Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

SMA Konservasi Pertama di Indonesia Milik Muhammadiyah: Gabungkan Pendidikan, Agama, dan Pelestarian Alam

Kompas.com, 3 Juni 2026, 08:53 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan kerusakan lingkungan global, Muhammadiyah melahirkan model pendidikan baru berbasis konservasi di Papua Barat.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, secara resmi membuka Unit Sekolah Baru (USB) SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) Manokwari pada Kamis (28/5).

Berlokasi di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Arfai, Manokwari Selatan, SMAMCO mencatat sejarah sebagai sekolah berbasis konservasi pertama di Indonesia yang memadukan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan nilai keberagaman dalam satu ekosistem pembelajaran.

Peresmian itu sekaligus menjadi peluncuran resmi Kurikulum Konservasi SMAMCO hasil kolaborasi Muhammadiyah bersama EcoBhinneka Muhammadiyah dan WWF-Indonesia.

Baca juga: Muhammadiyah Umumkan 20 Penerima Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Siapkan Kader Ulama Bertaraf Global

Kurikulum tersebut dirancang sebagai model pendidikan konservasi yang menggabungkan nilai agama, sains, dan kearifan lokal Papua Barat.

Peresmian dihadiri Sekretaris Daerah Papua Barat Ali Baham Temongmere, Bupati Manokwari Hermus Indou, Wakil Bupati Mugiyono, jajaran Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, serta pimpinan Muhammadiyah dan ’Aisyiyah Papua Barat.

Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam pembangunan sekolah tersebut.

“SMAMCO Manokwari memiliki ciri khas yang sangat baik karena mengintegrasikan pendidikan dengan konservasi lingkungan. Ini selaras dengan arah kebijakan pemerintah dalam membangun generasi yang unggul sekaligus memiliki kesadaran menjaga alam,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia menegaskan pentingnya membangun kecerdasan ekologis sejak dini dengan menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan menjaga bumi di tengah ancaman pemanasan global.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat Mulyadi Djaya mengatakan SMAMCO hadir bukan sekadar menambah jumlah sekolah, melainkan menjadi ikhtiar menghadirkan pendidikan yang berpihak pada lingkungan dan nilai kemanusiaan.

Menurutnya, sekolah tersebut dibangun di atas kesadaran teologis sebagai khalifah fil ardh yang memiliki tanggung jawab menjaga bumi, sekaligus kesadaran ekologis lokal masyarakat Arfak yang memandang hutan sebagai sumber kehidupan.

Perjalanan pembangunan SMAMCO juga disebut menjadi kisah inspiratif. Sekolah itu awalnya dirintis dari bangunan bekas klinik sekitar satu tahun lalu.

Kini, SMAMCO telah berkembang menjadi 13 bangunan sekolah beserta fasilitas pendukungnya yang dibangun secara gotong royong hanya dalam waktu empat bulan.

Direktur EcoBhinneka Muhammadiyah Hening Parlan menilai pendidikan lingkungan harus menjadi gerakan bersama lintas agama dan lintas generasi.

“Krisis iklim dan kerusakan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori. Anak-anak harus dibiasakan hidup bersama alam, memahami ekosistemnya, dan membangun kesadaran bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama,” jelasnya.

Baca juga: PP Muhammadiyah: Ibadah Kurban Perkuat Solidaritas dan Kerekatan Sosial Masyarakat

Penyusunan kurikulum konservasi berbasis kearifan lokal Papua Barat di SMAMCO juga mendapat dukungan penuh dari WWF Indonesia yang diwakili Diah Suradiredja selaku Head of Policy and Advocacy serta Ratna Dewi sebagai National Project Coordinator Together for People and Planet (ToPP).

Muhammadiyah berharap kehadiran SMAMCO dapat menjadi model pendidikan masa depan yang tidak hanya mencetak generasi unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan dan kemanusiaan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar