Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Lirboyo, "Pabrik" Pencetak Ulama yang Mengubah Indonesia

Kompas.com, 9 Mei 2026, 21:52 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KALAU Anda mencari tempat yang paling "keras" dalam mencetak pengasuh pesantren, jawabannya satu: Lirboyo. Kediri, Jawa Timur. Jangan bayangkan gedung tinggi pencakar langit. Bayangkan ribuan santri, bersarung, berdesakan mengaji kitab kuning, tidur berhimpitan, tapi dari sanalah—dari kesederhanaan yang ekstrem itu—lahir raksasa-raksasa keilmuan yang mengasuh ribuan pesantren di seluruh pelosok Indonesia.

Lirboyo bukan sekadar pesantren biasa, ini adalah "pabrik" pencetak ulama, terutama ulama pengasuh pesantren. Bagaimana Lirboyo bekerja? Mbah Manab (KH Abdul Karim), sang pendiri, menanamkan fondasi kuat: istikomah dan takzim (hormat) pada guru. Santri Lirboyo tidak diajarkan untuk sekadar pintar, tapi alim. Pintar bisa dicari pada AI atau Google, namun alim? Hanya bisa didapat dari barokah guru.

Kurikulumnya? Alfiah, Jauhar Maknun, Juman, Fathul Qarib, Fathul Mu'in, Mahalli, Jamul jawami, Ihya Ulumuddin dst. Namun, di tangan KH. Mahrus Aly dan KH. Idris Marzuki, serta pengasuh setelahnya, santri dididik mandiri. Tidak manja. Lirboyo mendidik santrinya untuk berani terjun ke masyarakat, memimpin, dan mendirikan pesantren. Itulah mengapa alumni Lirboyo identik dengan "pengasuh pesantren".

Baca juga: Lirboyo, dari Sarang Penyamun Menjelma Benteng Nusantara

Menurut data dari organisasi Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Ada 5.002 pendiri dan pengasuh pondok pesantren yang alumni Lirboyo, diantaranya (sekedar menyebut contoh): Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Pengasuh: KH. Maimoen Zubair. Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin Leteh, Rembang yang diasuh KH Ahmad Musthafa Bisri. Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang Pengasuh: KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).

Kemudian Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo. Penerusnya seperti KH Huda Djazuli Usman pernah nyantri di Lirboyo. Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Pengasuh KH Abdul Ghofur. Pondok Pesantren Al-Falah, Banjarbaru. Pengasuh: KH Moh. Ramli dan KH Nur Halimi. Lalu, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo. Pengasuh: KH R Achmad Azaim. Pondok Pesanren Atsaqofah Jakarta, Pengasuh: KH Muhammad Said Aqil Siraj. Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Pengasuh: KH Mustafa Aqil Siraj. Pondok Pesantren Al-Falah, Demangan, Bangkalan, Pengasuh: KH Ahmad Fatah.

Kemudian Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah, Pengasuh: KH Achmad Asrori Al-Ishaqi. Pondok Pesantren Miftahul Huda, Pesawahan, Semarang, Pengasuh: KH Ahmad Said. Pondok Pesantren Sirojul Huda, Bogor Pengasuh: KH Abdul Wahid. Pondok Pesantren Darussalam, Pasuruan. Pengasuh: KH Abdul Hamid dan ribuan pesantren lainnya.

Pesantren-pesantren di atas dikenal mengikuti kurikulum salaf (kitab kuning) yang sehaluan dengan metode keilmuan yang diajarkan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Ribuan lagi kiai-kiai sepuh di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga luar Jawa yang merupakan "alumni emas" Lirboyo. Mereka menjadi pengasuh, membimbing ribuan santri, dan menjaga stabilitas moral masyarakat di tingkat akar rumput.

Mungkin ada pertanyaan: Mengapa Lirboyo belum tergantikan saat ini? Ada sebagian berpendapat "Lirboyo itu manajemennya unik. Manajemen pasrah", tapi disiplin. Tidak ada AC, tapi santrinya ngaji tidak ngantuk. Sementara yang lain, mungkin akan menekankan: "Ini soal manhaj. Lirboyo merawat tradisi tafaquh fiddin (dalam ilmu agama) di tengah arus modernisasi."

Lirboyo mencetak "bapak pesantren", bukan sekadar "pengajar" pesantren. Maaf, Lirboyo mungkin tidak pernah bercita-cita mencetak pegawai negeri. Sebab fokusnya satu: mencetak ulama. Maka jangan kaget, kurikulumnya sangat ortodoks, sangat kiai, dan sangat kitab kuning. Di sana, santri digembleng bukan hanya hafal teks, tapi menghirup tradisi ketawaduan para pengasuhnya.

Lirboyo adalah simbol tashfiyah (pemurnian) dan tarbiyah (pendidikan) jiwa. Santri Lirboyo itu punya kekhasan: militansinya tinggi, penguasaan fikihnya tajam, dan pengabdiannya mutlak. Itulah mengapa, ketika mereka pulang ke kampung halaman, pilihannya cuma dua: meneruskan pesantren yang sudah ada atau babat alas mendirikan pesantren baru.

Baca juga: Merawat Akar Jam’iyyah: Mengapa PBNU Butuh Representasi Ulama Luar Jawa?

Di Lirboyo, ilmu itu bukan sekadar pengetahuan, tapi amaliyah. Santri tidak belajar tentang dunia, tapi menguasai dunia dengan ilmu akhirat. Itulah Lirboyo, pabrik ulama yang tak pernah berhenti mengirim cahaya ke seluruh jagad Nusantara dan mengubahnya. Penulis, tentu saja sangat bersyukur pernah nyantri di Lirboyo, dan sejujurnya, inilah salah satu modal besarnya untuk mendirikan Pesantren Bina Insan Mulia, selain modal pendidikan dari pesantren Tegal Koneng, Kempek, Caringin dan Universitas al-Azhar Mesir. Wallahu'alam bishawab.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Cerita Mbah Marsiyah Jemaah Haji Tertua 105 Tahun, Selalu Sehat Selama Berhaji
Cerita Mbah Marsiyah Jemaah Haji Tertua 105 Tahun, Selalu Sehat Selama Berhaji
Aktual
AMALI Desak Negara Biayai Pesantren Secara Penuh, Soroti Diskriminasi terhadap Ma'had Aly
AMALI Desak Negara Biayai Pesantren Secara Penuh, Soroti Diskriminasi terhadap Ma'had Aly
Aktual
Sensasi Berkuda di Gurun Madinah: Wisata Spiritual Jemaah Indonesia
Sensasi Berkuda di Gurun Madinah: Wisata Spiritual Jemaah Indonesia
Aktual
Puasa Asyura 10 Muharram: Niat, Keutamaan, dan Tata Cara Pelaksanaannya
Puasa Asyura 10 Muharram: Niat, Keutamaan, dan Tata Cara Pelaksanaannya
Doa dan Niat
6 Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram, Hapus Dosa Setahun
6 Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura di Bulan Muharram, Hapus Dosa Setahun
Aktual
Komisi VIII DPR Dorong BPKH Lebih Independen untuk Optimalkan Investasi Dana Haji
Komisi VIII DPR Dorong BPKH Lebih Independen untuk Optimalkan Investasi Dana Haji
Aktual
Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026, Bolehkan Menjalankan Salah Satunya Saja?
Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026, Bolehkan Menjalankan Salah Satunya Saja?
Aktual
Puasa Asyura, Warisan Para Nabi yang Hapus Dosa Setahun dan Sarat Hikmah
Puasa Asyura, Warisan Para Nabi yang Hapus Dosa Setahun dan Sarat Hikmah
Aktual
Mengapa 10 Muharram Disebut Hari Raya Anak Yatim? Ini Sejarah dan Maknanya
Mengapa 10 Muharram Disebut Hari Raya Anak Yatim? Ini Sejarah dan Maknanya
Aktual
MUI Minta Pelaku Penganiayaan di Bandung Dihukum Maksimal: Jangan Ada Toleransi untuk Kekerasan Berkedok Cinta
MUI Minta Pelaku Penganiayaan di Bandung Dihukum Maksimal: Jangan Ada Toleransi untuk Kekerasan Berkedok Cinta
Aktual
PBB: Serangan di Gaza Berlanjut, Krisis Bahan Bakar Ganggu Layanan Kemanusiaan
PBB: Serangan di Gaza Berlanjut, Krisis Bahan Bakar Ganggu Layanan Kemanusiaan
Aktual
Puasa Tasua 9 Muharram: Niat, Dalil Anjuran, Keutamaan, dan Tata Caranya
Puasa Tasua 9 Muharram: Niat, Dalil Anjuran, Keutamaan, dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Rais Aam PBNU Ingatkan Kekuasaan Bisa Hancur karena Kezaliman
Rais Aam PBNU Ingatkan Kekuasaan Bisa Hancur karena Kezaliman
Aktual
MUI: Jangan Gunakan Kekerasan Jika Temukan Indikasi LGBT pada Anak, Harus Dirangkul
MUI: Jangan Gunakan Kekerasan Jika Temukan Indikasi LGBT pada Anak, Harus Dirangkul
Aktual
MUI Apresiasi Penyelenggaraan Haji 2026, Nilai Pelayanan Jamaah Semakin Membaik
MUI Apresiasi Penyelenggaraan Haji 2026, Nilai Pelayanan Jamaah Semakin Membaik
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com