Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Awas Sindrom Pascahaji, Psikolog Ungkap Penyebab Jemaah Merasa Rindu Tanah Suci

Kompas.com, 2 Juni 2026, 21:56 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Kepulangan jemaah haji ke Tanah Air tidak hanya membawa kenangan spiritual, tetapi juga tantangan psikologis yang kerap tidak disadari.

Sebagian jemaah dapat mengalami sindrom pascahaji, yaitu kondisi ketika seseorang merasakan kerinduan mendalam terhadap suasana ibadah di Tanah Suci setelah kembali menjalani rutinitas sehari-hari.

Fenomena ini muncul karena pengalaman selama haji melibatkan aspek emosional, spiritual, sosial, hingga pengalaman sensorik yang sangat kuat.

Baca juga: Sebanyak 5.329 Jemaah Haji Khusus Indonesia Sudah Pulang ke Tanah Air

Psikolog menyebut kondisi tersebut merupakan bagian dari proses penyesuaian diri setelah menjalani pengalaman hidup yang sangat bermakna.

Pengalaman Haji Membentuk Memori Emosional yang Kuat

Dilansir dari Antara, Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Efnie Indrianie, S.Psi, M.Psi, Psikolog, menjelaskan bahwa ibadah haji dan umrah merupakan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

Baca juga: YIA Layani Debarkasi Haji Perdana, Jemaah Kloter 1 Kulon Progo Telah Tiba dari Jeddah

"Dalam perspektif bio-neuropsikologi, haji dan umrah merupakan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh aspek manusia, emosi, spiritualitas, hubungan sosial, makna hidup, serta pengalaman sensorik yang sangat kuat," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

PR Asosiasi Neuropsikologi Indonesia-Himpunan Psikologi Indonesia itu mengatakan jemaah yang menunaikan haji atau umrah biasanya merasakan kedekatan spiritual dengan Tuhan serta ketenangan karena dapat beribadah secara fokus di lingkungan yang mendukung bersama jutaan Muslim lainnya.

Menurut Efnie, pengalaman tersebut membentuk jejak memori emosional yang sangat kuat di otak, terutama pada sistem limbik yang berperan sebagai pusat emosi dan hippocampus yang berfungsi sebagai pusat memori.

Rutinitas Harian Memicu Rasa Rindu Tanah Suci

Efnie menjelaskan bahwa setelah kembali ke kehidupan sehari-hari, otak secara alami membandingkan kondisi saat ini dengan pengalaman spiritual yang pernah dirasakan selama berada di Tanah Suci.

"Ketika kembali ke kehidupan sehari-hari yang penuh tuntutan pekerjaan, kemacetan, tagihan, konflik keluarga, atau tekanan sosial, otak membandingkan kondisi saat ini dengan pengalaman spiritual yang pernah dirasakan di Tanah Suci," ia menjelaskan.

Perbandingan tersebut dapat memunculkan rasa rindu terhadap suasana ibadah di Masjidil Haram, Makkah, maupun Masjid Nabawi di Madinah.

Akibatnya, sebagian jemaah terdorong untuk kembali melihat foto atau video saat menjalankan ibadah haji sebagai cara mengenang pengalaman yang pernah dirasakan.

Menurut Efnie, sebagian orang juga dapat merasakan kehilangan setelah pulang dari Tanah Suci, menangis ketika mengingat momen ibadah, hingga mengalami kesulitan beradaptasi dengan rutinitas yang terasa lebih sibuk dan bising.

"Fenomena ini secara psikologis mirip dengan proses re-entry adjustment, yaitu penyesuaian kembali setelah mengalami pengalaman hidup yang sangat bermakna," kata dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha itu.

Faktor yang Membuat Jemaah Rentan Mengalami Sindrom Pascahaji

Efnie mengungkapkan terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom pascahaji.

Salah satunya adalah tingkat keterlibatan spiritual yang sangat tinggi selama menjalankan ibadah haji atau umrah.

Menurut dia, semakin mendalam pengalaman spiritual yang dirasakan seseorang, semakin kuat pula memori emosional yang terbentuk selama berada di Tanah Suci.

Selain itu, kondisi kehidupan sebelum berhaji juga berpengaruh terhadap munculnya sindrom pascahaji.

Efnie mengatakan bagi sebagian orang, Tanah Suci menjadi tempat untuk beristirahat secara psikologis dari berbagai tekanan hidup yang sedang dihadapi.

Ketika kembali ke kehidupan sehari-hari dan harus menghadapi kembali berbagai persoalan tersebut, kontras emosional yang dirasakan menjadi semakin besar.

Kepribadian dan Fase Kehidupan Turut Berpengaruh

Menurut Efnie, orang dengan kepribadian reflektif dan emosional juga lebih rentan mengalami sindrom pascahaji.

Kelompok ini umumnya memiliki empati tinggi, gemar merenung, dan lebih sensitif terhadap pengalaman spiritual sehingga kerinduan yang dirasakan setelah pulang dari Tanah Suci bisa menjadi lebih mendalam.

Selain faktor kepribadian, perubahan besar dalam kehidupan juga dapat memicu munculnya sindrom pascahaji.

"Sedang berada dalam fase pencarian makna hidup. Misalnya setelah kehilangan orang tercinta, menghadapi penyakit, krisis usia paruh baya, atau perubahan besar dalam kehidupan," katanya.

Menurut Efnie, kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah terhubung secara emosional dengan pengalaman spiritual selama berhaji, sehingga proses penyesuaian saat kembali ke kehidupan sehari-hari menjadi lebih menantang.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar