Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Tidur setelah Subuh, Ini Keutamaan Rezeki di Waktu Pagi

Kompas.com, 9 Mei 2026, 17:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Bagi sebagian orang, waktu setelah salat Subuh sering kali digunakan untuk kembali tidur.

Padahal dalam ajaran Islam, pagi hari justru disebut sebagai salah satu waktu paling penuh keberkahan untuk memulai aktivitas, termasuk mencari rezeki.

Tidak sedikit hadis Nabi Muhammad SAW yang menyinggung keutamaan waktu pagi. Bahkan Rasulullah SAW secara khusus mendoakan keberkahan bagi umatnya yang memulai aktivitas sejak awal hari.

Karena itu, para ulama sejak dahulu banyak menekankan pentingnya menghidupkan waktu Subuh dengan ibadah, zikir, hingga bekerja dan mencari nafkah halal.

Lalu, seperti apa sebenarnya keutamaan mencari rezeki setelah Subuh menurut hadis dan pandangan ulama? Berikut penjelasan lengkapnya.

Baca juga: Keutamaan Silaturahmi dalam Islam: Jalan Melapangkan Rezeki

Rasulullah SAW Mendoakan Keberkahan di Waktu Pagi

Salah satu hadis paling terkenal tentang keutamaan pagi diriwayatkan dari sahabat Shakhr al-Ghamidi RA. Rasulullah SAW bersabda:

Allahumma barik li ummati fii bukuurihaa.

“Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hadis ini menjadi dasar utama mengapa banyak ulama menganjurkan umat Islam memulai aktivitas sejak pagi hari.

Dikutip dari kitab Syarh Riyadhus Shalihin karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, doa Rasulullah SAW tersebut menunjukkan bahwa waktu pagi merupakan waktu turunnya keberkahan dan kemudahan rezeki.

Menurut Al-‘Utsaimin, seseorang yang memulai pekerjaannya sejak awal siang biasanya akan merasakan keberkahan lebih besar dibanding mereka yang bermalas-malasan hingga matahari meninggi.

Beliau juga menyinggung fenomena banyak orang yang kehilangan keberkahan karena terbiasa tidur setelah Subuh dan baru memulai aktivitas ketika hari sudah siang.

“Pemimpinnya siang adalah awalnya,” tulis Al-‘Utsaimin, menggambarkan bahwa kualitas hari seseorang sangat ditentukan dari bagaimana ia memulai paginya.

Baca juga: 7 Amalan Subuh Pembuka Rezeki, Lengkap Doa Arab dan Artinya

Kisah Sahabat Nabi yang Kaya karena Aktif di Pagi Hari

Menariknya, hadis tentang keberkahan pagi juga disertai kisah nyata dari perawi hadis tersebut, yaitu Shakhr al-Ghamidi RA.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Shakhr adalah seorang pedagang sukses yang terbiasa mengirim barang dagangannya sejak pagi hari.

Kebiasaan itu membuat perdagangannya berkembang pesat hingga menjadi kaya raya.
Para ulama menilai kisah ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bukti nyata terkabulnya doa Rasulullah SAW terhadap umatnya yang aktif dan produktif di pagi hari.

Dalam buku Keajaiban Rezeki karya Ippho Santosa dijelaskan bahwa ritme pagi yang produktif membantu seseorang lebih fokus, disiplin, dan teratur dalam menjalankan aktivitas harian.

Hal ini selaras dengan ajaran Islam yang menempatkan pagi sebagai waktu penuh energi dan keberkahan.

Larangan Tidur setelah Subuh dalam Hadits

Selain menganjurkan aktivitas pagi, sejumlah hadis juga memperingatkan umat Islam agar tidak tidur setelah Subuh hingga melalaikan aktivitas dan rezeki.

Dalam hadis riwayat Thabrani dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila kalian telah selesai melaksanakan salat Subuh, maka janganlah tidur sehingga kalian lalai mencari rezeki.” (HR Thabrani)

Meski para ulama berbeda pendapat mengenai derajat hadis ini, kandungannya dinilai sejalan dengan banyak riwayat lain tentang keberkahan waktu pagi.

Dikutip dari jurnal Studi Komparatif Living Hadis Larangan Tidur setelah Subuh karya Alwi Shobri dan Siti Maisyaroh, tradisi menghindari tidur pagi telah lama dipraktikkan para ulama salaf.

Sahabat Nabi, az-Zubair bin al-‘Awwam, bahkan disebut melarang anak-anaknya tidur pada waktu pagi.

Sementara putranya, Urwah bin az-Zubair, pernah berkata:

“Jika aku mendengar seseorang tidur di waktu pagi, aku merasa tidak suka kepadanya.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa generasi awal Islam sangat menghargai waktu pagi sebagai momentum penting untuk ibadah dan bekerja.

Baca juga: Hukum Tidur Setelah Subuh, Boleh atau Makruh? Ini Jawaban Rasulullah

Waktu Subuh Disebut Disaksikan Malaikat

Keutamaan waktu Subuh juga dijelaskan dalam Al Quran.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 78:

“Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan oleh para malaikat.”

Dalam tafsir para ulama dijelaskan bahwa malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada waktu Subuh.

Hadis riwayat Bukhari dan Muslim juga menjelaskan pergantian malaikat terjadi saat salat Subuh dan Asar.

Oleh karena itu, waktu pagi dipandang sebagai salah satu waktu paling mulia dalam kehidupan seorang Muslim.

Keutamaan Berzikir hingga Matahari Terbit

Dalam Islam, waktu setelah Subuh bukan hanya dianjurkan untuk bekerja, tetapi juga diisi dengan ibadah dan zikir.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa melaksanakan salat Subuh berjamaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu salat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala seperti haji dan umrah yang sempurna.” (HR Tirmidzi)

Hadis ini sering dijadikan motivasi oleh para ulama agar umat Islam tidak langsung tidur setelah Subuh.

Dalam buku Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi dijelaskan bahwa waktu pagi merupakan salah satu momen paling baik untuk memperbanyak doa, zikir, membaca Al Quran, dan memohon keberkahan rezeki kepada Allah SWT.

Baca juga: Bacaan Niat Sholat Subuh Lengkap: Sendiri, Imam, dan Makmum

Subuh Disebut sebagai Waktu Ghanimah

Ulama besar Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebut waktu setelah Subuh sebagai waqtun ghanimah, yakni waktu memanen keuntungan besar.

Dalam kitab Madarij as-Salikin, beliau menjelaskan bahwa tidur setelah Subuh termasuk kebiasaan yang dibenci para ulama karena dapat menghalangi datangnya keberkahan.

Ibnu Qayyim bahkan menyebut pagi hari sebagai waktu dibagikannya rezeki.
Oleh karena itu, banyak ulama salaf memilih mengisi pagi mereka dengan belajar, berdagang, menulis kitab, atau melakukan perjalanan mencari ilmu.

Pandangan Kesehatan tentang Bangun Pagi

Selain dari sisi spiritual, bangun pagi dan aktif setelah Subuh juga banyak dikaitkan dengan manfaat kesehatan.

Dalam jurnal Analisis Keistimewaan Shalat Subuh Perspektif Al-Qur’an dan Kesehatan karya Muhammad Farhan Athallah disebutkan bahwa bangun pagi membantu menjaga ritme biologis tubuh, meningkatkan produktivitas, serta memperbaiki kesehatan mental.

Paparan sinar matahari pagi juga membantu tubuh menghasilkan vitamin D dan menjaga kualitas tidur pada malam hari.

Oleh karena itu, ajaran Islam tentang aktivitas pagi dinilai selaras dengan berbagai penelitian kesehatan modern.

Menjadikan Pagi sebagai Awal Perubahan

Bagi banyak orang, keberhasilan sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, termasuk membangun rutinitas pagi.

Islam mengajarkan bahwa waktu setelah Subuh bukan sekadar jeda antara malam dan siang, melainkan peluang besar untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menjemput rezeki halal.

Di tengah kebiasaan modern yang sering membuat orang tidur larut malam dan bangun kesiangan, ajaran Rasulullah SAW tentang keberkahan pagi terasa semakin relevan.

Karena itu, tidak heran jika para ulama sejak dahulu selalu mengingatkan bahwa salah satu kunci keberkahan hidup bisa jadi dimulai dari bagaimana seseorang memanfaatkan waktu paginya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
PBNU Tetapkan 1 Muharram 17 Juni 2026, Ini Alasan Berbeda dengan Kalender Kemenag
PBNU Tetapkan 1 Muharram 17 Juni 2026, Ini Alasan Berbeda dengan Kalender Kemenag
Aktual
Kiswah Baru Ka'bah Resmi Dipasang di Momen Tahun Baru Hijriah 1448 H
Kiswah Baru Ka'bah Resmi Dipasang di Momen Tahun Baru Hijriah 1448 H
Aktual
Pemulangan Haji Gelombang II dari Madinah Dimulai, 99.497 Orang Tiba di Indonesia
Pemulangan Haji Gelombang II dari Madinah Dimulai, 99.497 Orang Tiba di Indonesia
Aktual
PBNU: Syiar Islam Perlu Dekat dengan Masyarakat Lewat Kegiatan Positif dan Menggembirakan
PBNU: Syiar Islam Perlu Dekat dengan Masyarakat Lewat Kegiatan Positif dan Menggembirakan
Aktual
Seskab Teddy Ajak Umat Gunakan Momen Tahun Baru Islam 1448 H untuk Muhasabah Diri
Seskab Teddy Ajak Umat Gunakan Momen Tahun Baru Islam 1448 H untuk Muhasabah Diri
Aktual
Jawa Tengah Jadi Provinsi dengan Sertifikasi Tanah Wakaf Tertinggi di Indonesia
Jawa Tengah Jadi Provinsi dengan Sertifikasi Tanah Wakaf Tertinggi di Indonesia
Aktual
Jusuf Kalla: Masjid Harus Makmurkan Jamaah dan Jadi Pusat Peradaban Umat
Jusuf Kalla: Masjid Harus Makmurkan Jamaah dan Jadi Pusat Peradaban Umat
Aktual
Jemaah Haji Diminta Isolasi Mandiri 14 Hari Setelah Pulang, PPIH Ingatkan Risiko Kesehatan
Jemaah Haji Diminta Isolasi Mandiri 14 Hari Setelah Pulang, PPIH Ingatkan Risiko Kesehatan
Aktual
Bahaya Dampak El Nino, Ini Doa Rasulullah Saat Kemarau Panjang
Bahaya Dampak El Nino, Ini Doa Rasulullah Saat Kemarau Panjang
Doa dan Niat
Liga Muslim Dunia Luncurkan Program Pembelajaran Bahasa Arab untuk Hafiz Al-Quran di Asia Tenggara
Liga Muslim Dunia Luncurkan Program Pembelajaran Bahasa Arab untuk Hafiz Al-Quran di Asia Tenggara
Aktual
Doa Saat Terjadi Gempa dan Memohon Kesabaran ketika Tertimpa Musibah, Arab, Latin & Arti
Doa Saat Terjadi Gempa dan Memohon Kesabaran ketika Tertimpa Musibah, Arab, Latin & Arti
Aktual
Mengintip Persiapan Tradisi Penggantian Kiswah Baru Ka'bah Jelang Tahun Baru Islam 1448 H
Mengintip Persiapan Tradisi Penggantian Kiswah Baru Ka'bah Jelang Tahun Baru Islam 1448 H
Aktual
PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 17 Juni 2026, Ini Alasannya
PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 17 Juni 2026, Ini Alasannya
Aktual
Sahabat Tuli Kini Punya Kosa Isyarat Keislaman, Kemenag Luncurkan KOSMIN
Sahabat Tuli Kini Punya Kosa Isyarat Keislaman, Kemenag Luncurkan KOSMIN
Aktual
Tahun Baru Hijriah 1448 H: Momentum Moralitas dan Kebangkitan Nilai
Tahun Baru Hijriah 1448 H: Momentum Moralitas dan Kebangkitan Nilai
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com