KOMPAS.com - Hubungan dengan tetangga mendapat perhatian besar dalam ajaran Islam.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kualitas keimanan seseorang tidak hanya terlihat dari ibadahnya kepada Allah, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang yang tinggal di sekitarnya.
Karena itu, bertetangga bukan sekadar hidup berdampingan, melainkan membangun hubungan yang dipenuhi rasa hormat, kepedulian, dan saling menjaga.
Baca juga: 4 Adab Utama saat Berdoa, Apakah Mengusap Wajah Setelah Selesai Wajib Dilakukan?
Islam bahkan menetapkan hak-hak tetangga yang perlu dipenuhi agar tercipta kehidupan masyarakat yang harmonis.
Mulai dari menjaga lisan, membantu ketika membutuhkan, hingga menghormati privasi menjadi bagian dari akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
Mā zāla Jibrīlu yūṣīnī bil-jāri ḥattā ẓanantu annahu sayuwarrithuh
Artinya: “Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku tentang tetangga hingga aku mengira tetangga akan mendapat hak waris.”
Hadis ini menunjukkan betapa besar kedudukan tetangga dalam Islam. Meski akhirnya tetangga tidak memperoleh hak waris, banyaknya pesan Jibril menegaskan bahwa hubungan bertetangga memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi.
Baca juga: Adab Bertamu dalam Islam: Etika Meminta Izin hingga Mengucapkan Salam
Para ulama menjelaskan bahwa wasiat Jibril tersebut menunjukkan pentingnya menjaga hak orang-orang yang hidup paling dekat dengan kita.
Sebab, tetanggalah yang pertama mengetahui keadaan seseorang ketika sakit, mengalami musibah, maupun membutuhkan pertolongan.
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menerangkan bahwa berbuat baik kepada tetangga termasuk bagian dari akhlak mulia yang menjadi ciri orang beriman.
Karena itu, seorang Muslim dianjurkan memuliakan tetangganya tanpa membedakan status sosial maupun latar belakangnya.
Hak paling mendasar adalah tidak mengganggu atau menyakiti tetangga, baik melalui ucapan, tindakan, maupun sikap yang merugikan.
Rasulullah SAW bersabda:
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ... الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Wallāhi lā yu'min... alladzī lā ya'manu jāruhu bawā'iqah
Artinya: “Demi Allah, tidak beriman… orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR Bukhari)
Gangguan tersebut dapat berupa kebisingan berlebihan, membuang sampah sembarangan, merusak fasilitas bersama, hingga perkataan yang menyakiti hati tetangga.
Dalam konteks sekarang, gangguan juga bisa berupa parkir sembarangan yang menghalangi akses rumah orang lain atau memutar musik dengan volume yang mengganggu waktu istirahat.
Hadis ini tidak berarti seseorang keluar dari Islam, tetapi menjadi peringatan keras bahwa menyakiti tetangga bertentangan dengan kesempurnaan iman.
Semakin aman seseorang dari gangguan kita, semakin baik pula kualitas akhlak yang ditunjukkan.
Islam juga menganjurkan umatnya berbagi kebaikan kepada tetangga. Bentuknya tidak selalu berupa bantuan besar, tetapi bisa melalui makanan, perhatian saat sakit, atau membantu ketika mengalami kesulitan.
Dalam riwayat Bukhari, Rasulullah pernah berpesan agar seseorang tidak meremehkan pemberian kepada tetangganya meskipun hanya sedikit.
Hal itu menunjukkan bahwa nilai sebuah pemberian terletak pada kepedulian, bukan semata-mata jumlahnya.
Budaya saling membantu inilah yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Muslim sejak masa Rasulullah SAW.
Ketika tetangga mengalami musibah, kehilangan anggota keluarga, atau kesulitan ekonomi, Islam mendorong umatnya hadir memberikan dukungan sesuai kemampuan.
Sikap tersebut juga memperkuat ukhuwah sosial. Masyarakat yang saling mengenal dan saling menolong akan lebih mudah membangun lingkungan yang aman serta penuh rasa percaya.
Tetangga dalam Islam tidak terbatas pada sesama Muslim. Para ulama menjelaskan bahwa setiap orang yang tinggal berdekatan memiliki hak untuk dihormati, dijaga keselamatannya, dan diperlakukan dengan baik.
Karena itu, seorang Muslim tetap dianjurkan bersikap santun kepada tetangga yang berbeda agama, suku, maupun latar belakang budaya. Sikap tersebut sejalan dengan ajaran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Menghormati perbedaan juga berarti menjaga ucapan, menghargai privasi, tidak mencampuri urusan pribadi tanpa izin, serta tidak menyebarkan aib tetangga kepada orang lain.
Akhlak yang baik menjadi jembatan terciptanya kerukunan dalam masyarakat yang majemuk.
Di lingkungan perkotaan, hubungan dengan tetangga sering kali menjadi lebih renggang.
Padahal, nilai-nilai bertetangga tetap relevan, seperti menyapa ketika bertemu, menjaga kebersihan lingkungan, menghormati waktu istirahat, dan ikut menjaga keamanan bersama.
Media sosial juga menghadirkan tantangan baru. Menjaga nama baik tetangga, tidak mengunggah informasi pribadi tanpa izin, serta menghindari prasangka menjadi bagian dari adab yang perlu diterapkan di ruang digital maupun kehidupan nyata.
Al-Quran turut mengingatkan pentingnya berbuat baik kepada tetangga dalam Surah An-Nisa ayat 36.
وَاعۡبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشۡرِكُوۡا بِهٖ شَيۡــًٔـا ؕ وَّبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا وَّبِذِى الۡقُرۡبٰى وَالۡيَتٰمٰى وَ الۡمَسٰكِيۡنِ وَالۡجَـارِ ذِى الۡقُرۡبٰى وَالۡجَـارِ الۡجُـنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالۡجَـنۡۢبِ وَابۡنِ السَّبِيۡلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنۡ كَانَ مُخۡتَالًا فَخُوۡرَا ۙ
Artinya: Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabīl dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.
Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk menyembah-Nya dan berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, serta sesama manusia.
Ayat ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap tetangga merupakan bagian dari ibadah sosial yang tidak dapat dipisahkan dari ketakwaan.
Pada akhirnya, bertetangga adalah wujud nyata akhlak Islam. Semakin baik seseorang menjaga hak tetangganya, semakin kuat pula hubungan sosial yang dibangun di tengah masyarakat.
Itulah sebabnya Rasulullah SAW menjadikan kepedulian terhadap tetangga sebagai salah satu ukuran kesempurnaan iman seorang Muslim.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.