Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Cuma Ngaji, Pesantren Kini Jadi Pemasok Utama Program Makan Gratis 2026

Kompas.com, 20 Mei 2026, 20:39 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Pondok pesantren tak lagi hanya dipandang sebagai pusat pendidikan agama. Di tengah dorongan pemerintah membangun ekonomi kerakyatan berbasis koperasi, pesantren kini mulai diproyeksikan menjadi bagian penting dalam rantai pasok nasional, mulai dari penyedia bahan pangan hingga penggerak ekonomi digital umat.

Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren) bahkan tengah menyiapkan ekosistem besar yang menghubungkan koperasi pesantren, Koperasi Desa Merah Putih, pelaku UMKM, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di balik langkah tersebut, tersimpan ambisi besar: membangun kemandirian ekonomi umat berbasis pesantren.

Wakil Ketua Inkopontren, KH Suharisto mengatakan pesantren akan disinergikan dengan Program Koperasi Desa Merah Putih melalui penguatan rantai pasok pangan dan kebutuhan harian.

“Beberapa yang progres sedang berjalan itu dapur-dapur MBG yang di bawah koordinasi Inkopontren. Tentu bahan baku yang dihasilkan itu disuplai dari pelaku-pelaku usaha, baik yang tertampung di koperasi desa Merah Putih ataupun juga yang ada di pesantren-pesantren,” ujar Suharisto usai Rapat Kerja Nasional Inkopontren 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2025).

Baca juga: Produk Pesantren Didorong Go Global, dari Batik hingga Sarung

Pesantren Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat

Selama ini pesantren lebih sering diposisikan sebagai penerima bantuan sosial atau lembaga pendidikan berbasis keagamaan.

Namun dalam skema baru yang sedang disusun, pesantren justru ditempatkan sebagai pelaku utama ekonomi.

Menurut Suharisto, koperasi pesantren atau kopontren nantinya akan menjadi bagian dari supply chain kebutuhan harian pesantren sekaligus mendukung ekosistem ekonomi desa.

“Pesantren itu selain sebagai penerima manfaat, juga sebagai pelaku usaha,” katanya.

Konsep tersebut dijalankan melalui program Indonesia Santripreneur Care (ISC), sebuah gerakan pemberdayaan ekonomi santri yang dirancang dari hulu hingga hilir.

Program ini mencakup pelatihan sumber daya manusia, inkubasi bisnis, penguatan permodalan, hingga digital marketing berbasis platform mandiri.

Santri Disiapkan Jadi Entrepreneur

Gerakan ISC tidak hanya berfokus pada pengembangan usaha konvensional, tetapi juga menyiapkan santri agar mampu masuk ke dunia ekonomi modern dan digital.

Dalam skema itu, Inkopontren menggandeng sejumlah kementerian, seperti Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Koperasi, dan Kementerian UMKM.

Kementerian Ketenagakerjaan berperan dalam peningkatan keterampilan dan pelatihan vokasi santri, sementara Kementerian Koperasi membantu inkubasi bisnis serta akses pembiayaan.

“Dari mulai up-skilling SDM, inkubasi bisnis, sampai digital marketing itu kita siapkan. Harapannya nanti kita punya platform sendiri,” ungkap Suharisto.

Ia menyebut jumlah santri di Indonesia yang mencapai hampir 12 juta orang merupakan potensi pasar besar yang selama ini belum sepenuhnya terhubung dalam ekosistem ekonomi nasional.

Oleh karena itu, Inkopontren mulai menyiapkan sistem pemasaran digital berbasis komunitas pesantren.

Baca juga: KH Marsudi Dorong Pesantren Ciptakan Legacy untuk Generasi Penerus

Dari Farming hingga Kecap Santri

Pengembangan ekonomi pesantren yang dilakukan Inkopontren tidak hanya berhenti pada distribusi bahan pangan.

Berbagai unit usaha mulai dibangun di lingkungan pesantren, mulai dari sektor pertanian, peternakan, produk konsumsi, hingga industri kecil.

Salah satu yang sedang dipersiapkan adalah produk “Kecap Santri”, yang disebut menjadi salah satu produk pabrikasi pertama hasil pengembangan unit usaha pesantren.

“Produk-produk yang sudah dihasilkan dari kita ini selain dari farming di lingkungan pondok, juga kemampuan vokasi seperti mekanik, administrasi, dan lain-lain. Sekarang Inkopontren juga sedang mempersiapkan kecap santri,” jelasnya.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pesantren mulai bergerak menuju model ekonomi produktif yang lebih modern dan berorientasi pasar.

Punya Platform Sendiri dan Siap Go Digital

Salah satu target terbesar Inkopontren adalah membangun platform digital sendiri untuk menghubungkan produk-produk pesantren dengan pasar yang lebih luas.

Suharisto menyebut digitalisasi menjadi tahapan akhir dari program Indonesia’s Entrepreneur Care (ISC) setelah peningkatan SDM dan penguatan usaha dilakukan.

“Bagaimana kita punya blockchain sendiri, bagaimana kita punya platform sendiri,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan Inkopontren tidak ingin terburu-buru masuk pasar ekspor tanpa kesiapan produksi yang matang.

Menurutnya, fokus utama saat ini adalah membangun kontinuitas produk dan memperkuat pasar internal pesantren terlebih dahulu.

“Kalau sudah punya kualitas dan kontinuitas produk, baru kita melangkah ke ekspor,” ujarnya.

Baca juga: Pesantren Didorong Cetak Wirausaha Baru, Kemenaker Siapkan Modal Rp 15 Juta

Sudah Ada 20 Puskopontren di Seluruh Indonesia

Saat ini jaringan Inkopontren telah memiliki 20 Pusat Koperasi Pondok Pesantren (Puskopontren) yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Dari pusat koperasi tingkat wilayah itu, jaringan kemudian tersambung langsung ke koperasi-koperasi pondok pesantren di daerah.

Skema tersebut membuat ekosistem ekonomi pesantren mulai terhubung dari tingkat pusat hingga akar rumput.

“Dari Puskopontren di tingkat provinsi itu kemudian langsung kepada pondok-pondok pesantren, kopontren namanya,” tutur Suharisto.

Ke depan, jaringan ini diharapkan menjadi tulang punggung ekonomi umat berbasis koperasi syariah dan komunitas pesantren.

Pesantren dan Spirit Kemandirian Ekonomi Umat

Gagasan membangun ekonomi pesantren sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah Islam di Indonesia.

Penguatan koperasi pesantren dinilai bukan sekadar proyek ekonomi, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat kesejahteraan umat secara kolektif.

Di tengah tantangan ekonomi modern, pesantren kini perlahan berubah menjadi pusat kewirausahaan baru yang memadukan nilai keislaman, pemberdayaan sosial, dan teknologi digital.

Jika ekosistem ini berhasil berkembang, pesantren bukan hanya menjadi tempat mencetak santri, tetapi juga melahirkan pelaku usaha, penggerak koperasi, hingga produsen produk halal berbasis komunitas.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar