Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kiai Sepuh Ingatkan Muktamar NU Bebas Intervensi, Minta Prabowo Tindak Pejabat yang Tak Patut

Kompas.com, 27 Agustus 2026, 06:52 WIB
Reni Susanti

Editor


KEDIRI, KOMPAS.com — Para kiai sepuh mengingatkan seluruh peserta Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) atau muktamirin untuk menjaga marwah dan kehormatan jam'iyyah.

Muktamirin juga diminta menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab serta tidak terpengaruh tekanan, provokasi, maupun upaya pengondisian selama proses muktamar.

Pesan tersebut disampaikan dalam pertemuan para kiai sepuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026).

Baca juga: Muktamar ke-35 NU Pakai Teknologi Canggih, 100 CCTV hingga AI Terhubung WhatsApp

Sejumlah kiai sepuh hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH 'Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu'adz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Muhibbul Aman Aly, dan KH Nurul Yaqin Ishaq.

Ma'ruf Amin mengatakan, tausiyah para kiai sepuh ditujukan kepada seluruh muktamirin tanpa terkecuali.

Menurut dia, muktamirin memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan kepemimpinan NU ke depan. Karena itu, hak tersebut harus digunakan secara bijak.

"Tausiah ini artinya untuk mengingatkan, pertama, kepada para muktamirin sebagai pemegang hak utama supaya dia menggunakan haknya dengan baik, jangan terintimidasi dengan terkena provokasi, memilih yang terbaik, baik AHWA maupun juga pengurus NU yang akan datang," kata Ma'ruf dikutip dari NU Online.

Ia menekankan, pemilihan pemimpin harus mempertimbangkan kemaslahatan jam'iyyah, bukan kepentingan pribadi maupun kelompok.

Baca juga: Jelang Muktamar di Jombang, Gus Yahya: Sebenarnya NU Itu Apa?

Muktamirin, kata dia, harus memilih sosok yang dinilai paling mampu membawa NU ke arah yang lebih baik.

Ma'ruf juga mengingatkan konsekuensi moral apabila seseorang sengaja memilih pemimpin yang dinilai tidak baik, padahal mengetahui ada calon yang lebih baik.

"Jadi khianat kepada Nabi, khianat kepada pendiri (NU). Apalagi kalau memilihnya itu ada sesuatu, maka dosanya menjadi bertambah," ujarnya setelah mengutip sebuah hadis.

Menurut Ma'ruf, pesan tersebut merupakan bagian dari upaya para kiai sepuh menjaga agar Muktamar NU berlangsung sesuai nilai-nilai keulamaan, akhlakul karimah, dan kepentingan jam'iyyah.

Tujuh Pesan Kiai Sepuh

Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut menghasilkan tujuh poin tausiyah. Pesan itu ditujukan kepada muktamirin, pemerintah, hingga Presiden Prabowo Subianto.

Tausiyah dibacakan KH Muhibbul Aman Aly.

Pertama, para kiai mengingatkan bahwa NU merupakan jam'iyyah diniyyah ijtima'iyah yang menjunjung tinggi adab dan akhlakul karimah serta berpegang teguh pada khittah nahdliyyah.

Karena itu, muktamirin diminta menjaga keluhuran misi, marwah, dan kehormatan jam'iyyah serta menjauhkan muktamar dari tindakan yang bertentangan dengan akhlakul karimah.

Kedua, muktamar harus menjadi forum permusyawaratan para kiai, ulama, dan pemegang amanah jam'iyyah. Proses musyawarah diminta dilakukan dengan akal sehat, hati jernih, dan akhlak mulia.

Muktamirin juga diminta memilih pemimpin terbaik, mengutamakan kemaslahatan jam'iyyah, memperkuat persatuan, serta menghindari pertikaian.

Minta Proses AHWA Bebas Transaksi dan Tekanan

Ketiga, para kiai menegaskan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) merupakan maqam keulamaan yang kehormatan dan martabatnya harus dijaga.

Karena itu, proses penentuan AHWA diminta tidak dinodai transaksi, tekanan, rekayasa, ataupun cara-cara tidak terpuji yang dapat mencederai kemuliaan ulama.

Keempat, para kiai menegaskan muktamirin merupakan pemegang kedaulatan dalam muktamar.

Hak dan kemerdekaan muktamirin harus dihormati. Tidak boleh ada pengondisian, tekanan, manipulasi, ataupun rekayasa yang mengurangi kebebasan peserta dalam menyampaikan pendapat dan menentukan pilihan.

Serukan Pemerintah Tak Intervensi Muktamar

Kelima, para kiai menyerukan kepada pemerintah, kekuatan politik, dan seluruh pihak di luar jam'iyyah untuk menghormati kemandirian NU serta kedaulatan muktamar.

Mereka meminta semua pihak menghindari tindakan yang dapat dipersepsikan sebagai tekanan, pengondisian, maupun intervensi terhadap proses dan keputusan muktamar.

Keenam, para kiai menyampaikan kepercayaan kepada Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah tetap berada pada posisi menghormati kemandirian NU.

Apabila terdapat menteri atau pejabat lain yang melakukan tindakan tidak patut dan dapat dinilai sebagai intervensi terhadap muktamar, para kiai berharap Presiden mengambil tindakan tegas.

"Kami siap menghadap Bapak Presiden untuk menyampaikan secara langsung informasi dan hal-hal yang menjadi keprihatinan kami demi menjaga kehormatan pemerintah, kemandirian Nahdlatul Ulama dan kedaulatan NU," demikian salah satu poin tausiyah tersebut.

Terakhir, para kiai menyerukan kepada pihak-pihak yang dinilai mengacaukan proses muktamar untuk segera menghentikan tindakannya.

"Orang yang baik adalah orang yang menyadari kesalahannya dan tidak melanjutkan tindakan yang tidak terpuji itu. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa menjaga, melindungi dan membimbing Nahdlatul Ulama," demikian penutup tausiyah tersebut.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Baca tentang


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar