Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Khutbah Jumat 11 September 2026: Pandangan Islam Terkait Pelestarian Lingkungan

Kompas.com, 10 September 2026, 20:18 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Berikut adalah teks Khutbah Jumat tentang pandangan Islam terkait pelestarian lingkungan, seperti dilansir dari laman Muhammadiyah.

Baca juga: Khutbah Jumat: Berbaik Sangka kepada Allah saat Menghadapi Ujian

Khutbah I

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan tidak hanya tampak ketika kita berdiri dalam salat, berpuasa, berzikir, atau membaca Al-Qur’an. Ketakwaan juga harus tercermin dalam cara kita memperlakukan sesama manusia dan memperlakukan alam yang telah Allah amanahkan kepada kita.

Salah satu persoalan besar yang kita hadapi hari ini adalah persoalan lingkungan hidup. Kita menyaksikan pencemaran udara dan air, tumpukan sampah, kerusakan hutan, kebakaran hutan dan lahan, berkurangnya daerah resapan air, banjir, longsor, kekeringan, serta berbagai persoalan ekologis lainnya.

Indonesia memang merupakan wilayah yang secara alamiah memiliki risiko bencana geologis seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi. Bencana-bencana tersebut tidak serta-merta disebabkan oleh kerusakan lingkungan. Namun, pada banyak bencana lain, terutama banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan, dan krisis air, perilaku manusia dan buruknya pengelolaan lingkungan dapat memperbesar risiko dan dampak yang ditimbulkannya.

Karena itu, persoalan lingkungan tidak boleh kita anggap sebagai urusan pemerintah, aktivis lingkungan, atau para ahli semata. Menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia dan sebagai seorang muslim.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Perhatian Al-Qur’an terhadap bumi sangatlah besar. Kata al-ardh yang berarti bumi disebut ratusan kali di dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa bumi merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia dan dalam pelaksanaan amanah dari Allah Swt.

Allah dengan tegas melarang manusia melakukan kerusakan di muka bumi. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوا فِى الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Al-A’raf: 56).

Ayat ini memberikan pesan yang sangat jelas. Allah menciptakan alam dengan tatanan dan keseimbangannya. Manusia diberi hak untuk memanfaatkan bumi, tetapi tidak diberi kebebasan untuk merusaknya.

Karena itu, mengambil manfaat dari alam harus selalu disertai tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya.

Allah Swt. juga mengingatkan dalam Surah Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS Ar-Rum: 41).

Ayat ini menjadi peringatan bahwa manusia dapat menjadi penyebab rusaknya keseimbangan kehidupan.

Ketika sungai dipenuhi sampah, air kehilangan ruang untuk mengalir.

Ketika daerah resapan berubah tanpa kendali, kemampuan tanah menyimpan air berkurang.

Ketika hutan dibuka tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekosistem, tanah kehilangan salah satu pelindungnya.

Ketika rawa dan gambut dikeringkan secara berlebihan, risiko kebakaran dan kerusakan lingkungan dapat meningkat.

Pada akhirnya, manusia sendiri yang harus menanggung akibat dari pilihan-pilihan tersebut.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Islam sesungguhnya menempatkan hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari akhlak.

Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Akhlak dalam Islam memiliki makna yang luas. Akhlak tidak hanya mengatur hubungan baik antara manusia dengan manusia. Akhlak juga menyangkut hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan sesama makhluk, serta dengan alam sekitarnya.

Seorang muslim tidak sepantasnya rajin beribadah, tetapi pada saat yang sama membuang sampah sembarangan.

Tidak sepantasnya seseorang berbicara tentang kesalehan, tetapi menggunakan air dan energi secara berlebihan.

Tidak selayaknya kita mengaku sebagai khalifah di muka bumi, tetapi membiarkan alam dieksploitasi tanpa batas.

Kesalehan kita semestinya meninggalkan jejak kebaikan, bukan kerusakan.

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Bagi warga Muhammadiyah, tanggung jawab terhadap lingkungan bahkan telah dirumuskan dalam Pedoman Hidup Islami warga Muhammadiyah atau PHIWM, yang ditetapkan pada Muktamar Muhammadiyah ke-44 tahun 2000 di Jakarta.

Dalam tuntunan kehidupan melestarikan lingkungan, terdapat sejumlah prinsip penting yang patut kita renungkan.

Pertama, lingkungan hidup sebagai alam sekitar dengan segala isi yang terkandung di dalamnya merupakan ciptaan dan anugerah Allah yang harus diolah/dimakmurkan, dipelihara, dan tidak boleh dirusak.

Kedua, setiap muslim, khususnya warga Muhammadiyah, berkewajiban melakukan konservasi terhadap sumber daya alam dan ekosistemnya, sehingga terpelihara proses ekologis yang menjadi penyangga kelangsungan hidup, terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan berbagai tipe ekosistemnya dan terkendalinya cara-cara pengelolaan sumber daya alam. Sehingga terpelihara kelangsungan dan kelestariannya demi keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kelangsungan hidup manusia dan keseimbangan sistem kehidupan di alam raya ini.

Ketiga, setiap muslim khususnya warga Muhammadiyah, dilarang melakukan usaha-usaha dan tindakan yang menyebabkan kerusakan lingkungan alam, termasuk kehidupan hayati seperti binatang, pepohonan, maupun lingkungan fisik dan biotik termasuk air laut, udara, sungai, dan sebagainya yang menyebabkan hilangnya keseimbangan ekosistem dan timbulnya bencana dalam kehidupan.

Keempat, memasyarakatkan dan mempraktikkan budaya bersih, sehat, dan indah lingkungan disertai kebersihan fisik dan jasmani yang menunjukkan keimanan dan kesalehan.

Kelima, melakukan tindakan-tindakan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam menghadapi kedlaliman, keserakahan, dan rekayasa serta kebijakan-kebijakan yang mengarah, mempengaruhi, dan menyebabkan kerusakan lingkungan dan tereksploitasinya sumber-sumber daya alam yang menimbulkan kehancuran, kerusakan, dan ketidakadilan dalam kehidupan.

Keenam, melakukan kerja sama dan aksi-aksi praksis dengan berbagai pihak baik, perseorangan, maupun kolektif untuk terpeliharanya keseimbangan, kelestarian, dan keselamatan lingkungan hidup, serta terhindarnya kerusakan-kerusakan lingkungan hidup sebagai wujud dari sikap pengabdian dan kekhalifahan dalam mengemban misi kehidupan di muka bumi ini untuk keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ketika membicarakan lingkungan, kita juga perlu membicarakan keseimbangan alam.

Allah menciptakan makhluk dengan fungsi dan perannya masing-masing. Tumbuhan, hewan, tanah, air, hutan, sungai, laut, bahkan makhluk-makhluk kecil yang kadang dianggap tidak berguna memiliki tempat dalam ekosistem kehidupan.

Ada sebuah pelajaran penting dalam sejarah.

Pada akhir tahun 1950-an, pernah dilakukan kampanye besar-besaran untuk memusnahkan burung pipit di Tiongkok karena burung tersebut dianggap memakan biji-bijian dan merugikan pertanian.

Burung-burung kemudian dibunuh dalam jumlah sangat besar.

Namun, setelah jumlah burung berkurang drastis, muncul persoalan baru. Serangga dan hama tanaman yang sebelumnya turut dimakan oleh burung berkembang lebih banyak. Tanaman pertanian justru semakin terganggu.

Peristiwa tersebut menjadi pelajaran bahwa menghilangkan satu unsur alam secara gegabah dapat menimbulkan akibat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Alam memiliki keterhubungan. Satu bagian rusak, bagian yang lain dapat ikut terkena dampaknya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Di negeri kita sendiri, pelajaran itu dapat kita lihat dengan mudah.

Bagaimana air hujan dapat mengalir dengan baik apabila saluran dan sungai dipenuhi sampah?

Bagaimana tanah mampu menyerap air secara optimal apabila ruang terbuka dan daerah resapan terus berkurang?

Bagaimana lereng dapat bertahan apabila pepohonan yang mengikat tanah hilang tanpa pengelolaan yang benar?

Bagaimana masyarakat dapat memperoleh air bersih apabila sungai menjadi tempat pembuangan limbah?

Persoalan-persoalan tersebut seharusnya mendorong kita untuk melakukan muhasabah.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan membutuhkan ikhtiar.

Apabila kita menginginkan lingkungan yang lebih baik, kita juga harus mengubah kebiasaan kita. Apabila kita ingin sungai bersih, jangan membuang sampah ke sungai.

Apabila kita ingin terhindar dari krisis air, jangan menggunakan air secara berlebihan.

Apabila kita ingin udara lebih sehat, kita harus mulai memperhatikan pola hidup dan penggunaan energi.

Apabila kita ingin hutan tetap lestari, maka pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan secara bertanggung jawab.

Dan apabila kita ingin risiko bencana berkurang, pembangunan harus mempertimbangkan kondisi alam, ilmu pengetahuan, dan keselamatan manusia.

Namun demikian, kita juga harus berhati-hati dalam memandang bencana.

Jangan mudah mengatakan bahwa setiap bencana merupakan hukuman Allah kepada masyarakat yang menjadi korban. Kita tidak memiliki pengetahuan untuk menentukan demikian.

Bencana dapat terjadi karena proses alam. Bencana juga dapat menjadi ujian kehidupan. Pada keadaan tertentu, dampaknya dapat diperparah oleh tindakan manusia.

Karena itu, ketika saudara-saudara kita tertimpa bencana, tugas kita bukan menghakimi mereka.

Tugas kita adalah menolong. Tugas kita adalah meringankan penderitaan. Tugas kita adalah memperbaiki keadaan. Dan tugas kita adalah belajar agar kerusakan dan penderitaan serupa dapat dikurangi pada masa yang akan datang. Inilah salah satu bentuk nyata dari iman dan kemanusiaan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Mudah-mudahan kita menjadi hamba-hamba Allah yang tidak hanya meninggalkan masjid dengan bertambahnya pahala, tetapi juga meninggalkan dunia ini dalam keadaan lebih baik daripada ketika kita menerimanya.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita kembali meneguhkan ketakwaan kepada Allah Swt. Bumi tempat kita berpijak adalah amanah. Air yang kita minum adalah amanah. Udara yang kita hirup adalah amanah.

Hutan, sungai, laut, tumbuhan, dan seluruh makhluk yang hidup bersama kita merupakan bagian dari ciptaan Allah yang harus kita perlakukan dengan penuh tanggung jawab.

Jangan sampai kita mewariskan kepada anak dan cucu kita bumi yang lebih rusak daripada yang kita terima.

Jangan sampai generasi setelah kita kesulitan memperoleh air karena hari ini kita boros menggunakannya.

Jangan sampai mereka menghirup udara yang semakin buruk karena hari ini kita tidak peduli.

Jangan sampai mereka mewarisi sungai yang penuh sampah, hutan yang gundul, serta tanah yang kehilangan kesuburannya akibat keserakahan generasi kita.

Menjaga lingkungan bukan sekadar agenda sosial. Menjaga lingkungan adalah amanah keagamaan. Menjaga lingkungan adalah bagian dari akhlak. Menjaga lingkungan adalah bagian dari tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

Karena itu, marilah kita mulai dari diri sendiri, keluarga, masjid, tempat kerja, dan lingkungan terdekat kita.

Semoga setiap ikhtiar kecil yang kita lakukan menjadi amal saleh dan menjadi bagian dari tanggung jawab kita kepada Allah Swt.

Marilah kita menutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah Swt.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ
اللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar