Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mantan Presiden Singapura Kagumi Terowongan Istiqlal, Buka Harmony in Diversity Award Perdana di Jakarta

Kompas.com, 16 Juli 2026, 07:58 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Mantan Presiden Singapura, Madam Halimah Yacob, secara resmi membuka ajang Harmony in Diversity Award perdana di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti pentingnya menjaga harmoni di tengah keberagaman, sembari mengapresiasi Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta sebagai simbol nyata persatuan.

Sebelum menghadiri pembukaan acara, Madam Halimah mengunjungi Terowongan Silaturahmi yang selama ini menjadi ikon kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Menurutnya, terowongan tersebut bukan sekadar infrastruktur, melainkan representasi komitmen untuk memperkuat saling pengertian dan hidup berdampingan secara damai.

"Harmoni bukanlah sesuatu yang dapat kita anggap akan selalu ada. Setiap generasi harus secara sadar berupaya memelihara dan memperkuatnya," ujar Halimah dalam keterangan tertulis, Kamis (16/7/2026).

Baca juga: Kunjungi Istiqlal, Australia Belajar Dialog Lintas Agama di Indonesia

Ia mengatakan, kunjungan ke Terowongan Silaturahmi memberikan inspirasi bahwa harmoni dibangun melalui pilihan-pilihan yang disengaja, seperti saling menyapa, mendengarkan, menghormati, dan membangun hubungan di tengah berbagai perbedaan.

Menurut Halimah, pesan tersebut semakin relevan di tengah dunia yang kini semakin terhubung, namun juga menghadapi polarisasi yang kian kuat.

"Selama beberapa generasi, masyarakat kita telah menunjukkan bahwa hidup berdampingan dengan saling menghormati tetap memungkinkan, tanpa harus mengorbankan identitas masing-masing. Kita memahami bahwa harmoni adalah kemampuan untuk menghormati perbedaan sekaligus menyadari bahwa kita memiliki kemanusiaan yang sama," katanya di hadapan para pemimpin kawasan, tokoh lintas agama, filantropi, pelaku usaha, dan perwakilan masyarakat sipil.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut penyelenggaraan Harmony in Diversity Award sebagai inisiatif regional yang tidak hanya memberikan penghargaan kepada individu, tetapi juga menegaskan kembali pentingnya nilai-nilai kemanusiaan sebagai perekat masyarakat Asia Tenggara yang majemuk.

Menurut Menag, penghargaan perdana tersebut layak diberikan kepada Cardinal Orlando Beltran Quevedo OMI, Archbishop Emeritus of Cotabato, atas dedikasinya selama puluhan tahun membangun perdamaian, rekonsiliasi, dan dialog antaragama di Mindanao, Filipina.

"Semoga penghargaan ini menjadi inspirasi bagi semakin banyak individu dan komunitas di Asia Tenggara untuk memperkuat dialog, saling pengertian, dan harmoni," ujar Nasaruddin.

Pada kesempatan yang sama, Executive Director and Chief Executive Officer Temasek Foundation, Ng Boon Heong, mengatakan Harmony in Diversity Award dirancang sebagai platform regional yang berkelanjutan untuk memberikan apresiasi sekaligus mendukung para tokoh yang membangun jembatan antarkomunitas di Asia Tenggara.

Ia menilai Terowongan Silaturahmi mencerminkan semangat utama penghargaan tersebut.

"Terowongan itu lebih dari sekadar sebuah landmark. Terowongan itu merepresentasikan tujuan kami hari ini. Meskipun kami berasal dari agama, budaya, dan komunitas yang berbeda, kemanusiaan kita bersama adalah jembatan yang menghubungkan semua," katanya.

Baca juga: Australia Pelajari Dialog Lintas Agama di Masjid Istiqlal, Puji Toleransi dan Islam Moderat di Indonesia

Sementara itu, Pendiri 5P Global Movement, M Arsjad Rasjid PM, mengatakan penghargaan ini bukan hanya diberikan kepada satu tokoh, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada banyak individu di Asia Tenggara yang setiap hari membangun rasa saling percaya, memperkuat dialog, dan merawat harmoni melalui tindakan-tindakan sederhana.

"Kami berharap Harmony in Diversity Award dapat menginspirasi semakin banyak individu, organisasi, dan institusi untuk terus mendorong dialog dan saling pengertian di seluruh kawasan," ujar Arsjad.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Cara Taubat agar Diterima Allah SWT, Ini 3 Syarat Taubatan Nasuha
Cara Taubat agar Diterima Allah SWT, Ini 3 Syarat Taubatan Nasuha
Aktual
Bedah Kitab Nashaihul Ibad, Ketua MUI Bidang Fatwa Ingatkan Pentingnya Adab Sebelum Ilmu
Bedah Kitab Nashaihul Ibad, Ketua MUI Bidang Fatwa Ingatkan Pentingnya Adab Sebelum Ilmu
Aktual
Cholil Nafis: Berbuat Baik Harus karena Allah, Bukan Berharap Balasan Manusia
Cholil Nafis: Berbuat Baik Harus karena Allah, Bukan Berharap Balasan Manusia
Aktual
Delegasi Brasil Usulkan Jakarta Jadi Pusat Global Imam Perdamaian, Sekretariat di Masjid Istiqlal
Delegasi Brasil Usulkan Jakarta Jadi Pusat Global Imam Perdamaian, Sekretariat di Masjid Istiqlal
Aktual
Imam Masjid Al-Aqsa: Tugas Imam Tak Berhenti pada Memimpin Shalat
Imam Masjid Al-Aqsa: Tugas Imam Tak Berhenti pada Memimpin Shalat
Aktual
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar