Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Muktamar NU, Ulama dan Pesantren di Jabar Berharap Lahir Pemimpin yang Bertakwa

Kompas.com, 7 Juli 2026, 21:28 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), kalangan ulama, pesantren, dan pengurus PCNU se-Jawa Barat menyampaikan harapan agar forum tertinggi organisasi itu melahirkan kepemimpinan yang membawa NU tetap berada di jalur perjuangannya.

Harapan tersebut disampaikan dalam kegiatan istighosah, doa bersama, dan Musyawarah Ulama NU Jawa Barat yang digelar di Pesantren Sirna Miskin, Kota Bandung, Senin (6/7/2026).

Mereka berharap Muktamar NU berjalan lancar sekaligus menghasilkan pemimpin yang bertakwa kepada Allah SWT, memahami tujuan berdirinya organisasi, dan tidak mengulangi kesalahan pada kepengurusan sebelumnya.

Baca juga: Jelang Muktamar Ke-35,Tokoh Muda NU Sebut Rais Aam Harus Jaga Organisasi dari Politik Praktis

Menurut para ulama, kepemimpinan NU ke depan harus tetap berakar pada tradisi pesantren serta mampu menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi fondasi organisasi.

Ulama Jabar Gelar Istighosah Jelang Muktamar NU

Istighosah, doa bersama, dan Musyawarah Ulama NU Jawa Barat sebagai ikhtiar bersama agar muktamar berlangsung lancar dan menghasilkan pemimpin yang mampu membawa NU sesuai cita-cita para pendirinya.

Baca juga: Peluang Cirebon Jadi Lokasi Muktamar NU ke-35 Menguat, Pesantren Buntet Dinilai Penuhi Syarat

Dilansir dari TribunJabar.id, Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), KH Asep Saifuddin Chalim, mengatakan doa bersama digelar untuk memohon kelancaran pelaksanaan muktamar.

"Mudah-mudahan Muktamar Nahdlatul Ulama ini bisa berjalan dengan lancar, menghasilkan pemimpin-pemimpin yang bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jangan sampai kita terjerembab ke dalam sebuah lubang sampai dua kali," ujar KH Asep.

KH Asep mengingatkan pentingnya menjadikan pengalaman masa lalu sebagai bahan evaluasi dalam menentukan arah organisasi ke depan.

Menurutnya, seorang mukmin tidak seharusnya mengulangi kesalahan yang sama.

Karena itu, kepemimpinan NU ke depan harus lahir dari proses pembelajaran dan kehati-hatian agar organisasi tetap berjalan sesuai tujuan yang telah digariskan para pendirinya.

NU Harus Tetap Berakar pada Tradisi Pesantren

KH Asep menilai NU memegang peran penting sebagai penyangga kehidupan berbangsa karena sejak awal didirikan untuk menjaga paham Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, inklusif, dan mampu memperkuat persatuan bangsa.

Selain menjaga ajaran tersebut, kata dia, NU juga memiliki tanggung jawab meneruskan cita-cita kemerdekaan dengan menghadirkan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat.

Menurut KH Asep, Indonesia akan menjadi negara maju, adil, dan makmur apabila ditopang ulama dan ilmuwan yang menjadi rujukan masyarakat, birokrat yang berpihak kepada rakyat, pengusaha yang dermawan, serta tenaga profesional yang berkualitas dan bertanggung jawab.

"Pesantren menjadi kunci dalam melahirkan sumber daya manusia tersebut. Karena itu, pesantren harus tetap menjadi pusat pengkaderan NU sekaligus mencetak generasi yang mandiri dan mampu berkontribusi bagi bangsa," katanya.

Harapan agar Muktamar Bisa Memilih Pemimpin yang Pahami Sejarah NU

KH Asep juga mengingatkan agar NU tetap berakar pada tradisi pesantren.

Menurutnya, organisasi yang lahir dari pesantren harus dipimpin oleh figur yang memahami sejarah, nilai, dan tujuan berdirinya Nahdlatul Ulama.

"Semoga berhasil memilih pemimpin-pemimpin yang memahami tentang tujuan bagaimana ber-NU, memahami tentang bagaimana NU dulu didirikan dan sekarang harus bagaimana," katanya.

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul “Musyawarah Ulama Jawa Barat Harapkan Pemimpin Bertakwa pada Muktamar NU”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar