Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Al-Kanud: Mengapa Manusia Sering Ingkari Nikmat Tuhan?

Kompas.com, 14 Juli 2026, 20:09 WIB
Fitri Anggiawati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Pernahkah Anda melewati satu hari yang terasa begitu buruk?

Ban motor bocor di tengah jalan, berkas kerjaan mendadak hilang, atau rencana liburan yang batal begitu saja.

Di hari-hari seperti itu, rasanya dunia begitu tidak adil.

Kalimat 'Mengapa harus aku yang kena musibah ini?' begitu mudah meluncur dari bibir kita.

Namun, sadarkah kita?

Di balik satu hari yang dianggap runyam itu, ada ratusan hari sebelumnya di mana kita bangun dengan tubuh sehat, bernapas tanpa alat bantu, dan makan tanpa rasa khawatir.

Kecenderungan manusia untuk fokus pada satu noda hitam di atas selembar kertas putih bersih ini bukanlah hal baru.

Lebih dari 14 abad yang lalu, Al-Qur'an sudah memotret fenomena psikologis dan spiritual ini dengan sangat presisi dalam Surah Al-Adiyat ayat 6: إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

“Sesungguhnya manusia benar-benar sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al-Adiyat: 6)

Baca juga: Istidraj: Banyak Nikmat Tetapi Tidak Menambah Taat

Di dalam ayat ini, Allah menggunakan sebuah istilah yang sangat spesifik untuk menggambarkan tabiat buruk manusia tersebut: Al-Kanud. Secara bahasa, al-kanud diartikan sebagai orang yang sangat kufur dan mengingkari nikmat-nikmat Allah.

Namun, jika kita menyelami tafsir para ulama terdahulu, makna al-kanud ternyata memiliki beberapa dimensi yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari kita:

  • Si Penghitung Musibah: Ia adalah orang yang memiliki 'ingatan super' terhadap setiap kesulitan yang menimpanya, namun mengalami 'amnesia instan' terhadap tumpukan nikmat yang telah ia terima sepanjang hidupnya.
  • Fokus pada materi, abai pada Ilahi: Ia adalah orang yang menikmati fasilitas dunia yaitu kesehatan, harta, hingga jabatan, namun hatinya tidak pernah terhubung dengan Allah sebagai Sang Pemberi Nikmat (Al-Mun'im). Baginya, keberhasilan adalah murni hasil kerja kerasnya sendiri.
  • Kikir dan Enggan Berbagi: Karena selalu merasa kurang dan tidak puas, sifat al-kanud melahirkan kebakhilan. Ia enggan mengulurkan tangan untuk membantu sesama karena takut kehilangan apa yang ia miliki.

 Sifat ini sering kali menyusup tanpa kita sadari. Ia tidak selalu berwujud kemaksiatan terang-terangan, melainkan berupa keluhan-keluhan kecil yang terus kita pelihara setiap hari.

Membahas fenomena ini, Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin, memberikan catatan spiritual yang mendalam tentang bagaimana sifat ini merusak jiwa seorang hamba.

"Sifat al-kanud ini adalah bentuk kebutaan spiritual yang sangat halus. Betapa sering kita mendadak amnesia pada ribuan nikmat yang Allah kucurkan tanpa jeda setiap detiknya, hanya karena kita sedang diuji dengan satu atau dua cobaan yang mampir sebentar," kata Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin.

Menurutnya, umat seringkali menikmati pemberian-Nya, tetapi mengabaikan kehadiran Sang Pemberi Nikmat di dalam hati. Pada akhirnya, sikap ini menutup pintu empati, membuat seseorang menjadi bakhil dan enggan berbagi kebaikan kepada sesama karena ia selalu merasa dirinya adalah orang yang paling kekurangan di dunia ini.

Lalu, bagaimana kita menyembuhkan diri dari penyakit al-kanud ini? Langkah pertamanya adalah dengan melatih perspektif. Setiap kali kita tergoda untuk mengeluh atas suatu kesulitan, paksa diri kita untuk menuliskan atau mengingat minimal lima hal baik yang masih kita miliki hari itu.

Baca juga: Perbaiki Hidup dengan Memperbaiki Shalat agar Hidup Menjadi Nikmat

Ketika kita mulai memandang hidup dengan kacamata syukur, musibah yang tadinya terasa sebesar gunung perlahan akan menyusut, sementara nikmat yang tadinya tak terlihat akan tampak membentang luas layaknya samudra.

"Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa sedikit masalah yang kita hadapi, melainkan tentang seberapa sering kita menyadari kebaikan Allah yang selalu membersamai di setiap hela napas kita," tandasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar