
KALAU Anda mencari tempat yang paling "keras" dalam mencetak pengasuh pesantren, jawabannya satu: Lirboyo. Kediri, Jawa Timur. Jangan bayangkan gedung tinggi pencakar langit. Bayangkan ribuan santri, bersarung, berdesakan mengaji kitab kuning, tidur berhimpitan, tapi dari sanalah—dari kesederhanaan yang ekstrem itu—lahir raksasa-raksasa keilmuan yang mengasuh ribuan pesantren di seluruh pelosok Indonesia.
Lirboyo bukan sekadar pesantren biasa, ini adalah "pabrik" pencetak ulama, terutama ulama pengasuh pesantren. Bagaimana Lirboyo bekerja? Mbah Manab (KH Abdul Karim), sang pendiri, menanamkan fondasi kuat: istikomah dan takzim (hormat) pada guru. Santri Lirboyo tidak diajarkan untuk sekadar pintar, tapi alim. Pintar bisa dicari pada AI atau Google, namun alim? Hanya bisa didapat dari barokah guru.
Kurikulumnya? Alfiah, Jauhar Maknun, Juman, Fathul Qarib, Fathul Mu'in, Mahalli, Jamul jawami, Ihya Ulumuddin dst. Namun, di tangan KH. Mahrus Aly dan KH. Idris Marzuki, serta pengasuh setelahnya, santri dididik mandiri. Tidak manja. Lirboyo mendidik santrinya untuk berani terjun ke masyarakat, memimpin, dan mendirikan pesantren. Itulah mengapa alumni Lirboyo identik dengan "pengasuh pesantren".
Baca juga: Lirboyo, dari Sarang Penyamun Menjelma Benteng Nusantara
Menurut data dari organisasi Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Ada 5.002 pendiri dan pengasuh pondok pesantren yang alumni Lirboyo, diantaranya (sekedar menyebut contoh): Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Pengasuh: KH. Maimoen Zubair. Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin Leteh, Rembang yang diasuh KH Ahmad Musthafa Bisri. Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang Pengasuh: KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).
Kemudian Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo. Penerusnya seperti KH Huda Djazuli Usman pernah nyantri di Lirboyo. Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Pengasuh KH Abdul Ghofur. Pondok Pesantren Al-Falah, Banjarbaru. Pengasuh: KH Moh. Ramli dan KH Nur Halimi. Lalu, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo. Pengasuh: KH R Achmad Azaim. Pondok Pesanren Atsaqofah Jakarta, Pengasuh: KH Muhammad Said Aqil Siraj. Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Pengasuh: KH Mustafa Aqil Siraj. Pondok Pesantren Al-Falah, Demangan, Bangkalan, Pengasuh: KH Ahmad Fatah.
Kemudian Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah, Pengasuh: KH Achmad Asrori Al-Ishaqi. Pondok Pesantren Miftahul Huda, Pesawahan, Semarang, Pengasuh: KH Ahmad Said. Pondok Pesantren Sirojul Huda, Bogor Pengasuh: KH Abdul Wahid. Pondok Pesantren Darussalam, Pasuruan. Pengasuh: KH Abdul Hamid dan ribuan pesantren lainnya.
Pesantren-pesantren di atas dikenal mengikuti kurikulum salaf (kitab kuning) yang sehaluan dengan metode keilmuan yang diajarkan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Ribuan lagi kiai-kiai sepuh di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga luar Jawa yang merupakan "alumni emas" Lirboyo. Mereka menjadi pengasuh, membimbing ribuan santri, dan menjaga stabilitas moral masyarakat di tingkat akar rumput.
Mungkin ada pertanyaan: Mengapa Lirboyo belum tergantikan saat ini? Ada sebagian berpendapat "Lirboyo itu manajemennya unik. Manajemen pasrah", tapi disiplin. Tidak ada AC, tapi santrinya ngaji tidak ngantuk. Sementara yang lain, mungkin akan menekankan: "Ini soal manhaj. Lirboyo merawat tradisi tafaquh fiddin (dalam ilmu agama) di tengah arus modernisasi."
Lirboyo mencetak "bapak pesantren", bukan sekadar "pengajar" pesantren. Maaf, Lirboyo mungkin tidak pernah bercita-cita mencetak pegawai negeri. Sebab fokusnya satu: mencetak ulama. Maka jangan kaget, kurikulumnya sangat ortodoks, sangat kiai, dan sangat kitab kuning. Di sana, santri digembleng bukan hanya hafal teks, tapi menghirup tradisi ketawaduan para pengasuhnya.
Lirboyo adalah simbol tashfiyah (pemurnian) dan tarbiyah (pendidikan) jiwa. Santri Lirboyo itu punya kekhasan: militansinya tinggi, penguasaan fikihnya tajam, dan pengabdiannya mutlak. Itulah mengapa, ketika mereka pulang ke kampung halaman, pilihannya cuma dua: meneruskan pesantren yang sudah ada atau babat alas mendirikan pesantren baru.
Baca juga: Merawat Akar Jam’iyyah: Mengapa PBNU Butuh Representasi Ulama Luar Jawa?
Di Lirboyo, ilmu itu bukan sekadar pengetahuan, tapi amaliyah. Santri tidak belajar tentang dunia, tapi menguasai dunia dengan ilmu akhirat. Itulah Lirboyo, pabrik ulama yang tak pernah berhenti mengirim cahaya ke seluruh jagad Nusantara dan mengubahnya. Penulis, tentu saja sangat bersyukur pernah nyantri di Lirboyo, dan sejujurnya, inilah salah satu modal besarnya untuk mendirikan Pesantren Bina Insan Mulia, selain modal pendidikan dari pesantren Tegal Koneng, Kempek, Caringin dan Universitas al-Azhar Mesir. Wallahu'alam bishawab.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang