Editor
KOMPAS.com - Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis mengingatkan umat Islam agar meluruskan niat ketika berbuat baik kepada sesama.
Menurutnya, kebaikan seharusnya dilakukan karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, bukan karena berharap balasan dari manusia.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Cholil dalam ceramah pada pengajian rutin Sabtu Mujahadah yang mengkaji Kitab Maudzotul Mu'minin di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2026).
Baca juga: 3 Cara Berbuat Baik Kepada Orang tua untuk Hidup Lebih Berkah
Dilansir dari laman MUI, dalam tausiyahnya, Kiai Cholil menyoroti kebiasaan sebagian orang yang berhenti atau enggan berbuat baik setelah kebaikannya dibalas dengan pengkhianatan atau perlakuan yang tidak menyenangkan.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat terjadi ketika seseorang masih menjadikan perlakuan orang lain sebagai dasar dalam melakukan kebaikan.
Baca juga: Islam Ajarkan Jangan Menunggu Sempurna untuk Berbuat Baik
"Seringkali kita ini mau berbuat baik pada orang menunggu orang itu berbuat baik sama kita. Atau akan terus berbuat baik kepada siapa pun kalau orang itu membalas kebaikan kita. Itu berarti berbuat baik karena orang," ujar Kiai Cholil.
Ulama kelahiran Madura pada 1 Juni 1975 ini menjelaskan, kebiasaan berbuat baik dengan syarat mendapat balasan dapat membuat seseorang mudah kecewa dan putus asa.
Banyak orang, kata dia, merasa lelah membantu sesama ketika orang yang dibantu justru memberikan perlakuan yang mengecewakan.
Kiai Cholil menerangkan, perlakuan buruk dari orang lain sejatinya dapat menjadi ujian untuk mengukur ketulusan iman seseorang. Karena itu, umat Islam diingatkan untuk tidak menjadikan respons manusia sebagai alasan untuk berhenti melakukan kebaikan.
"Ini banyak sekali orang menjadi kapok. 'Kapok saya berbuat baik sama orang, orang yang dibaikin mengkhianati terus sama saya.' Nah, itu cobaannya. Tapi kepada orang lain, jangan berhenti berbuat baik. Mengapa? Karena kita berbuat baik itu bukan karena dia, tapi karena perintah dari Allah," kata dia mengingatkan.
Lebih lanjut, Kiai Cholil menjelaskan bahwa memiliki tetangga atau lingkungan pergaulan yang kurang baik merupakan bagian dari tantangan hidup. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi sarana untuk menggembleng kualitas akhlak manusia.
“Meski begitu, berbuat baik bukan berarti seseorang harus bersikap pasrah tanpa ketegasan,” tutur dia.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah itu memaparkan bahwa memberikan teguran, peringatan, atau sanksi kepada orang yang melakukan kesalahan tetap diperbolehkan dalam Islam.
Namun, tindakan tersebut harus dilakukan bukan karena dendam, melainkan dengan niat mendidik melalui konsep al-mawāni' wa al-zawājir. Tujuannya agar perbuatan buruk dapat dihentikan dan tidak mendorong orang lain melakukan hal serupa.
"Orang memberi sanksi itu bukan dendam, tapi tujuannya al-mawāni' wa al-zawājir, biar orang berhenti berbuat buruk dan orang lain tidak berbuat buruk karena ada sanksinya. Kalau tidak baik sama dia, itu pelajaran. Bukan karena benci, tapi pelajaran biar dia berubah," tambahnya.
Kiai Cholil kemudian mengajak jamaah untuk terus melatih diri dan melakukan mujahadah agar kebaikan menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, ketika kondisi jiwa seseorang sehat dan niatnya benar-benar ditujukan kepada Allah SWT, memberi serta menolong sesama tidak lagi terasa sebagai beban.
Sebaliknya, perbuatan tersebut dapat menjadi kenikmatan batin yang dirasakan seseorang ketika menjalankannya dengan niat yang tulus.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.