Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

1.000 Hari Perang Gaza: 2.700 Keluarga Palestina Musnah, Ribuan Anak Jadi Korban

Kompas.com, 5 Juli 2026, 08:56 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Memasuki 1.000 hari perang di Jalur Gaza, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut krisis kemanusiaan di wilayah tersebut telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam laporan terbaru, otoritas Gaza menyatakan lebih dari 2.700 keluarga Palestina telah musnah sepenuhnya, tanpa satu pun anggota keluarga yang selamat.

Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, Ismail al-Thawabteh, mengatakan perang telah mengubah Gaza dari wilayah yang relatif stabil menjadi kawasan yang mengalami kehancuran total.

"Kami menghadapi bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gaza kini berada dalam realitas kehancuran total," ujarnya.

Menurut data yang dirilis, lebih dari 39.000 keluarga menjadi sasaran langsung selama konflik berlangsung. Dari jumlah tersebut, 2.700 keluarga dinyatakan hilang seluruh anggotanya, sehingga nama mereka dihapus dari catatan sipil. Sementara itu, sekitar 6.020 keluarga hanya menyisakan satu anggota yang masih hidup.

Baca juga: PBB: Serangan di Gaza Berlanjut, Krisis Bahan Bakar Ganggu Layanan Kemanusiaan

Lebih dari 73.000 Korban Jiwa

Pemerintah Gaza melaporkan lebih dari 73.000 jenazah telah dibawa ke rumah sakit sejak perang dimulai, sementara 173.514 orang mengalami luka-luka. Selain itu, sekitar 9.500 orang masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun reruntuhan atau berada di wilayah yang tidak dapat dijangkau akibat operasi militer yang masih berlangsung.

Al-Thawabteh mengatakan masih banyak jenazah yang belum dapat dievakuasi karena tim ambulans dan petugas pertahanan sipil tidak dapat mengakses lokasi yang berada di bawah kendali militer Israel.

Infrastruktur Gaza Hancur

Kantor Media Pemerintah Gaza mengklaim lebih dari 90 persen bangunan dan infrastruktur di Jalur Gaza mengalami kerusakan atau hancur, termasuk permukiman, rumah sakit, sekolah, universitas, tempat ibadah, jalan raya, jaringan air, listrik, dan sistem sanitasi.

Layanan kesehatan juga disebut lumpuh. Rumah sakit yang masih beroperasi hanya mampu memberikan sekitar 20 persen layanan dibandingkan sebelum perang.

Lebih dari 22.000 warga Palestina yang terluka parah dan sakit disebut membutuhkan perawatan medis di luar negeri, namun banyak yang tidak dapat keluar akibat pembatasan di perbatasan.

Jutaan Warga Hidup di Tenda

Krisis kemanusiaan juga semakin memburuk. Lebih dari satu juta pengungsi kini tinggal di tenda-tenda darurat di kawasan Al-Mawasi, Gaza selatan, dengan akses yang sangat terbatas terhadap air bersih, makanan, layanan kesehatan, dan obat-obatan.

Otoritas Gaza menyebut lebih dari 80 persen penduduk kini hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak keluarga hanya mampu makan satu kali sehari atau bahkan kurang.

Sekitar 1,1 juta anak disebut hanya memperoleh satu kali makan setiap hari. Pemerintah Gaza menuduh kondisi tersebut sebagai bentuk "kebijakan kelaparan sistematis" yang terutama berdampak pada perempuan dan anak-anak.

Kerugian Capai Rp1.300 Triliun

Pemerintah Gaza memperkirakan kerugian ekonomi langsung akibat perang mencapai sekitar US$80 miliar atau lebih dari Rp 1.360 triliun (kurs Rp 17.000 per dolar AS).

Baca juga: Daging Dam Jamaah Haji Indonesia Disalurkan ke Palestina untuk Warga Gaza, Dikirim via Mesir

Dana besar dibutuhkan untuk membangun kembali lebih dari 500 sekolah dan universitas, lebih dari 1.000 masjid, tiga gereja, serta jaringan jalan, air bersih, sanitasi, dan infrastruktur publik lainnya yang hancur.

Dalam laporan statistik terbaru, pemerintah Gaza juga mengklaim Israel kini menguasai lebih dari 80 persen wilayah Jalur Gaza dan telah menjatuhkan lebih dari 223 ribu ton bahan peledak selama konflik berlangsung.

Save the Children: 21.000 Anak Dipastikan Tewas

Sementara itu, organisasi kemanusiaan Save the Children menyatakan sedikitnya 21.000 anak telah dipastikan tewas selama perang. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah karena banyak korban yang diyakini masih tertimbun reruntuhan bangunan.

Organisasi tersebut juga menyebut sekitar 800.000 anak telah mengungsi, sedangkan 625.000 anak usia sekolahkehilangan hampir tiga tahun pendidikan formal akibat perang.

Direktur Regional Save the Children untuk Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa Timur, Ahmad Ahendawi, mengatakan dunia telah gagal melindungi anak-anak Gaza.

"Selama 1.000 hari terakhir, dunia telah gagal melindungi satu juta anak di Gaza dengan tidak menghentikan pembunuhan dan luka-luka yang mereka alami," ujarnya.

Sejumlah anak yang diwawancarai Save the Children mengaku hidup dalam ketakutan setiap hari dan berharap perang segera berakhir agar mereka bisa kembali bersekolah dan menjalani kehidupan normal.

Save the Children mendesak diberlakukannya gencatan senjata permanen, perlindungan terhadap anak-anak, serta akuntabilitas atas dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional.

Di sisi lain, Israel menolak tuduhan melakukan genosida di Gaza. Pemerintah Israel menyatakan operasi militernya ditujukan untuk melawan Hamas setelah serangan kelompok tersebut pada Oktober 2023. Israel juga menyebut telah berupaya meminimalkan korban sipil dan menuduh Hamas beroperasi dari kawasan sipil.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Aktual
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Aktual
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Aktual
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Doa dan Niat
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
Aktual
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Aktual
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar