Dipanaskan

Karena itu, kesiapan petugas, layanan transportasi, konsumsi, hingga pengaturan mobilitas jemaah menjadi faktor yang sangat krusial.

Gus Irfan Sebut Armuzna Penentu Sukses Haji

Pesan tersebut disampaikan Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf setibanya di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: Wamenhaj Sebut 20 Ribu Jemaah Haji Indonesia Ikut Skema Tanazul saat Armuzna 2026

Menurut pria yang akrab disapa Gus Irfan itu, fase Armuzna menjadi titik paling menentukan dalam penyelenggaraan haji tahun ini.

“Puncak dari haji adalah Armuzna. Jika Armuzna berjalan sesuai harapan, artinya kesuksesan sudah 80 persen,” kata Gus Irfan.

Pernyataan itu disampaikan karena pada fase Armuzna jutaan jemaah haji dari berbagai negara akan bergerak hampir bersamaan menuju Arafah untuk menjalani wukuf, kemudian bermalam di Muzdalifah dan melontar jumrah di Mina.

Situasi tersebut membuat pelayanan, transportasi, konsumsi, hingga pengaturan pergerakan jemaah menjadi sangat penting.

Di tengah tantangan besar operasional haji, Gus Irfan mengapresiasi kerja para petugas haji Indonesia yang dinilai mampu menjaga ritme pelayanan tetap optimal hingga hari ke-29 operasional.

“Petugas haji luar biasa. Mereka berjibaku di lapangan dan tone pelayanan sejauh ini sangat positif,” ujarnya.

Saat ini, petugas haji Indonesia tersebar di sejumlah daerah kerja mulai dari bandara, Makkah, Madinah, hingga berbagai sektor pelayanan jemaah.

Mereka menjadi garda terdepan dalam memastikan kebutuhan jemaah tetap terpenuhi selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Persiapan Fase Armuzna Terus Dimatangkan

Sementara itu, persiapan Armuzna terus dilakukan setiap hari melalui rapat koordinasi rutin antara pemerintah dan petugas haji.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kendala teknis yang berpotensi muncul saat puncak haji berlangsung.

Kepala Satuan Operasi (Kasatops) Armuzna, Surnadi, mengatakan pihaknya telah beberapa kali melakukan peninjauan langsung ke kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

“Di Arafah misalnya, kami memastikan tenda dan fasilitas di dalamnya siap agar jamaah bisa beribadah dengan nyaman,” ujarnya.

Petugas Pastikan Jemaah Mendapat Tenda saat Wukuf

Menurut Surnadi, salah satu fokus utama petugas adalah memastikan seluruh jemaah mendapatkan tempat di tenda selama pelaksanaan wukuf di Arafah.

Untuk mempermudah penempatan, setiap tenda nantinya akan dilengkapi data kapasitas dan informasi kloter.

“Jangan sampai ada jamaah yang tidak kebagian tenda,” tegasnya.

Selain kesiapan tenda, tantangan lain yang menjadi perhatian ialah pengaturan pergerakan ratusan ribu jemaah Indonesia menuju Arafah pada 8 Dzulhijah.

Seluruh mobilitas jemaah harus diatur secara terukur agar tidak terjadi kepadatan yang berisiko mengganggu keselamatan.

“Petugas harus bisa memanage gelombang masuknya jamaah,” kata Surnadi.

Petugas Siaga Penuh Jelang Puncak Haji

Menjelang fase puncak haji, seluruh petugas kini berada dalam kondisi siaga penuh untuk memastikan pelayanan kepada jemaah tetap berjalan optimal.

Pemerintah berharap kualitas pelayanan yang sudah berjalan baik sejak awal kedatangan jemaah dapat terus dipertahankan hingga seluruh rangkaian Armuzna selesai dilaksanakan.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "Armuzna Penentu Sukses Haji Indonesia 2026, Menteri Haji Minta Petugas Jaga Layanan Prima".

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar