
DI balik sejuknya udara kawasan Bantul, Yogyakarta, tepatnya di dusun Krapyak, berdiri kokoh salah satu mercusuar keilmuan Islam tradisional-modern yang telah mencetak sejarah panjang bagi bangsa dan Nahdlatul Ulama: Pondok Pesantren Krapyak.
Sejak didirikan oleh KH. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad pada 15 November 1910, pesantren ini bukan sekadar tempat mengaji, melainkan sebuah laboratorium kaderisasi ulama, cendekiawan, dan akademisi yang konsisten memadukan kedalaman spiritual Al-Qur'an dengan keluasan wawasan keilmuan kontemporer.
Sejarah mencatat, Krapyak adalah pusat tahfizul Qur'an pertama di Jawa yang diakui sanad keilmuannya. KH M Munawwir, sebagai pendiri, mengkhususkan diri pada pengajaran Qira’at Sab’ah, menjadikan pesantren ini rujukan otoritatif bagi para penghafal Al-Qur'an di Indonesia.
Baca juga: Lirboyo dan Kekuatan Sunyi yang Menggerakkan Nahdlatul Ulama
Keunggulan itu berlanjut dengan transformasi besar ketika kepemimpinan dilanjutkan oleh KH. Ali Maksum, menantu beliau. Di bawah asuhan Kiai Ali Maksum, Krapyak mengalami modernisasi sistem tanpa meninggalkan tradisi salaf. Beliau memadukan sorogan, bandongan, dengan model diskusi klasikal, menjadikan pesantren ini dinamis dan mampu menjawab tantangan zaman.
Keberhasilan Krapyak terbukti dari jejak rekam alumninya yang mendominasi panggung keagamaan dan kebangsaan Indonesia. Pesantren ini adalah tempat bernaungnya kader terbaik NU. Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) pernah menimba ilmu di sini, menunjukkan betapa Krapyak menjadi tempat bertemunya pemikiran Islam progresif.
Lebih dari itu, Krapyak adalah pencetak para Rais Am dan Ketua Umum PBNU, mulai dari KH. Ali Maksum sendiri yang merupakan Rais Am PBNU, hingga KH Said Aqil Siradj dan Gus Yahya (KH. Yahya Cholil Staquf), yang membuktikan kesinambungan otoritas keilmuan dari Krapyak ke tubuh NU.
Dalam ranah pemikiran dan akademik, Krapyak telah melahirkan intelektual kaliber internasional. Sebut saja Kiai As'ad Ali yang merumuskan konsep keamanan dan keagamaan, serta akademisi seperti Profesor Yudian Wahyudi dan Prof Sahiron Syamsuddin yang memadukan fiqih tradisional dengan studi tafsir modern.
Keberagaman alumni, mulai dari sosok budayawan dan sastrawan ulama seperti Gus Mus (KH A Mustofa Bisri), hingga pencipta lagu-lagu religi qosidah Nasida Ria seperti Kiai Buchori Masruri, serta praktisi hukum Kiai Asyhari Abta, menegaskan bahwa Krapyak tidak mencetak santri dalam satu cetakan seragam, melainkan memupuk potensi individu sesuai bakat keilmuannya.
Lebih jauh, Yayasan Ali Maksum Krapyak yang dikembangkan pasca-wafatnya KH Ali Maksum pada 1989, terus meneguhkan posisi pesantren dalam mencetak sarjana-sarjana hukum Islam dan fiqih melalui Ma'had Aly. Ini adalah prestasi nyata dalam menghasilkan akademisi yang tidak hanya alim, tetapi juga mutafaqqih fiddin (mendalami ilmu agama) serta berkarakter.
Baca juga: Lirboyo, Pabrik Pencetak Ulama yang Mengubah Indonesia
Ketua PWNU DIY saat ini, Kiai Muhammad Zuhdi, juga merupakan salah satu bukti konsistensi Krapyak dalam mencetak pemimpin NU di tingkat daerah. Jejak dan prestasi perjalanan Pesantren Krapyak membawa kita pada kesimpulan bahwa pesantren ini berhasil melampaui dikotomi salaf dan khalaf.
Dengan akar sejarah yang kuat, disiplin Al-Qur'an yang ketat, dan keterbukaan terhadap pemikiran rasional, Krapyak telah dan akan terus menjadi produsen kader-kader ulama dan cendekiawan yang berkarakter tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), dan i'tidal (adil) bagi NU dan Indonesia. Wallahu'alam bissowab
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang